Wanita Mengimami Laki-Laki

Wanita Mengimami Laki-Laki.

Sebenarnya hukum wanita menjadi imam bagi laki-laki sudah jelas. Hampir seluruh kaum muslimin dengan mudah akan menjawab tidak boleh. Namun, karena terlalu semangat mengangkat kesetaraan gender; wanita harus sejajar dengan laki-laki, ada yang berpendapat bahwa wanita boleh mengimami laki-laki dalam shalat berjamaah.

Akhirnya, masalah yang sudah menjadi ijma’ para ulama ini diperdebatkan. Bahkan, tidak hanya dalam shalat berjamaah, khatib dan imam shalat jamaah pun pernah dilakukan oleh seorang wanita, sekali lagi beralasan dengan pendapat ulama tertentu dan kebebasan berpendapat.

Terbukti beberapa waktu yang lalu, di Amerika, seorang wanita menjadi imam dan khatib jumat dengan makmum laki-laki. Parahnya lagi, kejadian heboh yang sempat menjadi sorotan media tersebut dilakukan di gereja. La haula wala quwata illa billah.

Dasar Pendapat Nyleneh Ini:

Setidaknya ada dua hadits yang biasa menjadi pijakan mereka.

Pertama, hadits Ummu Waraqah:

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sering mengunjunginya (Ummu Waraqah) di rumahnya, dan memilih muadzin khusus untuknya, serta menyuruhnya untuk menjadi imam bagi orang-orang di rumahnya.” (HR Abu Daud no 592 juz 1/230, Ibnu Hajar mendha’ifkan hadits ini dalam at-Talkhish al-Habir, 2/27).

Selain hadits di atas dianggap dhaif oleh sebagian ulama, pada hakikatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh Ummu Waraqah untuk menjadi imam bagi orang-orang di rumahnya, dan tidak dijelaskan siapa saja yang di rumahnya laki-laki atau perempuan.

Kemudian disebutkan dalam riwayat ad-Daruqutni bahwa yang dimaksud orang-orang yang di rumahnya adalah para wanita. Adapun lafazhnya adalah sebagai berikut :

أَنَّ النَّبِيّ صلى الله عليه وسلم أَذِنَ لَهَا أَنْ يُؤَذَّنَ لَهَا وَيُقَامَ وَتَؤُمَّ نِسَاءَهَا

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengijinkan baginya (Ummu Waraqah) untuk dilaksanakan adzan dan iqamat di rumahnya, serta diijinkan untuk menjadi imam bagi orang-orang wanita.” (HR. ad-Daruqutni).

Kedua, hadist yang menunjukkan bolehnya seorang wanita yang pandai membaca al-Qur’an menjadi imam bagi laki-laki dalam shalat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :

 “Yang berhak menjadi imam suatu kaum dalam shalat adalah yang paling pandai membaca al-Qur’an”

Jika disebutkan kata al-qaum (suatu kaum), maka berarti kumpulan laki-laki, perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain karena boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok)…” (QS. al-Hujurat: 11).

baca juga: Shaf Wanita Dalam Shalat

Jika wanita masuk dalam katagori kaum dengan alasan lafazh kaum adalah lafazh umum, tentu akan dijumpai seorang wanita yang mengimami laki-laki pada masa Rasulullah SAW. Akan tetapi, pada kenyataannya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam selalu menyuruh laki-laki menjadi imam shalat, dan tidak pernah menyuruh wanita untuk mengimami laki-laki di masjid.

Pendapat nyleneh seperti ini sering disandarkan kepada pendapat Muzanni, Abu Tsaur dan Abu Jarir ath-Thabari, yang dinukil dalam kitab al-Bayan 2/398. Kalau pun pendapat ini betul-betul pendapat mereka, maka pendapat seperti ini jelas menyelisihi ijma’ ulama.

Pendapat Jumhur Ulama’

أَخِّرُوهُنَّ حَيْثُ أَخَّرَهُنَّ اللَّهُ

“Akhirkanlah mereka (wanita) dalam shaf, sebagaimana Allah mengakhirkan mereka” (Shahih Ibnu Khuzaimah, no. 1606 dan Mu’jam Kabir at-Thabrani no. 9371, menurut al-Albani, hadits ini mauquf).

Wanita bagaimanapun juga, shafnya diakhirkan atau di belakang laki-laki. Tidak ada satu riwayat pun yang menyebutkan bahwa wanita mengimami laki-laki, apalagi ketika shalat jumat.

Diriwayatkan dari Amru bin Syu’aib dan Qatadah bahwa jika seorang laki-laki tidak pandai membaca Al-Qur’an sedang di belakangnya ada seorang wanita yang pandai membaca Al-Qur’an, maka laki-laki tersebut tetap menjadi imam, tetapi wanitanya yang membaca. Jika laki-laki tadi ruku’ atau sujud, maka wanita tersebut harus mengikutinya. (Diriwayatkan Abdur Razaq dalam al-Mushanaf).

Selain itu, ada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah (walaupun sanadnya ada yang berpendapat dhaif) yang melarang dengan sangat jelas seorang wanita menjadi imam bagi laki-laki.

لاَ تُؤَمَّنُ اِمْرَأَةٌ رَجُلاً

“Janganlah seorang wanita menjadi imam sholat bagi laki-laki” (HR. Ibnu Majah no. 1081, ada perawi yang dha’if).

Perempuan adalah aurat, jika ia di depan dan menjadi iman shalat, maka akan menimbulkan fitnah dan mengganggu kekhusukan shalat laki-laki. Makanya perempuan diperintahkan untuk menepuk tangan jika menegur imam yang salah, karena khawatir suaranya akan membuat fitnah bagi laki-laki.“ (al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir , vol.2, hlm. 226).

Rasulullah SAW bersabda:

يَقْطَعُ الصَلاَةُ الْمَرْأَةُ وَالْحِمَارُ وَالْكَلْبُ

“Shalat dapat terganggu oleh wanita, himar, dan anjing” (HR. Muslim 1/365).

 

Kesimpulan

Berdasarkan dalil-dalil para ulama’ di atas, dapat disimpulkan bahwa wanita tidak boleh menjadi imam shalat bagi laki-laki. Seorang istri tidak boleh mengimami suaminya. Baik wanita tersebut lebih pandai agamanya atau tidak, sehingga konsekuensinya bila seorang laki-laki makmum di belakang wanita, maka shalatnya batal atau tidak sah. Wallahu a’lam bish shawab.

 

 

 

 

%d bloggers like this: