Zina Ala Tokoh Jil

Zina Ala Tokoh Jil..

Persoalan pergaulan antara lelaki dan perempuan, menurut adat ketimuran sendiri adalah hal tabu untuk dilakukan secara bebas dan serampangan. Artinya disana ada norma-norma tak tertulis yang berlaku dikalangan masyarakat.

Jika hal ini dilanggar, minimal orang akan menganggapnya sebagai orang yang tak beradab. Terlebih lagi jika dikaitkan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam agama Islam. Aturan yang ada lebih terasa ketat dan terkesan membebani. Padahal aturan yang ada dalam ajaran Islam itu sesuai dengan fitrah manusia.

Berbeda halnya jika bahasan tentang pergaulan laki-laki dan perempuan ini keluar dari mulut orang liberal. Aturan yang semestinya dipatuhi bukan hal yang wajib ditepati lagi.

KESESATAN TOKOH JIL

ZINA MENURUT JIL

Dalam sebuah acara debat, Moqsith Ghazali mengutip penjelasan ulama terdahulu untuk menjustifikasi kesesatan pemikiran islam liberal. Dengan kepongahan dan kebanggaannya, dia jelaskan hal tersebut di depan khalayak ramai. Sehingga bagi mereka yang awam akan terkesima dengan kemampuan yang dimilikinya.

Dalam acara tersebut Moqsith mengatakan bahwa yang disebut dengan zina adalah masuknya ujung alat kelamin laki-laki kedalam lubang kemaluan perempuan. Maka apabila alat kelamin itu dilipat, sehingga yang masuk bukanlah ujung kelamin, maka tidak disebut dengan zina. Sehingga tidak berhak mendapatkan hukum had bagi para pezina. (Lihat dalam video debat https://www.youtube.com/watch?v=1NUFjE7XxI8)

Dalam bahasan yang sama Sumantho Al-Qurtubi, begitu dia dikenal, menyebutkan dalam tulisannya yang berjudul ”Agama, Seks, dan Moral”, yang dimuat dalam sebuah buku berjudul Jihad Melawan Ekstrimis Agama, Membangkitkan Islam Progresif.

Dalam tulisannya Sumanto mengatakan, “Apa yang kita saksikan dewasa ini adalah sebuah pemandangan keangkuhan oleh kaum beragama (dan lembaga agama) terhadap fenomena seksualitas yang vulgar sebagai haram, maksiat, tidak bermoral, dan seterusnya. Padahal moralitas atau halal-haram bukanlah sesuatu yang given dari Tuhan, melainkan hasil kesepakatan atau konsensus dari ”tangan-tangan gaib” (invisible hand, istilah Adam Smith) kekuasaan, baik kekuasaan politik maupun otoritas agama. Teks-teks keagamaan dalam banyak hal juga merupakan hasil ”perselingkuhan” antara ulama/pendeta dengan pemimpin politik dalam rangka menciptakan stabilitas.

Saya rasa Tuhan tidak mempunyai urusan dengan seksualitas. Jangankan masalah seksual, persoalan agama atau keyakinan saja yang sangat fundamental, Tuhan – seperti secara eksplisit tertuang dalam Alqur’an – telah membebaskan manusia untuk memilih: menjadi mukmin atau kafir. Maka, jika masalah keyakinan saja Tuhan tidak perduli, apalagi masalah seks?.

Jika kita mengandaikan Tuhan akan mengutuk sebuah praktik ”seks bebas” atau praktik seks yang tidak mengikuti aturan resmi seperti tercantum dalam diktum keagamaan, maka sesungguhnya kita tanpa sadar telah merendahkan martabat Tuhan itu sendiri. Jika agama masih mengurusi seksualitas dan alat kelamin, itu menunjukkan rendahnya kualitas agama itu.” (Sumanto al-Qurthubi, Jihad Melawan Ekstrimis Agama, Membangkitkan Islam Progresif, (Penerbit: Borobudur Indonesia, Cet-1 2009), 182-183)

KERANCUAN BERPIKIR

Argumentasi Moqsith dalam masalah zina, yang dikutip dari buku I’anatu Ath-Thalibin, tidak proporsional sebagaimana bahasan yang seharusnya. Dalam buku tersebut membicarakan tentang kategori perzinaan yang tidak mendapatkan hukuman had. Sebab dalam buku yang sama juga dijelaskan zina itu sendiri merupakan dosa besar dan ini diharamkan disemua agama. Disebutkan juga firman Allah Ta’ala untuk tidak mendekati zina. Logikanya adalah, mendekati saja tidak boleh apalagi melakukannya. (Lihat Abu Bakr Ad-Dimyati Asy-Syafi’i, I’anatu ath-Thalibin ‘ala hilli alfadz Fathi al-Mu’in, (Dar al-Fikr, Cet-1, 1418 H/1997), 4/162.)

Sedangkan argumentasi Sumanto adalah argumentasi yang ngawur. Dan daya kritis paradoks. Kenapa dia justru kritis terhadap ajaran islam. Sementara kepada pemikiran barat sendiri tidak demikian halnya. Terlebih lagi dia menyamakan antara ajaran Islam yang masih terjaga kemurniannya dengan Kristen yang tercampur dengan banyak interest.

Tidak hanya itu saja, ungkapan yang diutarakan Sumantho menunjukkan kedangkalan aqidahnya terhadap ajaran Islam. Cakupan ajaran Islam terhadap segala persoalan hidup manusia tak lain adalah demi maslahat manusia itu sendiri. Diantaranya adalah permasalahan seks. Sebab syariat islam itu ada demi menjaga 5 hal, yang terkenal dengan istilah dharuriyat al-khamsah. Yaitu Din (agama), jiwa, akal, kehormatan dan harta, (lihat Asy-Syathibi, Al-Muwafaqat, tahqiq: Ibnu Hasan Ali Salman, (Dar Ibnu Affan, Cet-1, 1417 H/1997), 2/20)

baca juga: Pacaran Menurut Ulil

Sebenarnya, dukungan terhadap praktik seks bebas bukanlah hal yang aneh. Ini adalah akibat logis dari sebuah konsep dekonstruksi aqidah dan dekonstruksi kitab suci. Jika seorang sudah tidak percaya bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan dan Nabi Muhammad n adalah utusanNya, kemudian juga tidak percaya kepada otoritas para ulama Islam yang mu’tabarah, maka yang dia jadikan sebagai standar pengukur kebenaran adalah akalnya sendiri atau hawa nafsunya sendiri, (Lihat artikel tulisan Dr. Adian Husaini berjudul Liberalisasi Pendidikan Tinggi, h t t p : / / w w w . i n s i s t n e t . c o m)

Dari pemaparan ini terlihat bagaimana kerancuan pemikiran mereka. Sehingga mengkaburkan kebenaran yang ada. Wallahu a’lam Bis shawab.

 

Ilyas Mursito

 

# Zina Ala Tokoh Jil # Zina Ala Tokoh Jil # Zina Ala Tokoh Jil # Zina Ala Tokoh Jil #

 

 

%d bloggers like this: