Tag: kaidah fikih

Pengakuan yang Tidak Bisa Dibatalkan-hujjah.net

Pengakuan yang Tidak Bisa Dibatalkan

Pengakuan yang Tidak Bisa Dibatalkan     اَلْإِقْرَارُ لَا يُرْتَدُّ بِالرَّدِّ “Pengakuan tidak dapat ditolak (dengan pengingkaran atas pengakuan tersebut)”   Apabila seseorang mukalaf yang berakal mengakui sesuatu atas dirinya, ...

Keterbatasan Bukti Berdasar Pengakuan-dakwah.id

Keterbatasan Bukti Berdasar Pengakuan

 Keterbatasan Bukti Berdasar Pengakuan   اَلْإِقْرَارُ حُجَّةٌ قَاصِرَةٌ “Pengakuan merupakan dalil yang terbatas”   Pengakuan seseorang bisa dijadikan pijakan untuk memutuskan sesuatu dalam peradilan. Namun pengakuan tersebut hanya terbatas pada ...

Lafal Muthlaq Tetap Diberlakukan Sampai Ada yang Membatasinya

Lafal Muthlaq Tetap Diberlakukan Sampai Ada yang Membatasinya

اَلْمُطْلَقُ يَجْرِي عَلَى إطْلَاقِهِ مَا لَمْ يَقُمْ دَلِيْلُ التَّقْيـِيْدِ نَصًّا أَوْ دِلَالَةً “Lafal yang muthlaq tetap diberlakukan muthlaq selama tidak ada dalil—baik berupa nash atau indikasi petunjuk—yang membatasinya” Dalam berinteraksi ...

ijtihad

Perubahan Adat Bisa Menyebabkan Perubahan Ijtihad

لَا يُنْكَرُ تَغَيُّرُ الْأَحْكَام بتَغَيُّر الْأَزْمَان “Perubahan hukum-hukum (ijtihadiyyah) yang disebabkan perubahan (situasi dan kondisi) suatu zaman merupakan suatu yang tidak diingkari” MAKNA KAIDAH Semua ahli fikih sepakat bahwa syariat ...

syarat 'urf

Syarat ‘Urfi yang Tak Tertulis

اَلْمَعْرُوْفُ عُرْفًا كَالْمَشْرُوْط شَرْطًا “Sesuatu yang sudah dimaklumi secara tradisi bagaikan sesuatu yang disebutkan dalam persyaratan” Dalam kehidupan bermasyarakat, pada umumnya dikenal dua jenis peraturan, yaitu peraturan tertulis dan peraturan ...

orang bisu

Isyarat Orang Bisu Sama dengan Ucapannya

اَلْاِشَارَةُ الْمَعْهُوْدَةُ لِلْأَخَرَسِ كَالْبَيَانِ بِاللِّسَانِ “Isyarat yang dapat dimengerti dari orang bisu seperti penjelasan lisan(nya)” Islam memperlakukan secara adil setiap manusia; siapa pun mereka. Baik terhadap manusia yang sehat rohani ...

Makna ‘Urf

Mendahulukan Makna ‘Urf Atas Makna Bahasa

اَلْحَقِيْقَةُ تُـتْرَكُ بِدَلَالَةِ الْعَادَةِ “Makna hakiki (bahasa) diabaikan lantaran adanya petunjuk (kuat dari makna) adat” Sering kali kita mendapati suatu kata yang dipakai dengan makna tertentu oleh para penggunanya namun ...

adat sebagai pijakan hukum

Syarat Agar Adat Menjadi Pijakan Hukum

إِنَّمَا تُعْتَبَرُ الْعَادَةُ إِذَا اطَّرَدَتْ أَوْ غَلَبَتْ Adat yang dijadikan pijakan hukum hanyalah (adat) yang terus-menerus diamalkan dan barlaku umum اَلْعِبْرَةُ لِلْغَالِبِ الشَّائِعِ لَا لِلنَّادِرِ (Adat) yang menjadi pijakan hukum ...

Mempertimbangkan Kebiasaan Dalam Berdalil

Mempertimbangkan Kebiasaan Dalam Berdalil

اِسْتِعْمَالُ النَّاسِ حُجَّةٌ يَجِبُ الْعَمَلُ بِهَا “Apa yang biasa diperbuat (adat) orang banyak merupakan hujjah (dalil/argumentasi) yang harus diindahkan.” Sebagai makhluk sosial yang membutuhkan kehadiran dan bantuan orang lain, manusia ...

Adat Sebagai Salah Satu Pertimbangan Hukum

Adat Sebagai Salah Satu Pertimbangan Hukum

اَلْعاَدَةُ مُحَكَّمَةٌ “Adat bisa dijadikan pertimbangan hukum” Adat atau tradisi menempati posisi besar dalam pembahasan kaidah fikih. Hampir dapat dipastikan bahwa setiap kitab yang membahas kaidah-kaidah fikih mencantumkan kaidah tersebut. ...

Bukti yang Bisa dan yang Tidak Bisa Dijadikan Hujjah

Bukti yang Bisa dan yang Tidak Bisa Dijadikan Hujjah

لَا حُجَّةَ مَعَ الاِحْتِمَالِ النَّاشِئِ عَنْ دَلِيْلٍ “Tidak dapat dijadikan hujjah (suatu bukti) yang terindikasi (diragukan kredibelitsnya)  disebabkan suatu petunjuk dari dalil (bukti lain)” Hujjah (حُجَّة) secara etimologi berasal dari ...

Cara Menghukumi Sesuatu yang Mustahil.

Cara Menghukumi Sesuatu yang Mustahil

اَلْمُمْتَنِعُ عَادةً كَالْمُمْتَنِعُ حَقِيْقَةً “Sesuatu yang biasanya tidak mungkin terjadi (dihukumi) sebagaimana suatu yang hakikatnya tidak mungkin terjadi.” MAKNA DAN KEDUDUKAN KAIDAH Dalam bahasa Arab, mumtani’ berasal dari akar kata ...

bertindak berdasar dugaan

Bertindak Berdasar Dugaan

لَا عِبْرَةَ بِالظَّنِّ الْبَيِّنِ خَطَؤُهُ  “Zhann (praduga kuat) yang jelas kesalahannya tidak bisa dijadikan acuan hukum.” KEDUDUKAN KAIDAH Dalam pandangan ulama Ushul Fikih dan Fikih, zhann (praduga kuat) akan kebenaran ...

landasan hukum

Praduga Lemah Tidak Bisa Dijadikan Landasan Hukum

لَا عِبْرَةَ بِالتَّوَهُّمِ  “Tidak bisa dijadikan acuan hukum berupa praduga yang lemah (wahm)” KEDUDUKAN KAIDAH Dalam menetapkan suatu hukum, syariat Islam mengajarkan untuk berpegang pada ilmu, atau paling tidak zhan ...

Menghukumi Berdasarkan Apa Yang Dilafalkan

Menghukumi Berdasarkan Apa Yang Dilafalkan

لَا يُنْسَبُ إِلىَ سَاكِتٍ قَوْلٌ، وَلَكِنِ السُّكُوْتُ فِي مَعْرَضِ الْحَاجَةِ إلىَ اْلبَيَانِ بَيَانٌ “Tidak disandarkan suatu pernyataan pun pada orang yang diam. Akan tetapi, diamnya seseorang saat suatu keterangan dibutuhkan ...

Makna Tersirat vs Makna Tersura

Makna Tersirat Vs Makna Tersurat

لَا عِبْرَةَ بِالدَّلَالَةِ فِي مُقَابَلَةِ التَّصْرِيْحِ “Dalalah (makna tersirat) tidak dijadikan acuan jika bertentangan dengan tashrih (makna tersurat)” Dalam realitas harian, ada dua cara seseorang dalam mengekspresikan dan menyatakan keinginannya. ...

Hukum Asal Menjaga Kehormatan

Hukum Asal Menjaga Kehormatan

اَلْأَصْلُ فِي الْأَبْضَاعِ التَّحْرِيْمُ “Hukum asal jima’ (hubungan seksual) adalah haram” Allah SWT menciptakan manusia dan meninggikan derajatnya di banding makhluk-Nya yang lain. Salah satu wujudnya adalah Allah SWT menjaga ...

Hukum Asal, Segala Sesatu Itu Dihukumi Mubah

Hukum Asal, Segala Sesatu Itu Dihukumi Mubah

اَلْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ الإِبَاحَةُ “Hukum asal sesuatu itu mubah (boleh)” Allah SWT membolehkan banyak hal untuk manusia dalam kitab-Nya, mengharamkam beberapa hal, dan mendiamkan (tidak membolehkan atau mengharamkan) pada beberapa ...

Menjadikan Waktu Terdekat Sebagai Sandaran

Menjadikan Waktu Terdekat Sebagai Sandaran

اَلْاَصْلُ إِضَافَةُ الْحَادِثِ إِلىَ أَقْرَبِ أَوْقَاتِهِ “Pada asalnya suatu kejadian disandarkan pada waktu yang lebih dekat kejadiannya” Kaidah ini masih dimasukkan oleh ahli fikih sebagai kaidah turunan dari kaidah al-yaqinu ...

Berpegang Pada Sifat Asal, Bukan Sifat Yang Muncul Kemudian

Berpegang Pada Sifat Asal, Bukan Sifat Yang Muncul Kemudian

اَلْأَصْلُ فِي الْأُمُوْرِ الْعَارِضَةِ الْعَدَمُ “Hukum asal suatu perkara (sifat) ‘aridhah (yang baru muncul kemudian) adalah tidak ada” Kaidah ini ditempatkankan oleh ahli ushul fikih sebagai bagian dari kaidah al-yaqinu ...

Page 1 of 2 1 2