Sunnah Wudhu

Sunnah Wudhu

(Basmalah & Mencuci Tangan)

 

وَسُنَنُهُ عَشْرَةُ أَشْيَاءَ: التَّسْمِيَّةُ وَغَسْلُ الْكَفَّيْنِ قَبْلَ إِدْخَالِهِمَا الإِنَاءِ

“Sunah-sunah (wudhu) itu ada sepuluh. (Pertama), mengucapkan basmalah; (kedua), mencuci kedua tangan sebelum memasukkannya ke dalam bejana.”

Setelah menyebutkan fardhu-fardhu dalam wudhu, Syaikh al-Qadhi Abu Syuja’ menyebutkan sepuluh amalan yang dikategorikan sebagai sunah dalam wudhu. Dua di antaranya adalah mengucapkan basmalah bila ingin memulai wudhu dan mencuci dua tangan sebelum memasukkannya ke dalam bejana.

Mengucapkan Basmalah

Mengucapkan basmalah sebelum berwudhu. Dalam hal ini para ahli fīkih berselisih pendapat. Menurut Imam Ahmad mengucapkan basmalah sebelum berwudhu adalah wajib, berdasarkan sabda Rasulullah,

لا وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ

“Tidak (dianggap) wudhu seseorang yang tidak mengucapkan basmalah padanya.” (HR. At-Tirmidzi) [Ibnu Qudamah, Al-Mugni, 1/145]

Namun menurut pendapat jumur ahli fikih, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy-Syafi’i dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, mengucapkan basmalah sebelum berwudhu adalah sunah. Dengan berdalih, Rasulullah pernah mengajarkan seseorang tata cara berwudhu seraya bersabda, “Berwudhulah seperti yang diperintahkan Allah.” (HR. At-Tirmidzi).

Sementara dalam perintah wudhu, Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6).

Dalam firman-Nya, Allah tidak menyebutkan perintah mengucapkan basmalah. (An-Nawawi, Al-Majmu’, 1/346)

Mereka juga berdalih bahwa kebanyakan ulama yang mensifati wudhu Nabi tidak menyebutkan di dalamnya untuk mengucapkan basmalah. Seandainya itu diwajibkan tentunya akan disebutkan. Pendapat ini pula yang dipilih oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, dan ulama kontemporer lainnya. (Al-Utsaimin, Syarhu al-Mumti’, 1/130, 300)

Oleh karena itu, bila seseorang berwudhu namun ia tidak mengucapkan basmalah sebelumnya maka wudhunya tetap sah, hanya saja ia tidak mendapatkan pahala sunahnya. Namun seyogiyanya, seorang muslim tidaklah menginggalkan basmalah dalam berwudhu, bahkan dalam segala urusannya, karena segala urusan yang diawali dengan menyebut asma’ Allah maka urusan tersebut akan bertambah berkahnya.

Cuci Tangan Sebelum Dicelupkan Bejana

Mencuci telapak tangan sebelum dicelupkan bejana. Berdasarkan sabda Rasulullah:

وَإِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَيْهِ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهُمَا فِي الإِنَاءِ ثَلاَثاً فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لاَ يَدْرِيْ أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

“Bila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, hendaknya mencuci kedua tangannya sebanyak tiga kali sebelum mencelupkannya pada bejana. Karena ia tidak mengatahui di mana sajakah tangannya bermalam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ini berbeda dengan membasuh tangan yang hukumnya fardhu, karena dilakukan sebelum membasuh anggota fardhu dalam wudhu. Pada umumnya, orang-orang berwudu dengan pancuran air atau dengan bejana yang berisi air. Tetapi tidak selamanya tangan mereka suci dari najis. Oleh karena itulah disunahkan untuk membasuh kedua telapak tangan sebelum dicelupkan bejana, agar air yang digunakan untuk berwudhu tidak tercampur dengan najis yang ada pada tangan.

Kendati demikian, Syaikh al-Husaini al-Husni dalam kitab Kifayatul Ahyar fi Hilli Ghayati al-Ikhtishar hlm. 42 menjelaskan beberapa keadaan terkait hal ini. Pertama,  seseorang yang benar-benar yakin tangannya najis, makruh baginya mencelupkan kedua tangannya sebelum dicuci sebanyak tiga kali. Makruh yang dimaksud di sini adalah makruh tahrim, karena dapat merusak air.

Kedua, orang yang ragu apakah kedua tangannya najis, seperti orang tidur yang tidak tahu di manakah kedua tangannya bermalam. Orang dalam keadaan seperti ini makruh hukumnya mencelupkan kedua tangannya dalam bejana sebelum dicuci sebanyak tiga kali berdasarkan sabda Rasulullah di atas. Demikian ini adalah pendapat mazhab Syafi’i dan Maliki.

Sebagian ulama berpendapat wajib mencuci kedua tangan sebelum dicelupkan pada bejana setelah bangun dari tidur, tidak membedakan antara tidur pada malam hari atau siangnya. Namun menurut pendapat Imam Ahmad hanya diwajibkan pada tidur malam saja, berdasarkan sabda Rasulullah, “Aina batat yaduhu,” yang artinya, “Di mana tangannya bermalam.”

Ketiga, seorang yang yakin kedua tangannya suci, tidak dimakruhkan baginya mencelupkan tangannya tanpa dicuci terlebih dahulu, hanya saja dianjurkan untuk mencucinya terlebih dahulu.

baca juga: Membasuh Anggota Wudhu Secara Beruntun

Adapun mencuci sebanyak tiga kali itu disunahkan saja. Ibnu Rusyd menjelaskan, para ulama sepakat bahwa kewajiban mencuci anggota wudhu hanyalah satu kali saja, adapun dua atau tiga kali itu disunahkan. Senada dengan apa yang katakan oleh Imam an-Nawawi, “Kaum muslimin sepakat bahwa kewajiban mencuci anggota wudhu hanyalah satu kali saja, adapun tiga kali maka itu sunah.” [An-Nawawi, Syarhu Muslim, 1/106, 144]

%d bloggers like this: