Tafsir Nyeleneh Maulana Umar Masalah Poligami

Tafsir Nyeleneh Maulana Umar Masalah Poligami

Pemikir bebas biasanya lebih terbuka untuk mengambil pendapat siapapun, tanpa memfilternya. Ada seorang cendikiawan Pakistan, bernama Maulana Umar Ahmad Utsmani. Dia dijadikan rujukan bagi pengusung feminisme. Salah satunya pemikiran dia dalam masalah poligami.

PENAFSIRAN UMAR AHMAD

Maulana Umar Ahmad Utsmani adalah seorang Alim pakistan. Dia mempunyai pandangan yang sangat berbeda dari para ulama tradisional. Dia telah menjelaskan secara detail tentang masalah poligami.

Pertama, akar kata zauj dalam bahasa arab berarti pasangan (suami istri) atau satu pasangan dengan yang lain. Kedua, pasangan tersebut saling melengkapi satu sama lain.

Oleh karena itu, menurutnya zawwaja atau tazawwaja berarti seorang laki-laki mengawini perempuan, yang menyatakan secara tidak langsung terjadi antara dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan. Dengan demikian, dari arti kata zawwaja saja sudah mengharuskan satu laki-laki dan satu perempuan, bukan banyak perempuan.

BACA JUGA: KEADILAN DALAM POLIGAMI

Kemudian Umar Ahmad mengutip surat An-Nisa ayat 1. Allah f berfirman, “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak”.

Bertolak dari ayat ini Umar Ahmad menjelaskan bahwa alam menginginkan satu perempuan untuk setiap laki-laki.

Selanjutnya Maulana Umar juga mengutip firman Allah f dalam surat An-Najm ayat 45,

“Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita”.

Dari beberapa ayat ini, menurut Maulana Umar, jelas bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan bersama-sama dan menciptakan satu perempuan untuk setiap laki-laki. Ini adalah normalnya dan hanya saat kondisi yang luar biasa aturan ini bisa berubah.”

Selain itu, Maulana Umar juga mengomentari firman Allah f dalam surat an-Nisa ayat 20,

Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?

Menurutnya, ayat ini menjelaskan secara jelas jika kamu ingin mengambil istri yang lain, ceraikan istri pertama ini, berarti seseorang hanya bisa mempunyai satu istri dalam satu waktu dalam kondisi yang normal” (Maulana Umar Ahmad Utsmani, Fiqh al-Quran, (Karachi, 1980), 1/4586-5000)

PEMAKNAAN YANG SEHARUSNYA

Menanggapi pendapat Maulana Umar, perlu ditelisik satu persatu. Pertama, tentang makna zauj. Az-Zauj tidak hanya memiliki 2 makna, selain bermakna pasangan, ia juga bermakna individu (Lisan al-Arab, 2/291). Artinya zauj itu menunjukkan kepada individu, sehingga lafal tazawwaja bukan berarti mengharuskan bahwa pasangan yang melengkapi itu hanya satu. Bisa jadi lebih dari itu.

Kemudian dalam surat An-Nisa ayat satu, sebagaimana dijelaskan Al-Baidhawi dalam tafsirnya, penyebutan hawa yang diciptakan untuk adam bermakna bahwa hawa sebagaimana manusia yang lain, tercipta dari satu jiwa yaitu adam (Al-Baidhawi, Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta’wil, Tahqiq: Muhammad al-Mar’asli, (Beirut: Dar Ihya Turats, Cet-1, 1418 H), 2/58).

Selanjutnya terkait dengan surat An-Najm. Ayat ini menjelaskan, yang namanya pasangan adalah laki-laki dan perempuan, bukannya laki-laki dan laki-laki atau perempuan dan perempuan (At-Thabari, Jami al-Bayan fi Takwil al-Quran, Tahqiq: Ahmad Syakir, (Muassasah ar-Risalah, Cet-1, 1420 H), 22/548).

Selain itu, penyebutan pasangan dalam ayat, ada laki-laki dan ada perempuan, itu berfaedah menjelaskan perihal jenis ciptaan Allah dari sisi jenis kelamin. Dan tidak ada ahli fiqih yang mengambil kesimpulan hukum dari ayat ini bahwa untuk laki-laki hanya berhak mendapatkan 1 perempuan (Al-Qurtubi, Al-Jami li Ahkam al-Quran, Tahqiq: Ahmad Al-Bazdawi, (Kairo: Dar Kutub al-Mishriah, Cet-2, 1384 H), 5/2).

Dari surat an-Nisa ayat 20, Maulana Umar menyimpulkan adanya keharusan menceraikan istri disaat ingin memiliki istri lagi. Padahal dalam nash ayatnya tidak didapati lafal atau indikasi yang mengarah kepada perintah tersebut.

Dalam ayat tersebut, menerangkan tentang ketentuan bagi suami istri yang keduanya ingin bercerai. Ada ikhtilaf di antara ulama Fikih, ada yang membolehkan bagi lelaki untuk meminta kembali mahar yang dulu diberikan. Tapi ada sebagian yang tidak membolehkan (Ibid, 5/99).

Terlepas dari penafsiran para ahli tafsir tersebut. Nampak ketidak-konsistenan Maulana Umar dalam menafsiran ayat. Ketika berbicara perihal makna zauj, terlihat seakan dirinya begitu memperhatikan teks dari lafal yang ditafsiri. Tapi, ketika mentafsirkan ayat, perhatian terhadap teks ayat terlihat diabaikan, sehingga yang nampak adalah adanya pemaksaan dalam penafsiran. Wallahu A’lam.  [.]

 

 

%d bloggers like this: