Tata Cara Istijmar

Tata Cara Istijmar

“Yang utama adalah beristinja’ dengan batu kemudian diikuti dengan air. Dan boleh menggunakan air saja atau menggunakan tiga batu yang dengannya dapat membersihkan tempat keluarnya kotoran. Bila menghendaki dengan salah satunya maka istinja’ menggunakan air lebih utama. ”

Pada edisi sebelumnya dijelaskan pengertian dan hukum istinja’, di mana istinja’ adalah membersihkan najis dengan air atau mengurangi kadar najisnya dengan batu. Ada istilah lain yang berkaitan dengan pembahasan ini, yaitu istijmar, membersihkan najis khusus dengan batu atau sejenisnya. Sehingga, istilah istinja’ lebih umum dari pada istijmar, dan pada edisi ini akan menjelaskan tata cara istijmar.

Secara umum alat yang digunakan untuk beristinja’ dari kotoran depan maupun belakang adalah batu dan air. Seseorang yang ingin beristinja’ dari dua kotoran dan menghendaki menggunakan dua alat tersebut maka akan lebih utama bila ia beristinja’ dengan batu terlebih dahulu kemudian menggunakan air. Namun bila ia menghendaki menggunakan satu dari dua alat tersebut lebih utama dengan menggunakan air, karena air lebih membersihkan, meskipun jika ia menghedaki dengan batu saja pun itu diperbolehkan.

BACA JUGA: Istinja Kewajiban Yang Menyehatkan

Berdasarkan sabda Rasulullah, “Bila salah seorang di antara kalian pergi untuk buang air besar hendaklah ia membawa tiga batu dan membersihkan bekas kotoran dengannya, demikian itu diperbolehkan.” (HR. Abu Dawud)

Beristinja’ dengan air barangkali sudah biasa kita lakukan, namun belum tentu kita terbiasa beristinja’ dengan batu, atau yang disebut dengan istijmar.

Sebenarnya yang diwajibkan dalam beristijmar adalah mengusapkan tiga batu pada tempat keluarnya kotoran.

Dalam salah satu riwayat disebutkan, istijmar dilakukan dengan mengambil sebuah batu kemudian mengusapkannya pada sisi kanan –di tempat keluarnya kotoran— dari arah depan ke belakang, lalu mengusapkannya kembali pada sisi kiri dari arah belakang ke depan. Kemudian mengambil batu yang lain lalu mengusapkannya pada sisi kiri dari arah depan ke belakang  dan diteruskan dengan mengusapkan pada sisi kanan dari arah belakang ke depan. Kemudian mengambil batu yang lain, yaitu batu yang ke tiga dan mengusapkannya pada seluruh bagian tempat keluarnya kotoran. Riwayat ini dinilai lebih shahih karena menggunakan semua batu untuk mengusap tempat keluarnya kotoran.

Istijmar wajib menggunakan tiga batu meskipun merasa cukup dengan satu atau dua batu saja. Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Salman z berkata, “Kami dilarang menghadap kiblat saat buang air besar dan kecil, dilarang pula beristinja’ dengan tangan kanan atau beristinja’ dengan kurang dari tiga batu, atau beristinja’ dengan kotoran dan tulang.” (HR Muslim).

Lantas apakah istijmar menggunakan batu bersisi tiga sama hukumnya menggunakan batu berjumlah tiga? Menurut mazhab Syafi’i diperolehkan mengusap dengan satu batu yang memiliki tiga sisi. Karena yang diminta dari istinja’ menggunakan tiga batu adalah sisi-sisinya, bukan jumlah batu dan jenisnya. Sehingga dengan beberapa syarat tertentu diperbolehkan untuk beristinja’ menggunakan selain batu. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah bersabda, “Bila salah seorang di antara kalian buang air maka beristinja’lah dengan tiga batu, atau dengan tiga batang kayu.” (HR. Ad-Daruquthni)

Di antara syarat diperbolehkannya istinja’ dengan selain batu adalah hendaknya berbentuk benda yang keras, suci, dapat membersihkan, bukan dari benda yang dimakan, bukan dari benda yang haram dan bukan dari anggota tubuh binatang yang masih melekat di jasadnya.

Kaum wanita mempunyai cara khusus dalam beristinja’ dan apa yang telah disebutkan di atas adalah tata cara bagi kaum laki-laki pada umumnya.

Istinja’ dari najis dubur bagi wanita sama seperti yang dilakukan laki-laki. Adapun istinja’ dari najis qubul di sini dibedakan antara wanita yang masih bikr (perawan) dan tsayyib (yang sudah menikah). Bagi wanita yang masih bikr cara istinja’nya sama dengan kaum lakilaki. Adapun wanita yang sudah menikah bila ia mendapati najis qubul tersebut sampai pada bagian keluarnya darah haid dan nifas maka wajib baginya untuk membersihkan dengan air. Wallahu a’lam. []

Referensi:

Abu Husain Yahya bin Salim al-‘Imrani, al-Bayan fi Mazhabi Imam asy-Syafi’i, 1/213-231, cet. Darul Minhaj.

Muhammad al-Husaini al-Hushni, Kifayatul Akhyar, hal. 50-51, cet. Dar al-Maktabah al-Ilmiyyah.

%d bloggers like this: