Transplantasi Organ Tubuh, bolehkah?

Transplantasi Organ Tubuh, bolehkah?

(Bagian.1)

 

Allah SWT telah memuliakan manusia atas seluruh makhluk lainnya, “Dan sungguh Kami telah memuliakan anak keturunan Adam…dan Kami telah melebihkan mereka dari kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan…” (QS. al-Isra’ [17]: 70).

Islam memerintahkan agar manusia mengupayakan berbagai sarana untuk menjaga kesehatan dan keselamatan nyawanya serta mencegah segala hal yang menimbulkan bahaya terhadap nyawanya. Allah berfirman, “Dan janganlah kalian mencampakkan diri kalian dalam kebinasaan.” (QS. al-Baqarah [2]: 195) “Dan janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada kalian.” (QS. an-Nisa’ [4]: 29).   

Di antara penemuan bidang medis modern yang menonjol dalam menjaga kesehatan dan keselamatan nyawa adalah transplantasi organ. Transplantasi adalah perpindahan sebagian atau seluruh jaringan atau organ dari satu individu pada individu itu sendiri atau pada individu lainnya baik yang sama maupun berbeda spesies.

Saat ini yang lazim dikerjakan di Indonesia adalah pemindahan seluruh atau sebagian organ dari satu tubuh manusia ke tubuh manusia yang lain atau dari satu tempat ke tempat yang lain di tubuh manusia yang sama. Transplantasi ini ditujukan untuk mengganti organ yang rusak atau tak berfungsi pada penerima dengan organ lain yang masih berfungsi dari pendonor.

Bagaimana hukum transplantasi organ dari orang hidup kepada orang hidup lainnya menurut syariat Islam?

Fatwa Majma’ al-Fiqh al-Islami

Majma’ al-Fiqh al-Islami, suatu lembaga fikih internasional di bawah Rabithah ‘Alam Islami, dalam muktamarnya yang ke-8 di kota Makkah pada bulan Rabi’ul Akhir 1405 H mengeluarkan fatwa boleh dengan sejumlah syarat.

Transplantasi dari orang hidup (pendonor) kepada orang hidup lainnya untuk menyelamatkan nyawanya atau untuk mengembalikan fungsi utama organ tubuhnya adalah hal yang diperbolehkan dan tidak bertentangan dengan kemuliaan manusia. Hal ini adalah perbuatan yang terpuji dan disyariatkan apabila memenuhi beberapa persyaratan berikut:

  1. Pengambilan dan penanaman organ tubuh tersebut dilakukan karena keadaan sangat darurat, yaitu saat metode tersebut menjadi satu-satunya metode medis untuk mengobati pasien. Jika ada metode pengobatan medis lain yang masih bisa ditempuh, maka pengambilan dan penanaman organ tersebut tidak boleh dilakukan.
  2. Pengambilan organ tubuh dari pihak pendonor tersebut biasanya tidak menyebabkan bahaya terhadap diri pendonor. Jika menimbulkan bahaya atau mengancam keselamatan nyawa pendonor, maka pengambilan organ tubuh tersebut terlarang, sebab termasuk tindakan mencampakkan diri kepada kebinasaan. Kaidah syari’at menegaskan bahaya tidak boleh dihilangkan dengan cara yang mendatangkan bahaya yang serupa atau bahaya yang lebih besar.
  3. Pendonor menyumbangkan organ tubuhnya atas dasar sukarela, bukan atas dasar paksaan dan tekanan dari pihak manapun.
  4. Operasi pengambilan dan penanaman organ tubuh tersebut, mayoritas atau biasanya, bisa dilakukan secara sukses. (Abdurrahman Muhammad Faudah, Jami’ Fatawa at-Thabib wa al-Maridh, [Iskandariyah: Dar al-‘Alamiyah, 1430 H], hlm. 277-279).

Fatwa Darul Ifta’ al-Mishriyah

Syaikh Dr. Ali Jum’ah Muhammad dari Darul Ifta’ al-Mishriyah (Dewan Fatwa Mesir) menjelaskan bahwa donor organ seperti ini masuk kategori firman Allah, “Dan barangsiapa menjaga kehidupan sebuah jiwa niscaya ia seperti orang yang menjaga kehidupan jiwa seluruh manusia.” (QS. al-Maidah [5]: 32) Juga firman Allah, “Dan mereka mendahulukan kepentingan orang-orang lain atas kepentingan diri mereka sendiri, meskipun mereka sendiri sedang membutuhkan.” (QS. al-Hasyr [59]: 9).

Selain beberapa syarat yang telah dijelaskan oleh Majma’ al-Fiqh al-Islami di atas, beliau menambahan beberapa syarat berikut:

  1. Pemindahan organ tubuh tersebut terbebas dari unsur jual-beli atau imbalan apapun, baik material maupun non-material, untuk diri si pendonor saat dia hidup maupun ahli warisnya saat ia telah meninggal.
  2. Organ tubuh yang dipindahkan dan ditanam tersebut tidak mengakibatkan terjadinya percampuran nasab antara pihak pendonor dan penerima. Misalnya, donor testis bagi pria atau donor indung telur bagi perempuan.
  3. Sebelum operasi dilakukan, ada surat persetujuan dari komisi medis yang beranggotakan minimal tiga orang dokter ahli yang adil (baik agamanya, amanah dan jujur), yang tidak memiliki kepentingan (keuntungan pribadi) apapun dari proses operasi tersebut. Komisi medis tersebut harus mengetahui syarat-syarat kebolehan operasi dan surat persetujuan tersebut diserahkan kepada pihak pendonor dan penerima. (http://dar-alifta.org/ViewFatwa.aspx?ID=3638&LangID=1)

Fatwa Hai’ah Kibaril Ulama’ Arab Saudi

Hai’ah Kibaril Ulama (Majelis Ulama Senior) Arab Saudi memfatwakan bahwa donor organ tubuh dari orang yang hidup kepada orang hidup lainnya diperbolehkan apabila memenuhi tiga syarat; adanya kebutuhan yang menuntut hal itu, aman dari bahaya, dan diduga kuat operasi transplantasi akan berhasil. (Jami’ Fatawa at-Thabiib wa al-Maridh, hlm. 277).

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

baca juga:

Transplantasi Organ Orang Mati

 

%d bloggers like this: