Wajib Shalat Jum’at Ketika Safar

Wajib Shalat Jum’at Ketika Safar

Safar merupakan kegiatan yang sering kita lakukan. Rekreasi, mudik, atau bepergian luar kota seringkali mencapai jarak safar. Waktu bepergian pun tak menentu. Biasanya akhir pekan, namun tak jarang yang berangkat hari Jum’at.

Ketika safar hari Jum’at, sering timbul pertanyaan. Apakah harus menunaikan shalat Jum’at atau tidak. Sebagian kaum muslimin tetap keukeuh memegang kewajiban shalat jum’at bagi musafir. Karena Allah f mewajibkan shalat ini tanpa pengecualian. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Jumu’ah: 9)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan,

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ

Shalat Jum’at itu wajib bagi setiap muslim secara berjama’ah selain empat orang: budak, wanita, anak kecil, dan orang sakit.” (HR. Abu Daud no. 1067. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

MAZHAB DHAHIRI: TETAP WAJIB SHALAT JUM’AT

Ibnu Hazm yang bermazhab Zhahiri menjelaskan dalam al-Muhalla 5/49, bahwa musafir, budak, orang merdeka, dan orang muqim, semuanya wajib melaksanakan shalat Jum’at.

BACA JUGA: Shalat Zhuhur Dua Rekaat Di Rumah Pada Hari Jumat

Menurut mereka, tidak ada satu pun dalil shahih yang mengkhususkan shalat Jum’at hanya untuk muqim atau hanya untuk musafir karena ayat dan haditshadits yang mewajibkan shalat Jum’at bersifat umum.

Wal hasil, menurut mazhab ini, musafir dalam perjalanan atau menginap sejenak di suatu tempat wajib melaksanakan shalat Jum’at.

Sebagai contoh realisasi pendapat ini. Anda berangkat ke Jakarta menggunakan mobil. Ketika mau masuk waktu Zhuhur (shalat Jum’at) anda harus memerhatikan waktu dan memperkirakan ada masjid ketika mendekati shalat Jum’at. Anda harus berhenti di suatu masjid untuk mengikuti shalat jum’at. Bagaimanapun keadaannya. Bila tidak menunaikan shalat Jum’at maka anda berdosa.

Begitupula, ketika anda bersafar mengendarai kereta api, pesawat terbang, maupun bus umum wajib berhenti untuk shalat Jum’at. Padahal, belum tentu sopir angkutan umum tersebut mau menuruti keinginan anda. Sungguh pendapat yang menyulitkan!

MUSAFIR TIDAK WAJIB SHALAT JUM’AT

Jumhur berpendapat demikian disebabkan tidak adanya hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa beliau melaksanakan shalat Jum’at saat dalam perjalanan (safar). Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bepergian dalam berbagai safar, telah berumrah tiga kali selain umrah ketika hajinya dan menunaikan haji wada’ bersama ribuan orang, serta telah berperang lebih dari dua puluh peperangan, namun tidak ada seorangpun yang menukil keterangan bahwa beliau melakukan shalat Jum’at, dan tidak pula shalat ‘Id dalam perjalanannya. Bahkan riwayat menyebutkan bahwa beliau menjama’ dua shalat Dhuhur dan ‘Ashar di seluruh perjalanan beliau. Begitu juga saat hari Jum’at, beliau shalat dua raka’at, sama seperti hari-hari lainnya.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, XXIV/178-179)

Ibnul Mundzir rahimahullah berkata: “Keterangan yang dapat dijadikan dalil gugurnya kewajiban shalat Jum’at bagi musafir yaitu bahwa Nabi n dalam beberapa kali perjalanan-perjalanan beliau -sudah tentu- pernah ada yang bertetapan dengan hari Jum’at. Tetapi tidak ada keterangan yang sampai pada kami bahwa beliau melaksanakan shalat Jum’at sementara beliau dalam perjalanan. Bahkan keterangan yang pasti menunjukkan bahwa beliau melaksnakan shalat Zhuhur di Padang Arafah pada saat hari Jum’at. Tindakan ini mengisyaratkan bahwa tidak ada shalat Jum’at bagi seorang musafir.” (Kitab Al-Ausath: 4/20) Dari Ibnu ‘Umar, Nabi n bersabda, “Musafir tidak wajib melaksanakan Jum’at.” (HR. Ath-Thabrani dengan sanad yang dhaif sebagaimana yang disebutkan oleh al-Hafidz Ibnul Hajar dalam Bulughul Maram, No. 438)

Hadits di atas tetap diamalkan oleh para shahabat Nabi n, di antaranya:
Dari Hassan Al-Bashri diriwayatkan bahwa Anas bin Malik safar ke Naisabur selama satu tahun atau dua tahun, dia selalu shalat dua raka’at lalu salam dan dia tidak melaksanakan shalat Jum’at (Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah [1/442], Ibnul Munzdir [4/20] dengan sanad yang shahih)

KESIMPULAN

Shalat jum’at tidak wajib bagi musafir. Bolehnya meninggalkan shalat jum’at ini merupakan rukhshah (keringanan) karena musafir sering kepayahan atau udzur. Namun, bila musafir menghendaki shalat jum’at bersama masyarakat karena tak ada masyaqah (kesulitan) tak mengapa. Intinya, tidak berdosa bila mengganti shalat Jum’at dengan shalat Zhuhur yang penting dalam kondisi safar. Wallahu ‘alam.  []

%d bloggers like this: