Waktu Pengucapan “AMIIN” Dalam Shalat

Waktu Pengucapan “AMIIN” Dalam Shalat

إِذَا أمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوْا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِيْنُهُ تَأْمِيْنَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“jika imam mengucapkan “amiin” maka hendaknya ucapkanlah “amiin”. Barangsiapa yang ucapan

“amiin” nya berbarengan dengan ucapan “amiin” Malaikat, ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Al Bukhari dan Muslim)

 

                Membaca “amiin” mempunyai keutamaan di dalamnya. Sebagaimana hadits diatas, jika bacaan “amiin” kita berbarengan dengan “amiin” nya Malaikat, maka dosa-dosa kita yang telah lalu akan diampuni. Mengingat besarnya keutamaan dalam bacaan ini, maka kita perlu mengetahui hukum-hukum yang berkenaan dengan membaca “amiin”, terkhusus dalam shalat. Dan pada edisi sebelumnya telah kita bahas mengenai hukum membaca dan mengeraskan bacaan “amiin”. Adapun pada edisi ini, kita akan lanjutkan pembasan mengenai; kapan kita mengucapkan “amiin”, bagaimana membacanya dan bolehkah berdoa sebelum mengucapkan “amiin”?

KAPAN “AMIIN” DIUCAPKAN?

Bagi imam dan munfarid untuk pengucapan “amiin” sudahlah jelas, yaitu mengucap “amiin” setelah mengucapkan “waladh-dhaalliin”. Akan tetapi, bagi orang-orang yang shalat di belakang imam, para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, pendapat-pendapat mereka yaitu:

Pendapat pertama, ucapan “amiin” makmum berbarengan dengan ucapan “amiin” nya imam. Ini adalah pendapat dari ulama Syafi’iyyah dan pendapat yang diakui dari madzhab Hanabilah. Mereka berdalil dengan hadits,

إِذَا قَالَ أَحَدُكُمْ آمِيْن، قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ فِيْ الْسَمَاءِ آمِيْن، فَوَافَقَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

jika salah seorang diantara kalian mengucapkan “amiin”, Malaikat pun mengucapkan “amiin”. Mak

a jika ucapan “amiin” keduanya berbarengan, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Pendapat inilah yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, beliau mengatakan: “orang terdahulu ketika menjadi makmum mengucapkan “amiin” dengan suara keras dan berbarengan dengan ucapan “amiin” nya imam. Serta tidak diperbolehkan mendahului “amiin” nya imam, tidak sebagaimana kebanyakan orang yang shalat di zaman sekarang. Juga tidak boleh terlalu telat dari ucapan “amiin” nya imam. Inilah yang menjadi pendapatku yang terakhir dalam masalah ini.” (Ikhtiyarat al-Fikhiyah, Muhammad Nashiruddin al-Albani, 88).

Pendapat kedua, ucapan “amiin” makmum setelah imam mengucapkan “amiin”. Ini adalah salah satu pendapat dari ulama madzhab Hanabilah. Mereka berdalil dengan hadits yang sama dengan lafadz lainnya,

إِذَا أمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوْا ، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِيْنُهُ تَأْمِيْنَ الْمَلَائِكَةِ ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“jika imam mengucapkan “amiin” maka hendaknya ucapkanlah “amiin”. Barangsiapa yang ucapan “amiin” nya berbarengan dengan ucapan “amiin” Malaikat, ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al Bukhari 780, 6402, Muslim 410)

dan hadits-hadits yang semakna.

Syaikh Abdul Aziz Ath-Thuraifi menjelaskan, “hadits ini dalil bahwa makmum mengakhirkan ucapan “amiin” dari ucapan “amiin” nya imam. Karena adanya tartib (urutan) yang ditunjukan oleh huruf “fa”. (Sifat Shalat Nabi, Abdul Aziz bin Marzuq ath-Thuraifi, 93).

Adapun pendapat yang lebih tepat menurut salah satu ulama muta’akhirin yang namanya sudah tidak asing lagi bagi para penuntut ilmu, adalah pendapat pertama. Beliau, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan, “mereka (yang berpendapat bagi makmum mengucapkan “amiin” setelah ucapan “amiin” nya imam) mengatakan, ini sebagaimana sabda Nabi “فإذا كَبَّرَ فكَبِّروا” jika imam bertakbir maka bertakbirlah‘, dan sudah diketahui bahwa makmum bertakbir setelah imam selesai bertakbir. Maka demikian juga “إذا أمَّنَ الإمامُ فأمِّنوا” jika imam mengucapkan “amiin” maka hendaknya ucapkanlah “amiin””, maksudnya adalah makmum mengucapkan “amiin” setelah imam selesai mengucapkannya. Namun ini adalah argumen yang kurang kuat. Karena telah ditegaskan dalam lafadz hadits yang lain:

إِذَا قَال الإمامُ: غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ، فَقُولُوا: آمِينَ

“jika imam mengucapkan ghairil maghdhubi ‘alaihim waladhallin”, maka hendaknya ucapkanlah “amiin”. (HR. Al-Bukhari)

Sehingga makna “إِذَا أمَّنَ” maksudnya adalah jika imam sudah sampai pada waktunya untuk mengucapkan amiin, yaitu setelah imam mengucapkan “waladhallin”, atau maksudnya jika telah tiba ketika ucapan amiin disyariatkan maka ucapkanlah “amiin”. Sehingga ucapan “amiin” bersamaan dengan imam. (Syarhul Mumthi‘, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 3/69).

Pendapat ini pula yang dipilih oleh Imam Haramain Syaikh Abu Muhammad al-Juwaini dan muridnya imam al-Ghazali. Imam Haramain berkata, tidak dianjurkan membarengi imam dalam sesuatu apapun kecuali dalam hal ini (mengucapkan “amiin”). Maka, permasalahan ini adalah pengecualian dari larangan menyamai imam. (lihat al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain an-Nawawi ad-Dimasyqiy, 3/ 372)

Pendapat inilah yang biasa dilakukan oleh kebanyakan kaum muslimin di negara kita ini, yaitu antara

makmum dan imam mengucapkan  “amiin” secara berbarengan.

 

TATACARA MENGUCAPKAN AMIIN

Adapun tatacara mengucapkan lafadz “amiin” setelah membaca al-Fatihah, Ibnu Katsir menjelaskan di dalam buku tafsirnya, bahwa tatacara membaca “amiin”  ada dua cara.

Cara pertama, lafadz “amiin” dibaca dengan cara memanjangkan lafadz “aa” sebanyak dua ketukan dan “miin” sebanyak enam ketukan. Cara yang pertama ini sebagaimana ketika kita membaca ayat pertama dala

m surat yasin “”يس.

Cara Kedua, lafadz “amiin” dibaca dengan cara memendekkan lafadz “a” dan “miin” dibaca panjang sebanyak dua ketukan.  Adapun cara yang kedua ini sebagaimana kita membaca “يَمِيْنَ” . (lihat, Tafsir al-Qur’anul ‘Adzim, Abul Fida’ Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi al-Bushrawi ad-Dimasyqi, 1/ 144)

 

BERDOA SEBELUM MENGUCAPKAN “AMIIN”?

Terkadang sebagian orang yang shalat, ketika sampai pada bacaan “ghairil maghdhubi ‘alaihim waladhallin” kemudian sebelum mengucapkan amiin, sang imam berdoa secara lirih “allhumaghfirlii wa liwalidayya …” dan seterusnya kemudian setelah itu imam dan makmum baru mengucapkan “amiin”, sehingga seolah-olah makmum mengaminkan doa tersebut. Bolehkah amalan ini kita kerjakan? Mengingat setelah berdoa sang imam dan makmum mengucapkan “amiin” yang artinya “kabulkanlah ya Allah”.

Ini adalah amalan yang tidak ada contoh dari Nabi SAW. Amalan yang dicontohkan oleh Nabi SAW, hendaknya imam tidak mengucapkan apa-apa hingga mengucapkan “amiin”, begitu juga makmum mengucapka

n “amiin” tanpa didahului dengan doa-doa apapun.

Hal ini karena Nabi SAW bersabda:

إِذَا قَالَ الْإِمَامُ: غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ، فَقُوْلُوْا: آمِيْنَ

“jika imam mengucapkan “ghairil maghdhubi ‘alaihim waladhallin maka hendaknya ucapkanlah “amiin”.” (HR. Al-Bukhari)

Begitu juga hadits:

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika membaca ‘waladhallin‘, kemudian beliau mengucapkan “amiin” dan mengangkat suaranya. (HR. Abu Dawud dan ad-Darimi)

Sehingga membaca doa-doa diantara “waladhallin dan ucapan “amiin” tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad n. terebih lagi, masih banyak tempat-tempat yang mustajab untuk berdoa selain tempat itu. Misalnya, waktu antara adzan dan iqomat, dll. Wallahu a’lam.

baca juga: Menentukan Waktu Shalat

Demikian pembahasan ringkas mengenai bacaan “amiin” setelah al-Fatihah dalam shalat. Semoga bermanfaat.

 

(oleh: Luthfi Fathani)

 

 

%d bloggers like this: