Sumber-Sumber Hukum Dalam Islam

Sumber-Sumber Hukum Dalam Islam

Sesungguhnya tidaklah cukup seseorang menetapkan suatu hukum hanya dengan berlandaskan kepada satu ayat di dalam al-Qur’an yang ia fahami sendiri. tidaklah cukup pula, dengan membaca satu hadits lantas menetapkan hukum dalam suatu perkara. Karena di dalam ajaran agama islam terdapat sumber-sumber hukum yang digunakan untuk menetapkan suatu hukum dalam sebuah permasalahan. Para ulama membagi sumber hukum tersebut menjadi dua bagian, yaitu:

Pertama , Sumber dalil syar’I yang para ulama telah sepakat atas sahnya hukum yang disandarkan kepadanya. Sumber-sumber dalil tersebut ialah, al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas.

Kedua, Sumber dalil syar’I yang para ulama masih berselisih akan kebolehannya menjadi sumber dalil. Sumber-sumber dalil tersebut diantaranya, Istihsan, Maslahah  Mursalah, Ishtishhab, ‘Urf, Madzhabush Shahabi, Syar’u man Qablanaa dan Saddudz dzaraai’.

Sumber-sumber hukum yang disepakati

            Sumber-sumber hukum yang disepakati oleh para ulama tersebut yaitu:

Pertama al-Qur’an, adalah kalam Allah Ta’ala yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan bahasa arab, tertulis di dalam lembaran-lembaran yang disalin secara mutawatir, membacanya adalah ibadah, diawali surat al-Fatihah dan ditutup dengan surat An Naas.

Kedua as-Sunnah, adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW baik ucapan, perbuatan atau persetujuan. As-Sunnah memiliki kedudukan penting bagi al-Qur’an, karena as-Sunnah memiliki fungsi yang sangat urgen bagi al-Qur’an, yaitu:

  1. As-Sunnah menguatkan al-Qur’an, contohnya, perintah untuk mengerjakan shalat, dll.
  2. As-Sunnah sebagai penjelas al-Qur’an, contohnya, tatacara shalat.
  3. As-Sunnah menghapus hukum dalam al-Qur’an, ini adalah pendapat jumhur ulama, kecuali Imam Syafi’i. Contohnya, penghapusan hukum bolehnya berwasiat sebelum meninggal kepada anak atau kerabat.
  4. As-Sunnah membawa hukum baru yang tidak terdapat didalam al-Qur’an. Contohnya, haramnya daging keledai jinak.

Ketiga Ijma’, adalah kesepakatan para mujtahid dari ummat Nabi Muhammad SAW setelah beliau wafat atas hukum syar’I pada suatu masa tertentu. Contoh, batalnya pernikahan seorang wanita muslimah dengan laki-laki kafir.

Ijma’ ada dua metode, yaitu ijma’ sharih dan ijma’ sukuti. Ijma’ sharih adalah seluruh mujtahid memiliki pendapat yang sama, baik perbuatan atau ucapan dalam hukum pada suatu perkara. ijma’ seperti ini dapat dijadikan sebuah hujjah.

Adapun ijma’ sukuti adalah sebagian ulama menyampaikan pendapat dengan pendapat yang sama dalam satu permasalahan, akan tetapi sebagian yang lain hanya diam, tidak mengomentari pendapat tersebut. Mereka juga tidak menyatakan setuju atau mengingkari pendapat yang telah disampaikan.

(baca juga: Pengaruh Hajat Terhadap Hukum Syar’ie)

Keempat Qiyas, adalah menerangkan hukum sesuatu yang tidak ada nashnya dalam al-Qur’an dan hadits dengan cara menyamakan dengan hukum sesuatu yang ditetapkan berdasarkan nash. Definisi lain dari qiyas menurut ahli ushul fiqh adalah menyamakan hukum sesuatu yang tidak ada nash hukumnya dengan hukum sesuatu yang ada nash hukumnya karena adanya persamaan illat (sebab) hukum.

Sumber-sumber Hukum yang Tidak Disepakati

Sumber-sumber hukum yang belum disepakati oleh para ulama yaitu:

Istihsan, adalah tindakan meninggalkan satu hukum kepada hukum lainnya disebabkan karena ada suatu dalil syara` yang mengharuskan untuk meninggalkannya.

Misalnya, Hukum islam melarang jual beli barang yang tidak ada pada waktu aqad, akan tetapi berdasarkan istihsan dibolehkan jual beli tersebut, karena manusia sangat membutuhkan aqad seperti itu dan sudah menjadi kebiasaan, seperti  menjual sesuatu yang tidak dilihat barangnya tetapi hanya ditentukan dengan sifatnya dan barang tersebut ada di dalam pengakuan si penjual atau disebut dengan jual beli salam.

Mashlahah Mursalah, adalah suatu kemaslahatan dimana Allah SWT tidak mensyariatkan suatu hukum untuk merealisir kemaslahatan itu, dan tidak ada dalil yang menunjukkan atas pengakuannya atau pembatalannya. Hukum ditetapkan karena maslahat yang akan didapatkan atau untuk mencegah kerusakan yang akan muncul.

Contoh keputusan khalifah Utsman bin Affan untuk menulis dan mengumpulkan al-Qur’an menjadi satu mushaf dan dengan bahasa Quraisy serta membakar seluruh mushaf yang lain.

Al Istishhab, adalah menetapkan berlakunya suatu hukum yang telah ada atau meniadakan sesuatu hukum yang memang tidak ada, sampai ada dalil yang mengubah kedudukan hukum yang telah ditetapkan. Seperti ketika kita menetapkan bahwa si A adalah pemilik rumah atau mobil, maka selama kita tidak menemukan ada dalil atau bukti yang mengubah kepemilikan tersebut, kita tetap berkeyakinan dan menetapkan bahwa si A-lah pemilik rumah atau mobil tersebut hingga sekarang atau nanti. Dengan kata lain, istishhab adalah melanjutkan pemberlakuan hukum di masa sebelumnya hingga ke masa kini atau yang akan datang.

‘Urf, adalah kebiasaan manusia yang telah dikerjakan dan tersebar diantara mereka atau ucapan yang diketahui maksud dan maknanya secara muthlak di wilayah tersebut, dan tidaklah ucapan tersebut difahami kecuali makna yang telah maklum dan diketahui maksudnya diantara mereka. ‘Urf ini dapat dijadikan sebagai sumber hukum manakala tidak bertentangan dengan aturan-aturan syar’i. Contoh yang lain, kebiasaan masyarakat dalam jual beli mobil. Ketika seseorang membeli mobil, maka barang yang termasuk dibeli adalah barang-barang yang ada di dalam mobil, seperti kursi, ac, player Mp3, dan benda-benda yang lain yang ia adalah bagian dari mobil tersebut.

Madzhabush shahabi, madzhab shahabi adalah kumpulan pendapat dan fatwa-fatwa fiqih dari salah seorang sahabat Rasulullah SAW. Adapun pengertian sahabat menurut ulama usul fiqih adalah siapa saja yang bertemu Rasulullah SAW, ia beriman kepadanya dan ia bersama beliau dalam waktu yang lama. Contoh pendapat Utsman bin Affan tentang hilangnya shalat jum’at apabila bertepatan dengan salah satu dari dua hari raya yaitu Idul Adha dan Idul Fitri.

Syar’u man qablana, adalah sebuah ketetapan hukum yang telah di syari’atkan oleh Allah kepada umat-umat terdahulu (sebelum umat islam) melalui ajaran para Nabi mereka. Seperti ajaran Nabi Ibrahim, Musa, Daud dan Isa.

Syari’at-syari’at para Nabi terdahulu terbagi menjadi dua, yaitu:

  1. Syari’at yang tidak disebutkan di dalam syari’at islam, baik di dalam al-Qur’an ataupun as-Sunnah. Syari’at yang seperti ini, para ulama sepakat bukan merupakan syari’at yang berlaku bagi kita.
  2. Syari’at yang disebutkan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Dalam syari’at yang seperti ini, para ulama membagi menjadi 3 macam, yaitu:
    1. Syari’at yang menghapus syari’at kita. Para ulama sepakat, bahwa syari’at seperti ini bukan syari’at bagi kita. Contoh membunuh dirinya sendiri ketika bertaubat, dll.
    2. Syari’at yang ditetapkan dan dikuatkan oleh syari’at kita. Maka syari’at seperti ini berlaku dan menjadi syari’at bagi kita. Contohnya adalah perintah melaksanakan puasa.
    3. Syari’at yang Allah Ta’ala ceritakan kepada kita di dalam al-Qur’an atau melalui lisan Rasulullah SAW. Maka syari’at yang seperti ini tidak kita ingkari dan tidak pula benarkan. Contoh, ayat tentang qishas di dalam syari’at bangsa Yahudi, yaitu Qs. Al Maidah: 45.

Saddudz Dzaraai’, adalah larangan terhadap segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan yang dilarang oleh syar’I karena perbuatan yang dilarang tersebut mengandung kerusakan dan marabahaya. Oleh sebab itu, sesuatu yang mengahantarkan kepada hal yang haram, maka sesuatu tersebut hukumnya haram.

Contohnya, larangan bagi wanita untuk melakukan safar tanpa ditemani oleh mahramnya. (diringkas dari kitab Al Wajiiz fi Usulil Fiqh, Wahbah Az Zuhaili, hal 24-117)

Inilah sumber-sumber hukum dalam islam. Maka, ketika seorang ulama akan memutuskan sebuah perkara, maka ia akan menyandarkan keputusannya kepada sumber-sumber hukum diatas. Sehingga keputusannya tidak keluar dari aturan-aturan Allah ta’ala, serta akan mendapatkan ridho dari Nya.

 

 

Oleh: Luthfi Fathoni

 

 

%d bloggers like this: