Tasyahud

Tasyahud

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا جَلَسَ فِي الصَّلاَةِ وَضَعَ يَدَهُ اليُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ  وَرَفَعَ إِصْبَعَهُ الَّتِي تَلِي الإِبْهَامَ يَدْعُو بِهَا وَيَدُهُ اليُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ بَاسِطَهَا عَلَيْهِ

Sesungguhnya Nabi SAW saat duduk di dalam shalatnya meletakkan telapak tangan kanannya di atas lututnya dan mengangkat jari sebelah jempolnya (telunjuk). Beliau berdo’a dengannya, sedangkan telapak tangan kirinya diletakkan di atas lutut yang satunya. Beliau membuka telapak tangan kiri yang berada di atas lutut. )HR. Tirmidzi)

TASYAHUD

Kapan mulai mengangkat jari telunjuk ketika Tasyahud

Tasyahud adalah diantara salah satu gerakan shalat yang berapa pada rekaat terkahir atau pada rekaat ke dua. Para ahli fikih sudah menyebutkan bahwa barangsiapa yang mengisyaratkan dengan jari telunjuk (mengangkatnya) di bagian manapun asal masih dalam tasyahhud, maka berarti ia telah melaksanakan sunnah ini (mengangkat jari telunjuk) dan telah mengikuti petunjuk Nabi SAW dalam melaksanakan shalatnya. Adapun yang menjadi pembahasan di sini adalah kapan mengangkatnya dan ini adalah permasalahan afdhaliyyah saja.

Perselisihan dalam masalah afdhaliyyah (yang lebih utama) ini adalah perkara ijtihad ulama yang masing-masing pendapat memiliki dalil dan argumentasi.

Ada sebuah riwayat dari Ibnu Umar RA,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا جَلَسَ فِي الصَّلاَةِ وَضَعَ يَدَهُ اليُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ  وَرَفَعَ إِصْبَعَهُ الَّتِي تَلِي الإِبْهَامَ يَدْعُو بِهَا وَيَدُهُ اليُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ بَاسِطَهَا عَلَيْهِ

Sesungguhnya Nabi SAW saat duduk di dalam shalatnya meletakkan telapak tangan kanannya di atas lututnya dan mengangkat jari sebelah jempolnya (telunjuk). Beliau berdo’a dengannya, sedangkan telapak tangan kirinya diletakkan di atas lutut yang satunya. Beliau membuka telapak tangan kiri yang berada di atas lutut. )HR. Tirmidzi)

Sabda beliau (dan mengangkat jari sebelah jempolnya [telunjuk] yang digunakan berdo’a oleh beliau) menunjukan bahwa mengangkat telunjuk dimulai ketika berdo’a dalam tasyahhud. Adapun lafadz do’a dimulai dari dua kalimat syahadat karena di dalamnya terdapat pengakuan dan penetapan ke Maha Esaan Allah f, sedangkan hal itu adalah sebab do’a lebih berpeluang dikabulkan. Selanjutnya mulailah mengucapkan inti do’anya (Allahumma shalli ‘ala Muhammad) hingga akhir tasyahhud dan sampai akhir salam. Adapun awal tasyahhud (Attahiyyatulillah sampai ucapan kita wa ‘ala ‘ibadillahish shalihin) bukanlah termasuk do’a, namun itu adalah bentuk memuji Allah dan do’a kesalamatan bagi hamba-Nya.

Riwayat-riwayat yang ada dari para sahabat dan tabi’in dalam masalah ini menunjukkan bahwa mengisyaratkan jari telunjuk maksudnya adalah isyarat kepada tauhid dan ikhlas. Jadi, jari telunjuk tersebut hakikatnya adalah ungkapan dalam bentuk perbuatan tentang keimanan kepada Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Maka pantaslah jika awal isyarat telunjuk adalah lafadz syahadat (Asyhadu an laa ilaaha illallahu). Oleh karena itu Ibnu Abbbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Isyarat tersebut adalah ungkapan keikhlasan”.

Apa yang disebutkan di atas adalah salah satu pendapat di kalangan ahli fikih, yaitu permulaan isyarat telunjuk saat syahadat tauhid. Abu Abdillah Al-Khurasyi Al-Maliki (wafat: 1101 H) raimahullah berkata, “Dari awal tasyahhud hingga akhirnya, yaitu asyhadu an laa ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu dan sesuai dengan yang mereka sebutkan sampai selesai salam walaupun tasyahud tersebut panjang”. (Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi, Syarhu Mukhtashar Khalil, 1/288).

Al-Mubarakfury juga menjelaskan, dari dhahir hadist-hadist yang menunjukkan bahwa isyarat (mengankat jari telunjuk ketika tasyahud) dilakukan semenjak awal duduk.” (Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim al-Mubarakfury, Tuhfatul Ahwadzy 2/159). Ini juga merupakan pendapat para ahli fikih madzhab Maliki, bahwa tasyahud dimulai sejak awal tasyahud sampai akhir tasyahud. (Hasyiatu ad-Dasuqi ‘Ala asy-Syarhi al-Kabir, Ibnu Dasuqi,2/ 443)

Syaikh Shalih Al Munajjid menjelaskan, ada juga di antara ulama yang mengatakan bahwa isyarat telunjuk tersebut dimulai dari awal tasyahhud. Semua tasyahhud hakikatnya adalah do’a dan terdapat suatu riwayat dalam hadits bahwa beliau berdo’a dengannya. Adapun di awal tasyahhud (Attahiyyaatulillaah) ini adalah pujian mengawali do’a, maka hakikatnya pujian tersebut termasuk bagian do’a dan bukan keluar dari bagian do’a. (https://islamqa.info/ar)

Hukum menggerakkan jari ketika Tasyahud

Permasalahan satu ini sering jadi perdebatan di kalangan kaum muslimin. Apakah dalam tasyahud harus menggerakkan jari telunjuk, atau tidak menggerakkannya. Bagaimana pendapat para ulama mengenai hal ini.

Dalam permasalahan ini, para ahli fikih berbeda pendapat. Diantara pendapat mereka yaitu:

Pertama, orang yang sedang melakukan tasyahud tidak usah menggerakkan jari telunjuknya. Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas ahli fikih dari madzhab Syafi’i. Hal ini artinya di dalam madzhab Syafi’I sendiri terjadi perbedaan pendapat. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam an-Nawawi, dalam madzhab Syafi’i ada beberapa pendapat. Inilah pendapat mayoritas ahli fikih dalam madzhab Syafi’i yaitu tidak menggerak-gerakkan telunjuk ketika mengangkatnya dalam tasyahud. Seandainya digerakkan, hukumnya makruh, namun tidak membatalkan shalat karena gerakannya sedikit, ini pendapat pertama.

Adapun pendapat kedua dalam madzhab Syafi’I, menggerakkan jari ketika tasyahud diharamkan. Maka menggerakkan telunjuk dalam tasyahud, hal ini menyebabkan shalatnya batal. Namun pendapat ini adalah pendapat yang syadz (nyleneh) dan lemah.

Pendapat ketiga dalam madzhab Syafi’i yang dikemukakan oleh Abu Hamid dan Al Bandanijy, juga Al Qadhi Abu Thayyib, menggerakkan jari itu dihukumi sunnah. Mereka berdalil dengan hadits Wail bin Hujr dimana ia menceritakan mengenai tata cara (sifat) shalat Rasulullah SAW, beliau meletakkan kedua tangannya ketika tasyahud, lalu Wail berkata,

ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا

“kemudian Beliau mengangkat jarinya (telunjuk). Maka, aku melihat beliau menggerak-gerakkan jarinya dan berdoa dengannya.” (HR. Baihaqi)

Imam al-Baihaqi berkata, bisa jadi yang dimaksud dengan “yuharrikuha” (menggerak-gerakkan jari) adalah hanya berisyarat dengannya, bukan yang dimaksud adalah menggerak-gerakkan jari berulang kali. Sehingga jika dimaknai seperti ini maka tidak bertentangan dengan riwayat Ibnu Az Zubair. ” (Tuhfatul Ahwadzy, Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim al-Mubarakfury,  2/160)

Disebutkan pula dengan sanad yang shahih dari Ibnu Zubair RA,

كَانَ يَشِيرُ بِإِصْبَعِهِ إِذَا دَعَا، لا يُحَرِّكُهَا

bahwasanya Nabi SAW berisyarat dengan jarinya ketika berdoa, namun beliau tidak menggerakkan jarinya. (HR. Abu Dawud)

Adapun hadits dari Ibnu ‘Umar dari Nabi SAW yang menyatakan bahwa menggerak-gerakkan jari dapat mengusir setan, hadits tersebut tidaklah shahih. Al-Baihaqi menyatakan bahwa al-Waqidi bersendirian dan ia adalah perawi yang dhaif (lemah). (Al Majmu’, Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain an-Nawawi Ad-Dimasyqiy, 3/ 454).

Tidak menggerakkan jari telunjuk ketika tasyahud juga merupakan pendapat para ahli fikih dari madzhab Hambali. (al-Mausu’ah al-Fikhiyah al-Kuwaitiyah, 27/101)

Kedua, orang yang sedang melakukan tasyahud hendaknya disertai dengan menggerakkan jari telunjuknya kesamping kanan dan kesamping kiri. Pendapat ini merupakan pendapat dari para ahli fikih madzhab Maliki. Akan tetapi mereka berbeda pendapat, menggerakkan jari telunjuknya hingga akhir atau hanya sampai pada tasyahud awal. Adapun pendapat yang diakui oleh madzhab ini adalah menggerakkan jari telunjuk kesamping kanan dan kesamping kiri hingga salam. (Hasyiyah Ad-Dasuqi ‘ala Asy-Syar’i Al-Kabir, Ad-Dasuqi, 2/442, al-Mausu’ah al-Fikhiyah al-Kuwaitiyah, 27/101-102).

Demikian pembahasan ringkas mengenai hukum mengangkat jari telunjuk dan menggerakkannya dalam shalat. Wallahu a’lam.

Oleh: Luthfi Fathani

 

%d bloggers like this: