Waktu Terlarang untuk Mengerjakan Shalat

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu ‘anhu, ia berkata:

ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيْهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبَرَ فِيْهِنَّ مَوْتَانَـا: حِيْنَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ، وَحِيْـنَ يَقُوْمُ قَائِمُ الظَّهِيْرَةِ حَتَّـى تَمِيْلَ الشَّمْسُ، وَحِيْنَ تَضَيَّفَ الشَّمْسُ لِلْغُرُوْبِ حَتَّى تَغْرُبَ.

“Tiga waktu yang Rasulullah ﷺ melarang kami shalat atau mengubur Jenazah kami pada saat itu: ketika matahari terbit hingga naik, ketika pertengahan siang hingga matahari tergelincir, ketika matahari condong ke barat hingga tenggelam.” (HR. Muslim, no. 831)

Shalat merupakan ibadah paling utama dalam Islam, karena ia ibarat tiang bagi bangunan. Sejak disyariatkan bagi umat Nabi Muhammad pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj, shalat merupakan ibadah yang digemari oleh Rasulullah ﷺ.

Diriwayatkan bahwa selain mengerjakan shalat fardhu sebanyak lima kali dalam sehari semalam pada waktu-waktu yang telah ditentukan, Rasulullah ﷺ juga rutin mengerjakan shalat sunah di luar waktu-waktu tersebut. Di antara shalat sunnah yang menjadi rutinitas Beliau adalah shalat dhuha di pagi hari dan tahajjud di sepertiga malam.

Namun demikian, ternyata terdapat waktu-waktu yang seorang muslim tidak dibolehkan mengerjakan shalat.

 

WAKTU-WAKTU TERLARANG MENGERJAKAN SHALAT

Dalam kesimpulan para ulama, bahwa terdapat lima waktu yang terlarang bagi seorang muslim mengerjakan shalat.

Pertama, waktu yang terlarang bagi seorang muslim mengerjakan shalat dimulai sesudah subuh hingga terbit matahari. Dalam rentan waktu tersebut hendaknya seorang muslim tidak mengerjakan shalat. Penetapan ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ. berliau bersabda,

لاَ صَلاَةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ

Tidak ada shalat setelah shalat Shubuh sampai matahari meninggi.” (HR. Al-Bukhari, no. 586 dan Muslim, no. 827)

Kedua, waktu yang terlarang bagi seorang muslim mengerjakan shalat adalah semenjak matahari terbit hingga matahari meninggi satu tombak. Hal ini berdasarkan hadits Nabi ﷺ yang membahas mengenai waktu-waktu terlarang mengerjakan shalat. Beliau bersabda,

حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ

Ketika matahari terbit (menyembur) sampai meninggi.” (HR. Muslim, no. 831)

Dari hadits ini syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berpendapat, bahwa mulainya seorang muslim boleh mengerjakan shalat sunah isyraq adalah setelah matahari terbit dan bayang-bayang setinggi tombak. Atau kalau diperkirakan sekitar seperempat jam atau sekitar 15 menit setelah matahari terbit. (Majmu’ Fatawa wa Rasail, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 14/305)

Maka seorang muslim tidak diperkenankan mengerjakan shalat sejak matahari terbit hingga matahari meninggi, sehingga bayang-bayang kira-kira setinggi tombak.

Ketiga, waktu yang terlarang bagi seorang muslim mengerjakan shalat adalah ketika waktu istiwa’ sampai dengan tergelincirnya matahari.

Waktu istiwa’ adalah waktu di mana posisi matahari tepat di atas kepala. Maka pada saat matahari berada pada posisi ini, dilarang untuk mengerjakan shalat. Hal ini bersarkan sabda Rasulullah ﷺ,

وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَمِيلَ الشَّمْسُ

Ketika matahari di atas kepala hingga tergelincir ke barat.”  (HR. Muslim, no. 831)

larangan melakukan shalat di waktu ini tidak berlaku untuk hari Jumat. Artinya shalat yang dilakukan pada hari Jumat dan bertepatan dengan waktu istiwa’ diperbolehkan dan sah shalatnya. Hal ini berdasarkan hadits Nabi ﷺ,

لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَتَطَهَّرَ مَـا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ وَيُدَهِّنُ مِنْ دُهْنٍ أَوْ يَمُسُّ مِنْ طِيْبِ بَيْتِهِ، ثُمَّ يَخْـرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ، ثُمَّ يُصَلِّى مَا كُتِبَ لَهُ، ثُمَّ يُنْصِتْ إِذَا تَكَلَّمَ اْلإِمَامُ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ، مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى.

Tidaklah seseorang mandi pada hari Jumat, lantas bersuci sebaik-baiknya, mengenakan minyak rambut, atau mengenakan minyak wangi rumahnya. Kemudian keluar dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu shalat sunnah semampunya. Setelah itu ia diam ketika imam berkhutbah, melainkan akan diampuni dosa-dosanya antara Jumat yang satu dengan Jumat yang lain.” (HR. Al-Bukhari, no. 883)

Baca Juga: Shalat Sunnah Rawatib Berdasarkan Waktu Pelaksanaannya

 

Dalam hadits di atas memberikan isyarat bahwa seseorang yang masuk masjid untuk mengerjakan shalat Jumat, hendaknya mengerjakan shalat sunah semampunya hingga imam mulai berkhutbah. Artinya yang menjadi penghalang seseorang tidak boleh mengerjakan shalat sunah adalah ketika imam mulai berkhutbah, bukan matahari berada tepat di atas kepala. Dan ini berlaku khusus hari Jumat.

Keempat, waktu yang terlarang bagi seorang muslim mengerjakan shalat adalah setelah shalat asar hingga matahari terbenam. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,

وَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغِيبَ الشَّمْسُ

Dan tidak ada shalat setelah shalat ‘Ashar sampai matahari terbenam.” (HR. Al-Bukhari, no. 586; Muslim, no. 827)

Kelima, waktu yang terlarang bagi seorang muslim mengerjakan shalat adalah sejak matahari terbenam hingga matahari benar-benar telah terbenam. Penetapan ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ,

وَحِينَ تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ

Ketika matahari akan tenggelam hingga tenggelam sempurna.”  (HR. Muslim, no. 831)

Perlu diketahui juga bahwa keharaman melakukan shalat di lima waktu tersebut tidak berlaku di tanah suci Makah. Artinya, di tanah suci Makah seseorang diperbolehkan melakukan shalat apapun di waktu kapanpun yang ia mau, termasuk di salah satu dari lima waktu yang diharamkan. Ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ,

لَا تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا الْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ

Jangan kalian melarang seseorang berthawaf dan shalat di rumah ini (ka’bah) kapanpun ia mau, baik malam maupun siang.” (HR. At-Tirmidzi, no. 868; HR. An-Nasa’i, no. 585) (Subulus Salam al-Maushalah Ila Bulughil Maram, Muhammad bin Ismail al-Amir ash-Shan’ani, 2/21-29)

SHALAT FARDHU DI WAKTU-WAKTU TERLARANG

Ada di antara pembaca mungkin pernah lupa atau tertidur ketika datang waktu shalat. Sehingga, karena hal tersebut membuat kita tidak mengerjakan shalat fardhu ketika muadzin mengumandangkan adzannya. Misalkan kita bangun pagi kesiangan, sehingga belum mengerjakan shalat subuh, maka apa yang harus dilakukan?

Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا لاَكَفَّرَةَ لَهَا إِلاَّ ذلِكَ

Barangsiapa lupa terhadap suatu shalat, maka hendaklah ia shalat ketika mengingatnya. Tidak ada kafarat baginya kecuali (shalat) itu.” (HR. Al-Bukhari, no. 597; HR. Muslim, no. 684)

Berdasarkan hadits di atas, ketika kita lupa atau tertidur, maka hendaknya kita segera mengerjakan shalat saat ingat atau bangun dari tidur. (Majmu’ Fatawa wa Rasail, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 12/226)

 

SHALAT SUNNAH DI WAKTU-WAKTU TERLARANG

Para ulama berbeda pendapat mengenai shalat sunah yang dikerjakan karena ada sebab di waktu-waktu yang terlarang mengerjakan shalat. Adapun pendapat yang benar adalah boleh mengerjakan shalat sunah yang dikerjakan karena ada sebab walaupun di waktu-waktu yang terlarang untuk shalat.

Misal shalat Tahiyatul Masjid. Apabila seseorang masuk masjid setelah shalat fajar maka boleh mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid. Begitu juga ketika masuk masjid setelah shalat asar, maka boleh mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid.

Setiap shalat yang dikerjakan karena ada sebab, boleh dikerjakan walaupun di waktu-waktu yang terlarang untuk shalat. Ini adalah pendapat yang rajih dari pendapat-pendapat para ulama. Adapun larangan shalat di waktu-waktu terlarang berlaku khusus bagi shalat sunah Muthlaq, yaitu shalat sunah yang dikerjakan bukan karena ada sebab. (Majmu’ Fatawa wa Rasail, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 12/227, Th. 1413) Wallahu’alam. [Luthfi Fathoni]

%d bloggers like this: