Tafsir Shiyam Ala Syahrur

Kewajiban shiyam bagi umat islam tidak diragukan lagi akan kebenarannya. Namun di era modern ini muncul pendapat yang nyeleneh, khususnya terkait dengan penafsiran ayat yang menjelaskan tentang ibadah shiyam.

tafsir shiyam ala syahrur

IDE ‘BARU’ SYAHRUR

Dalam salah satu artikelnya Dr. Muhammad Syahrur memaparkan tentang tafsir dari ayat 183 hingga ayat 185 dari surat al-Baqarah. Yaitu ayat-ayat yang menjelaskan tentang kaidah-kaidah dalam ibadah shiyam.

Di awal penjelasan tentang ayat ini, dia paparkan bahwa ayat 183 tersebut merupakan ayat muhkamat yang terkait dengan permasalahan shiyam. Sedangkan ayat-ayat selanjutnya adalah rincian dari ayat tersebut.

Dalam ayat 184 dijelaskan tentang hukum bagi mereka yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Di antaranya adalah mereka yang tidak mampu mengerjakan shiyam, yaitu orang yang sakit dan musafir. Maka boleh bagi dua kelompok ini untuk mengakhirkan pelaksanaan shiyam di lain hari.

Adapun bagi mereka yang mampu untuk mengerjakan shiyam (يطيقونه) dan tidak sakit dan safar maka boleh memilih antara membayar fidyah berupa memberi makan orang-orang miskin, atau apabila dapat mengerjakan shiyam maka itu lebih baik. Namun jika tidak mau berpuasa, maka boleh mengambil batas paling rendah dalam shiyam yaitu memberi makan orangorang miskin.

Menurut Syahrur, hal “baru” dalam pendapatnya yang membedakan dengan tafsir para ulama ahli tafsir klasik adalah terletak pada lafal “ُهَنْوُقْيِطُي“ (mampu mengerjakan shiyam). Para ulama ahli tafsir meletakkan huruf  لا yang berarti penegasian sebelum lafal tersebut, sehingga bermakna tidak mampu mengerjakan shiyam.

Oleh itu, para ulama ahli tafsir mengharamkan bagi siapa saja berbuka (tidak shiyam) pada bulan Ramadhan dengan alasan apapun, kecuali bagi yang sakit atau musafir. Jika ada yang tetap berbuka maka wajib berpuasa selama 2 bulan berturut-turut.

Menurut Syahrur tafsir seperti ini tidak menunjukkan bahwa Islam itu memberi kemudahan. Justru menegasikan ayat selanjutnya yang artinya,

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (al-Baqarah: 185)

Lebih lanjut Syahrur paparkan bahwa menetapkan keharusan shiyam kepada umat Islam dan memaksakannya kepada mereka, kemudian memberi hukuman shiyam 2 bulan berturut turut bagi yang melanggar, itu tidak dapat diterima. Sebab menjaga perasaan orang-orang yang shiyam itu adalah perbuatan yang baik. (http://www.newsyrian.net/ar/content- الصيام .وفق-الاستطاعة aBoDheic.dpbs/19/4/ 2016_10.00 WIB)

KETELEDORAN SYAHRUR

Entah “kebaruan” apa yang dimaksud oleh Syahrur di sini, namun yang pasti penafsiran dia kurang tepat. Terlihat seperti mengabaikan sejarah shiyam dan penafsiran para ulama ahli tafsir terdahulu. Padahal sangat mungkin sekali bagi Dr. Syahrur untuk mengkaji buku-buku tafsir para ulama.

Perlu diketahui bahwa penafsiran seperti ini bukanlah hal yang baru. Sebab sudah ada model penafsiran yang sama dari generasi salaf. Hanya saja pemahaman mereka tidak berkelanjutan, sebab ada ayat lain yang terkait dengan ayat ini. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas dan Salamah bin Akwa’

 ٌةَيْدِ فُهَونُيقِطُ يَينِذَّى الَلَعَ:( وُةَيٓاْ الِهِذَ هْتَلَزَا نَّمَل ا َّنِ مَاءَا شَمَ، وَامَا صَّنِ مَاءَ شْنَ ) مٍينِكْسِ مُامَعَط ي ِتّ الُةَيٓ الا ْتَلِزُى نَّتَ حَكِلَ ذَلَعَي فِدَتْفَيَ وَرِطْفُ يْاأن ُهْمُصَيْلَ فَرْهَّ الشُمُكْنِ مَدِهَ شْنَمَا فَهْتَخَسَنَا فَهَدْعَب ٍينِكْسِ مُامَعَ طٌةَيْدِ فُهَونُيقِطُ يَينِذَّى الَلَعَو

“Tatkala turun ayat, Barang siapa di antara kami yang menghendaki shiyam maka dia mengerjakannya, dan bagi yang tidak maka dia membayar fidyah. Hal itu berlangsung hingga turunlah ayat ُ

هْمُصَيْلَ فَرْهَّ الشُمُكْنِ مَدِهَ شْنَمَف

(HR. Bukhari, No: 4507 dan Muslim, No: 1154)

Dengan ini menjadi jelas bahwasanya perbedaan Syahrur dengan para salaf. Para salaf sebagai pelaku sejarah disyariatkannya shiyam dan generasi paling dekat dengan Rasulullah n, berubah tafsir tatkala ada ayat lain yang turun terkait dengan shiyam.

Selain itu jika dirunut dari sisi bahasa, lafal ُهَنْوُقْيِطُي itu menunjukkan kadar kemampuan yang hanya dapat menjalani satu perkara saja, sehingga tidak bisa dibarengi dengan hal lain. Jika dibarengi dengan hal lain maka akan menemui kesulitan (Ibnu Mandhur, Lisanul Arab, (Beirut: Dar Shadir, Cet-3, 1414 H), 10/233).

Oleh itu,  meskipun tanpa disertai dengan huruf لا yang berarti penegasan. Lafal ُهَنْوُقْيِطُي itu maknanya tidak berdiri sendiri, tapi berkaitan dengan lafal sebelumnya dalam ayat. Sebab yang dimaksud dengan mereka yang sebenarnya mampu namun kesulitan mengerjakan shiyam tidak lain adalah orang sakit dan musafir.

baca juga: Ayat Musykil Ulil Abshar

Selanjutnya terkait dengan hukuman berupa shiyam selama 2 bulan berturutturut. Ini adalah tahap kedua dari 3 macam hukuman. Tahap pertama adalah membebaskan budak dan tahap ketiga adalah memberi makan orang miskin. Jika tetap tidak mampu maka bersedekah kepada keluarganya sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim (HR. Bukhari, No: 2600 dan Muslim, No: 1111). Wallahu A’lam. []

 

Ilyas Mursito

%d bloggers like this: