Waspadai Aksesoris Najis

Waspadai Aksesoris Najis

Apakah anda suka memakai aksesoris? Hati-hati, periksalah aksesoris anda. Adakah aksesoris tersebut berasal dari hewan? Saat ini, ada banyak aksesoris yang terbuat dari organ hewan; tulang, bulu, kulit, rambut atau tanduk. Wujudnya juga beragam; gantungan kunci, manik-manik, gelang, kalung dan sebagainya.

Aksesoris Berasal Dari Hewan

Jika aksesoris anda berasal dari hewan, pastikan bahwa benda tersebut berasal dari hewan yang halal dimakan. Organ-organ tertentu dari hewan halal seperti tulang, tanduk, bulu dan kulit dinilai suci dan tidak najis bahkan meskipun diambil dari bangkainya. Adapun sebaliknya, organ hewan yang tidak halal dimakan dihukumi najis bahkan meskipun kulit yang telah disamak, menurut salah satu pendapat.

Dalil bahwa organ-organ dari hewan yang halal dimakan hukumnya suci, diantaranya;

Firman Allah Ta’ala:

وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ

“Dan dari bulu domba dan bulu onta dan bulu kambing, itu kalian jadikan sebagai alat-alat rumah tangga (perkakas) dan perhiasan sampai waktu tertentu.” (AnNahl 80)

Ibnu Abbas RA. Meriwayatkan, “Maimunah (ummul mukminin) suatu ketika mendapatkan sedekah dari bekas budaknya yang telah dimerdekakan berupa seekor kambing. Kemudian kambing itu mati. Secara kebetulan Rasulullah berjalan melihat bangkai kambing tersebut, maka bersabdalah Rasulullah, “Mengapa tidak kamu ambil kulitnya, kemudian kamu samak dan memanfaatkannya?” para sahabat menjawab, “Itukan bangkai!” Maka menjawablah Rasulullah, “Yang diharamkan itu hanyalah memakannya.” (Riwayat Jama’ah, kecuali Ibnu Majah).

Pada intinya, organ-organ dari binatang yang halal dimakan dapat dijadikan aksesoris dan hukumnya suci. Kecuali kulit, harus melalui proses penyamakan terlebih dahulu. Jika tidak, kulit akan membusuk dan menjadi najis.

Organ Hewan Yang Digunakan Sebagai Aksesoris

Adapun organ dari hwan yang tidak halal dimakan, bisa dirinci sebagai berikut:

Pertama, Kulit. Kulit binatang yang haram dimakan seperti ular, buaya dan harimau hukumnya najis. Bahkan meskipun kulit hewan-hewan tersebut disamak. Disamak maksudnya dibersihkan dengan metode khusus sehingga kulit menjadi awet dan tidak membusuk.

Mazhab Syafi’I berpendapat bahwa kulit hewan apapun, termasuk hewan yang haram dimakan, akan menjadi suci jika disamak terlebih dahulu, kecuali kulit babi dan anjing. Sebab, babi dan anjing najis secara dzat. Tidak bisa disucikan dengan cara apapun.

Dalilnya adalah keumuman hadits Nabi SW yang berbunyi:

إِذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ

“Jika kulit itu telah disamak, maka ia telah suci.” (HR Muslim)

Namun, menurut salah satu pendapat dari imam Ahmad bahwa kulit hewan yang haram dimakan najis hukumnya dan tidak bisa disucikan dengan cara disamak.

Pendapat ini diamini oleh Syaikh Ibnu Utsaimin. Beliau menyatakan bahwa kulit binatang yang tidak halal dimakan, seperti kulit anjing, srigala, singa, gajah dan sejenisnya hukumnya najis, baik mati dengan disembelih, dibunuh maupun mati dengan cara lainnya. Karena meskipun telah disembelih ia tetap tidak halal dan tidak boleh digunakan, hukumnya tetap najis. Baik telah disamak maupun belum, menurut pendapat yang terpilih. Menurut pendapat tersebut kulit yang najis tidak akan menjadi suci karena di samak, jika kulit itu berasal dari binatang yang tidak halal dimakan meskipun telah disembleih.
Adapun kulit bangkai binatang yang halal, hukumnya suci jika telah disamak. Sebelum disamak hukumnya tetap najis. Berdasarkan keterangan di atas, kulit binatang dapat kita bagi menjadi tiga bagian:

Kulit binatang yang tetap suci, baik disamak ataupun tidak. Yaitu kulit binatang yang halal dimakan setelah disembelih secara syar’i. Kulit binatang yang tidak suci karena disamak ataupun tidak, hukumnya tetap najis. Yaitu kulit binatang yang tidak halal dimakan, contohnya babi. Kulit binatang yang menjadi suci setelah disamak, yaitu kulit binatang yang halal dimakan yang mati tanpa melalui penyembelihan syar’i (bangkai).( Liqa’ Al-Baab Al-Maftuh karya Syaikh Ibnu Utsaimin 52/39).

Kedua, tulang dan tanduk.

Untuk tulang, kuku, dan tanduk hewan yang tidak halal dimakan, Mazhab Syafi’I menyatakan najis. Di dalam kitab al Umm dinyatakan, “Tidak boleh wudhu dan minum dari tulang bangkai dan hewan yang tidak halal dimakan seperti gajah, singa dan sebagainya. Sebab, penyamakan dan penyucian organ tersebut tidak bisa menyucikan.” (al Umm I/9).

Imam an Nawawi dari mazhab Syafi;I menambahkan: Mayoritas Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i menyatakan bahwa sesungguhnya tulang gajah adalah najis baik diambil setelah melalui proses penyembelihan atau tidak. (Al Majmu’ Syarch Al Muhaddzab. IX/ 230).

Adapun mazhab Hanafiah menyatakan bahwa daging dan kulit bangkai dan semua yang membawa kehidupan hukumnya najis. Beda dengan tulang, kuku, tanduk, cakar dan bulu. (al Fiqh ‘ala Mazhahibil arba’ah I/13)

Ketiga Bulu dan rambut.

Hukumnya suci tidak najis, didasarkan pada firman Allah :

وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَىٰ حِينٍ

“Dan (dijadikannya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu)” [Al Nahl: 80]

Ayat ini bersifat umum, yakni meliputi hewan yang disembelih dan tidak disembelih. Allah juga menyampaikan ayat ini untuk menjelaskan karuniaNya terhadap hambaNya yang menunjukkan kehalalannya. (Nailul Author Bi Syarhi Al Muntaqa Lil Akhbaar).

Adapun bulu babi, mayoritas ulama menyatakan najis. Namun mazhab malikiyah dan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa menyatakan bahwa bulu itu suci, baik itu bulu babi maupun anjing. Sebab, bulu adalah organ yang tumbuh diluar kendali badan sebagaimana tanaman. Sedangkan tanaman yang tumbuh di atas tanah najis hukumnya tetap suci. ((Majmu’ Al Fatawa, 21: 617-619).

baca juga: Kain Haram, Apakah Ada?

Nah, memang ada perbedaan pendapat mengenai najis tidaknya aksesoris dari berbagai organ hewan yang haram dimakan. Namun demikian, langkah terbaik adalah keluar dari perbedaan dengan mengambil pendapat yang paling hati-hati, yaitu menghindari penggunaan atau membawa aksesoris tersebut, khususnya saat shalat dan ibadah yang lain. Dengan demikian, ibadah kita bisa benar-benar bersih dan suci.

 

 

(taufikanwar)

%d bloggers like this: