Taman Para Pencari Ilmu

Judul Kitab: Raudhatu ath-Thalibin wa Umdatu al-Muftin.

Penulis: Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi.

Nama Populer: Imam An-Nawawi.

Jumlah Jilid: 8 jilid (sekitar 700 halaman/1 jilid).

Mazhab: Syafi’i.

Tahqiq: Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Mu’awwid

Link Download: https://archive.org/details/FPrawdat

 

Raudhatu ath-Thalibin wa Umdatu al-Muftin merupakan sebuah kitab fikih yang masyhur dan menjadi rujukan utama para penuntut ilmu untuk mempelajari fikih mazhab Syafi’i. Kitab yang terkenal dengan sebutan Raudhatu ath-Thalibin—atau hanya disebut dengan ar-Raudhah—adalah salah satu hasil karya Imam Muhyiddin Abu Zakariya bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi, yang terkenal dengan Imam an-Nawawi (631-676H).

Raudhatu ath-Thalibin adalah hasil ringkasan Imam an-Nawawi dari kitab al-Aziz karya Imam ar-Rafi’i, sedangkan kitab al-Aziz adalah ringkasan dari kitab al-Wajiz karya Imam al-Ghazali. Judul Raudhatu ath-Thalibin disambung dengan judul setelahnya yaitu wa Umdatu al-Muftin, artinya adalah sandaran atau rujukan para mufti, demikian ini karena di dalam Raudhatu ath-Thalibin dipaparkan persoalan-persoalan fikih secara terperinci dan mendetail.

 

Baca Juga: Kitab Rajih Madzhab Syafi’i

 

Ada satu kitab Imam an-Nawawi yang berjudul Minhaju ath-Thalibin wa Umdatu al-Muftin. Kitab Minhaju ath-Thalibin dan kitab Raudhatu ath-Thalibin pada dasarnya berasal dari satu sumber. Kitab Minhaju ath-Thalibin merupakan ringkasan dari kitab al-Muharrar, sementara kitab Raudhatu ath-Thalibin merupakan ringkasan dari kitab al-Aziz. Keduanya, yaitu al-Muharrar dan al-Aziz adalah sama-sama karya al-Rafi’i.

Ar-Raudhah artinya adalah taman, para pencari ilmu akan memandang kitab ini sebagai taman yang indah; yang dipenuhi dengan pernak-pernik ilmu pengetahuan fikih mazhab Syafi’i. Kitab ar-Raudhah jauh lebih tebal apabila dibandingkan dengan kitab al-Minhaj, meskipun terdiri dari bab dan pasal yang sama namun pembahasan dalam ar-Raudhah jauh lebih mendetail dan terperinci.

Kitab ar-Raudhah telah mengambil perhatian kaum muslimin khususnya para ulama fikih Syafi’i, terbukti bahwa banyak dari mereka yang melakukan aktifitas ilmiyah terhadap kitab ini, seperti mensyarah; meringkas; menulis catatan; mentahkik dan lain sebagainya. Ini menunjukkan betapa kitab ini diterima secara luas oleh kaum muslimin setelah masa Imam an-Nawawi, terlebih mereka yang ingin mempelajari mazhab Syafi’i.

Kitab ar-Raudhah telah dicetak berulang kali, salah satunya adalah cetakan Dar al-Kutub al-Ilmiyah pada tahun 2013 dan telah dicetak oleh beberapa penerbit yang lain. Dalam cetakan Dar al-Kutub al-Ilmiyah, penerbit menyertakan di dalamnya kitab al-Minhaj as-Sawi fi Tarjamati al-Imam an-Nawawi dan kitab Muntaqa al-Yanbu’ fima zada ‘ala ar-Raudhah min al-Furu’ yang keduanya disusun oleh Imam as-Suyuthi asy-Syafi’i.

Tujuan disertakannya dua kitab tersebut adalah untuk menyempurnakan apa yang ada di dalam ar-Raudhah sekaligus sebagai mukadimahnya. Al-Minhaj as-Sawi memaparkan biografi singkat Imam an-Nawawi dan Muntaqa al-Yanbu’ melengkapi apa yang kurang dalam kitab ar-Raudhah.

Imam an-Nawawi telah melalui usaha dan jerih payah dalam penyusunan kitab ar-Raudhah, yaitu beliau meringkas dari kitab al-Aziz karya Imam ar-Rafi’i. Terkait dengan metode peringkasannya maka telah beliau jelaskan dalam mukadimah: “Aku menerapkan metode pertengahan antara sangat meringkas dan sangat memperluas (pembahasan). Aku menghapus sebagian dalilnya, menguraikan maksud yang samar, menambahkan banyak pembahasan pada beberapa keterangan, menyebutkan keterangan yang di dalamnya terdapat perbedaan pendapat dengan mazhab Imam ar-Rafi’i.”

Dalam mukadimahnya beliau juga mengatakan: “Jika kitab ini dapat diselesaikan dengan sempurna, semoga orang yang menelaahnya akan benar-benar mengetahui mazhab Syafi’i, memperoleh kepercayaan yang sempurna terhadapnya dan menguasai seluruh apa yang dia perlukan dari berbagai permasalahan.”

Kitab ar-Raudhah—cetakan Dar al-Kutub al-Ilmiyah—telah ditahkik oleh dua orang Syaikh bernama Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Mu’awwid. Tentunya dengan pentahkikan ini akan memudahkan pembaca dalam menelaah dan mempelajarinya, seperti akan mendapatkan penjelasan ringkas tafsir ayat al-Qur’an, keterangan hadits, catatan penting, dan berbagai keterangan tambahan lainnya.

Sebagaimana kitab-kitab fikih yang lain, kitab ini dibuka dengan bab thaharah, kemudian shalat, jenazah, zakat, puasa, iktikaf, dan seterusnya sampai ditutup dengan bab ummahatul aulad. Wallahu a’lam. []

 

(** Disarikan dari mukadimah tahkik kitab Raudhatu ath-Thalibin wa Umdatu al-Muftin karya Imam an-Nawawi, 1/1-144, cetakan khusus, thn. 2003, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, dan dari situs http://abusyahmin.blogspot.co.id/2013/04/rawdhah-al-thalibin.html dengan tambahan dan perubahan)

%d bloggers like this: