Sunnah Ringan, Sehatkan Badan

Sunnah Ringan, Sehatkan Badan.

Islam adalah agama yang sangat memerhatikan kebersihan dan kesehatan. Semua kitab fikih selalu dimulai dengan pembahasan tentang kitab thaharah, yaitu bersuci dari hadats dan najis. Kebersihan atau kesucian badan dari hadats besar, hadats kecil dan najis merupakan bagian dari fitrah para nabi dan manusia yang berperadaban tinggi.
Abu Hurairah s meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda, “Lima perbuatan yang termasuk fitrah adalah khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur kumis.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Sulaiman al-Khathabi, anNawawi, dan mayoritas ulama hadits menjelaskan bahwa makna fitrah dalam hadits-hadits di atas adalah perbuatan yang biasa dilakukan oleh para nabi dan rasul terdahulu. Kemudian perbuatanperbuatan tersebut dilanjutkan dan dipelihara oleh Rasulullah ﷺ.

Berbagai penelitian medis telah mengungkapkan nilai kesehatan dilaksanakannya perbuatan-perbuatan fitrah tersebut dan berbagai dampak negatif akibat meninggalkannya.

KUKU, KHITAN DAN BULU KEMALUAN

Kuku yang dibiarkan panjang dapat menjadi sumber penyakit, karena pada kuku yang panjang terdapat jutaan bakteri. Kuku yang panjang relative lebih sulit untuk menjaga kebersihannya.

Sementara itu, rambut kemaluan yang dibiarkan tumbuh panjang tanpa dicukur bisa menjadi sarang kutu rambut kemaluan (Pedikulosis pubis) yang dapat menyebabkan bisul dan radang kemaluan. Penyakit ini banyak terjadi di Eropa, di negara-negara berpenduduk mayoritas Kristen, Katholik dan atheis, yang tidak mengamalkan perbuatan fitrah ini.

Berbagai penelitian medis juga menemukan fakta tingginya kalkulasi kasus gangguan saluran kencing pada orang-orang yang tidak dikhitan. Penyebabnya adalah beberapa bakteri, terutama bakteri E. Coli dan Klebsiella. Penyakit kencing nanah atau gonore juga banyak terjadi pada orang-orang yang tidak dikhitan. Selain itu, diteliti bahwa kasus kanker leher rahim ada hubungan sebab-akibat dengan kaum laki-laki yang tidak dikhitan.

KEBERSIHAN JARI DAN KETIAK

Dalam ilmu medis, membasuh dan membersihkan sela-sela jari berfungsi menghilangkan koloni bakteri yang hidup di bagian tersebut. Sela-sela jari merupakan tempat yang kondusif bagi bakteri untuk hidup.

Adapun mencabut rambut ketiak berfungsi untuk menghilangkan berbagai bakteri yang hidup di sana. Ketiak merupakan salah satu tempat berkembangnya berbagai kotoran dan bakteri, terutama jamur. Beberapa bakteri memang lebih memilih hidup di rambut yang tumbuh pada bagian tubuh luar yang tersembunyi, seperti ketiak.

KEBERSIHAN KEMALUAN DAN ANUS

Sebelum melaksanakan shalat, setiap muslim wajib mensucikan kemaluan (qubul) dan anus (dubur) dari najis. Kemaluan adalah tempat keluarnya benda najis yaitu air kencing, wadi (sisa air kencing), dan madzi (cairan yang keluar karena dorongan syahwat seksual, namun tanpa disertai kenikmatan dan kecapekan). Sedangkan anus adalah tempat keluarnya benda najis yaitu tinja (feses) dan ampas metabolisme tubuh lainnya.

BACA JUGA: Pola Makan Islami Demi Kesehatan Jasmani

Dalam hukum Islam, kotoran berupa benda padat maupun cair yang keluar dari kemaluan maupun anus dihukumi sebagai benda najis. Secara medis, najis tersebut mengandung banyak bakteri dan racun yang sangat berbahaya.
Setiap kali seorang muslim selesai melakukan buang air kecil atau buang air besar, Islam memerintahkan kepadanya untuk membersihkan kemaluan dan anusnya dengan air. Tujuannya adalah menghilangkan sisa kotoran najis tersebut, yang mungkin saja menempel pada anggota tubuh atau pakaiannya.

Islam memerintahkan pula setiap muslim untuk menjauhi pakaian atau tempat yang terkena najis tersebut, serta tidak menyentuhnya sampai pakaian atau tempat tersebut dibersihkan.

Secara hukum fiqih, membersihkan kemaluan dan anus dengan air dari najis tersebut merupakan amalan ibadah. Adapun secara medis, kemaluan dan anus yang kebersihannya tidak terjaga akan rentan terkena berbagai penyakit kanker.

Sebuah penelitian di Fakultas Kedokteran, University of Manchester mengungkapkan bahwa bakteri dapat berpindah ke badan seseorang saat ia membersihkan kemaluannya dengan tisu, meskipun tisu yang digunakan tersebut mencapai delapan lapis.

Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa satu gram tinja mengandung sekitar 100 miliar bakteri. Sementara itu pada penderita typhus, dalam satu gram tinjanya terdapat sekitar 45 juta bakteri Salmonella yang menjadi penyebab penyakit types. Pada penderita disentri dan kolera, jumlah bakteri yang terkandung di dalam tinjanya terlalu banyak, sehingga para peneliti tidak mampu memperkirakannya.

Maha Suci Allah, ternyata dalam syariat-syariat-Nya terdapat kemanfaatan dunia yang luar bisa bagi umat manusia. Wallahu a’lam bish-shawab. [ ]
Hikmah

Referensi: Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim. Yusuf Al-Hajj Ahmad, Mausu’atu al-I’jaz al-Ilmi fil Qur’an was Sunnah al-Muthahharah.

%d bloggers like this: