Tayamum Juga Bisa Batal

Tayamum Juga Bisa Batal

وَالَّذِيْ يُبْطِلُ التَّيَمُّمَ ثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ: مَا أَبْطَلَ الْوُضُوْءَ وَرُؤْيَةُ الْماَءِ فِيْ غَيْرِ وَقْتِ الصَّلاَةِ وَالرِدَّةُ. وَصَاحِبُ الْجَبَائِرِ يَمْسَحُ عَلَيْهَا وَيَتَيَمَّمُ وَيُصَلِّي وَلاَ إِعَادَةُ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ وَضْعُهَا عَلَى طَهْرٍ. وَيَتَيَمَّمُ لِكُلِّ فَرِيْضَةٍ وَيُصَلِّي بِتَيَمُّمٍ وَاحِدٍ مَا شَاءَ مِنَ النَّوِافِلِ.

Yang membatalkan tayammum ada tiga, yaitu: perkara yang membatalkan wudhu, melihat air di selain waktu shalat, dan murtad. Orang yang memakai perban mengusap di atasnya, bertayammum dan shalat serta tidak perlu mengulangi shalatnya apabila saat memakai perban dalam keadaan suci. Satu tayammum berlaku untuk satu amalan fardhu, dan satu tayamum boleh untuk beberapa shalat nafilah yang dikehendaki.

Setelah syarat-syarat sah tayamum terpenuhi maka seseorang boleh melakukan ibadah wajib maupun sunnah yang sedianya didahului dengan wudhu, sebab tayamum adalah pengganti wudhu. Sebagaimana wudhu, tayamum juga memiliki pembatal-pembatalnya, Imam Abu Syuja’ menyebutkan ada tiga pembatal tayamum.

Pertama, semua yang membatalkan wudhu juga membatalkan tayamum. Di antara pembatal wudhu adalah: segala sesuatu yang keluar dari farji (baik qubul maupun dubur), tidur lelap—yang sampai membuat tidak tersadarkan diri, hilangnya akal disebabkan sakit, pingsan, mabuk, atau lainnya, menyentuh kulit lawan jenis tanpa pembatas apa pun; meskipun dia adalah suami atau istrinya, dan menyentuh kemaluan tanpa pembatas apa pun.

BACA JUGA: Fardhu Dan Sunnah Tayamum

 

Kedua, selain batal dengan pembatal-pembatal dalam wudhu, tayamum juga menjadi batal jika melihat atau menemukan air sebelum mendirikan salat. Namun pembatal ini khusus bagi orang yang bertayamum karena tidak mendapati air wudhu, karena tayamum adalah penganti wudhu ketika tidak ada air. Jika ternyata seseorang yang bertayamum mendapatkan air, gugurlah fungsi penggantinya dan kembali pada hukum awalnya; yaitu berwudhu.

Tidak perlu mengulangi shalatnya ketika mendapati air setelah mendirikan salat. Dalam sebuah riwayat Abu Dawud dikisahkan ada dua sahabat yang bertayamum kemudian mendirikan salat. Setelah selesai mendirikan salat, tiba-tiba keduanya mendapatkan air. Atas kejadian itu, salah satunya mengulang shalat dan yang satunya lagi tidak mengulanginya.

Kejadian itu kemudian diadukan kepada Rasulullah dan Rasulullah bersabda kepada yang tidak mengulangi shalat, “Engkau sesuai dengan sunnah,” dan bersabda kepada orang mengulangi shalat dengan, “Engkau akan mendapatkan dua pahala.” (HR. Abu Dawud)

Ketiga, tayamum dibatalkan dengan murtad. Ini adalah pendapat yang paling rajih dalam mazhab syafi’i.

 

MENGUSAP PERBAN

Yang dimaksud dengan jaba’ir (balutan) menurut istilah fikih adalah sesuatu yang diikat pada tempat luka, kudis, dan tempat membuang darah.

Menurut ijmak ulama, orang yang memiliki luka perban wajib mengusap perbannya ketika bersuci, bila ia tidak membuka perbannya untuk dibasuh air.

Sedangkan bila kondisinya berkaitan dengan pilihan, antara apakah dia membuka atau tidak membuka perbannya, bila ketika memakainya ia dalam kondisi suci dari hadats maka mengusap perban hukumnya mubah, sedangkan bila belum bersuci maka ia harus membuka perban dan membasuhnya selama tidak membahayakan. Apabila takut akan terjadi mudarat yang serius dengan membukanya maka mengusap perban telah dianggap cukup.

SATU TAYAMUM UNTUK SATU FARDHU

Tayamum hanya boleh digunakan untuk satu kali fardhu saja, berdasarkan ucapan Abdullah bin Abbas, “Di antara yang diajarkan dalam sunnah adalah tidak mendirikan shalat dengan satu kali tayamum kecuali satu shalat fardhu.” (HR. Ad-Daruquthni) Maksud kata sunnah dalam ucapan para sahabat Nabi adalah sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah.

Para ulama mazhab syafi’i juga berdalih dengan firman Allah dalam surat al-Maidah ayat ke-6, yang memerintahkan untuk berwudhu (atau bertayaymum) setiap hendak mendirikan shalat. Kemudian ada pengkhususan pada wudhu melalui apa yang dilakukan oleh Rasulullah, di mana pada peristiwa pembebasan kota Mekah beliau shalat fardhu lima waktu hanya dengan satu kali wudhu saja. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Umar dan para ulama menyatakan sebagai riwayat yang shahih.

Sisalah tayamum yang masih pada hukum awalnya, dan tayamum tidak bisa diqiyaskan secara mutlak dengan wudhu.

 

BACA JUGA:  Lima Syarat Tayamu

 

Meskipun dalam mazhab Syafi’i persoalan ini diperselisihkan namun pendapat inilah yang lebih rajih, yaitu satu tayamum tidak dapat digunakan untuk mengerjakan dua ibadah fardhu sekaligus, baik dua ibadah fardhu yang serupa; seperti dua shalat fardhu, maupun dua ibadah fardhu yang berbeda; seperti shalat fardhu dan thawaf. Berbeda dengan nafilah, satu tayamum boleh digunakan untuk mengerjakan beberapa nafilah. Wallahu a’lam. []

 

Daftar Pustaka:

  1. An-Nawawi, al-Majmu’ Syarhu al-Muhadzab (1/37).
  2. Ibnu Qudamah, asy-Syarhu al-Kabir (1/163).
  3. Al-Hushni, Kifayatu al-Akhyar, hal. 95-100.

 

 


Baca artikel menarik lainnya disini

 

 

dibuka peluang menjadi agen dikota anda, info dan pemesanan majalah fikih hujjah hubungi:

Tlp: 0821-4039-5077 (klik untuk chat)

facebook: @majalah.hujjah

%d bloggers like this: