Sujud Sahwi Sebelum Atau Sesudah Salam?

Sujud Sahwi Sebelum Atau Sesudah Salam?

Abdullah bin Buhainah berkata,

فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَكَبَّرَ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

“Setelah beliau menyempurnakan shalatnya, beliau sujud dua kali. Ketika itu beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk. Beliau lakukan sujud sahwi ini sebelum salam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pada edisi sebelumnya, yaitu edisi 27 telah kita bahas mengenai pengertian, hukum, dan penyebab sujud sahwi. Maka pada edisi kali ini kita akan membahas tata cara, doa dan sujud sahwi bagi seorang makmum masbuk. Persoalan-persoalan ini kita bahas karena sebagian kaum muslimin kurang memahami beberapa permasalahan tersebut.

TATACARA SUJUD SAHWI

Sujud sahwi adalah salah satu amalan ibadah yang sudah seyogyanya dikerjakan sesuai dengan contoh dari Nabi ﷺ. Hal ini agar supaya amalan kita diterima dan mendapat pahala dari Allah Ta’ala. Adapun tata cara sujud sahwi sebagaimana yang di jelaskan di dalam Syarh Bulughul Maram, 72/ 4, oleh Athiyah bin Muhammad Salim, yaitu:

• Mengucapkan takbir untuk melaksanakan sujud.

• Melaksanakan sujud.

• Bangkit dari suju

• Duduk di antara dua sujud (duduk iftirasy).

• Mengucapkan takbir kemudian sujud yang kedua.

• Bangkit dari sujud seraya mengucapkan takbir.

• Duduk iftirak.

• Menoleh kesebelah kanan dan kiri seraya mengucapkan salam.

Tatacara di atas sebagaimana yang telah dijelaskan dalam beberapa hadits yang berbicara mengenai sujud sahwi. Di antara haditsnya yaitu,

Hadits Abdullah bin Buhainah, “Setelah beliau menyempurnakan shalatnya, beliau sujud dua kali. Ketika itu beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk. Beliau lakukan sujud sahwi ini sebelum salam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits Abu Hurairah, Lalu beliau shalat dua rakaat lagi (yang tertinggal), kemudian beliau salam. Sesudah itu beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya. Sesudah itu bertakbir, lalu beliau bangkit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sujud sahwi sesudah salam ini ditutup lagi dengan salam sebagaimana dijelaskan dalam hadits ‘Imran bin Hushain,

فَصَلَّى رَكْعَةً ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ.

Kemudian beliau pun shalat satu rakaat (menambah rekaat yang kurang tadi). Lalu beliau salam. Setelah itu beliau melakukan sujud sahwi dengan dua kali sujud. Kemudian beliau salam lagi.” (HR. Muslim)

DIKERJAKAN SEBELUM ATAU SESUDAH SALAM

Mengenai waktu sujud sahwi, apakah dikerjakan sebelum atau sesudah salam. Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Dan mereka memberi kelonggaran, sehingga boleh melaksanakan sujud sahwi sebelum atau sesudah shalat. Sehingga perbedaan mereka hanya mengenai keutamaan, artinya mana yang lebih utama untuk dikerjakan. Hal ini sebagaimana penjelasan oleh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. (Tuhfatul Ikhwan Biajwibah Muhimmah Tata’allaqu Biarkanil Islam, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, 145)

Ibnu Taimiyah menjelaskan, adapun pendapat yang lebih kuat dari pendapat para ulama yaitu pendapat yang diriwayatkan dari Imam Ahmad. Beliau membedakan antara sujud sahwi karena ada tambahan, mengurangi dan ragu-ragu baik raguragu yang tidak ada kecondongan sama sekali atau ragu-ragu yang disertai dengan keyakinan condong ke salah satu pilihan. Adapun rincian dari penjelasan beliau yaitu,

Ketika sujud sahwi dikerjakan karena ada kekurangan dalam shalat, maka hendaknya mengerjakan sujud sahwi sebelum salam. Hal ini karena sujud sahwi tersebut berfungsi sebagai penutup dari kekurangan dalam shalat sehingga shalat tersebut tetap sempurna.

BACA JUGA: Haruskah Sujud Sahwi?

Apabila melakukan sujud sahwi karena ada tambahan dalam shalat, maka hendaknya dikerjakan setelah salam. Dan hal ini untuk menghinakan setan.

Adapun bila mengerjakan sujud sahwi lantaran ragu dan bingung, maka hendaknya ia menyempurnakan shalatnya kemudian sujud sahwi setelah selesai shalat. Hal ini untuk menghinakan setan.
Begitu juga bagi mereka yang telah selesai shalat, lantas ingat kalau shalatnya kurang satu rakaat. Maka kondisi seperti ini hendaknya segera menyempurnakan shalatnya kemudian salam. Sedangkan sujud sahwi dikerjakan setelah salam. Karena hal ini untuk menghinakan setan.

Adapun ketika dalam kondisi ragu-ragu dan tidak bisa menentukan mana yang lebih kuat ketika shalat, sujud sahwi dikerjakan sebelum salam.  (Al-Fatawa al-Kubra, Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah al-Harani Abu al-Abbas, 5/341)

Adapun mengenai seseorang yang ragu-ragu bilangan rakaat dalam shalatnya, misal sudah melaksanakan dua atau tiga rakaat, maka hendaknya memilih yang paling diyakini dari dua hal tersebut. Apabila tidak bisa menentukan maka hendaknya dia memilih bilangan yang paling kecil. Contoh, kalau shalat maghrib ragu sudah tiga rakaat atau baru dua rakaat, maka yang dipilih adalah dua rakaat. Sehingga dia melaksanakan satu rakaat lagi. Dalam kondisi seperti ini yang lebih utama adalah melaksanakan sujud sahwi sebelum salam. Akan tetapi apabila ingin melaksanakannya setelah salam juga tidak mengapa. (Tuhfatul Ikhwan Biajwibah Muhimmah Tata’allaqu Biarkanil Islam, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, 144)

DOA SUJUD SAHWI

Doa yang dibaca ketika melaksanakan sujud sahwi ialah sebagaiamana doa yang biasa dibaca ketika sujud dan duduk antara dua sujud. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama yang berada di al-Lajnah ad-Daimah. (Fatawa al-Lajnah adDaimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifata’, 6/443). Maka ketika sujud hendaknya membaca, 

سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى

Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi.” (HR. Muslim)

atau

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى

Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, dengan segala pujian kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan ketika duduk antara dua sujud membaca,

رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَاجْبُرْنِي، وَارْفَعْنِي، وَارْزُقْنِي، وَاهْدِنِي.

Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupkanlah aku, tinggikanlah derajatku, berilah rezeki dan petunjuk untukku).”(HR. Ahmad).

Adapun setelah sujud ke dua dari sujud sahwi, pendapat yang lebih kuat di antara pendapat para ulama yang ada, tidak perlu melaksanakan tasyahud lagi setelah sujud kedua dari sujud sahwi. Hal ini karena tidak ada dasar dari Nabi ﷺ yang menerangkan hal tersebut. Adapun dalil yang biasa dijadikan pegangan bagi yang berpendapat adanya bacaan tasyahud sebelum salam, dalilnya adalah dalil-dalil yang lemah.

Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Tidak ada dalil yang menguatkan pendapat ulama yang memerintahkan untuk membaca tasyahud setelah sujud kedua dari sujud sahwi. Tidak ada satu hadits shahih pun yang berbicara mengenai hal ini. kalau memang hal ini disyariatkan, maka tentu saja hal ini akan dihafal dan dikuasai oleh para sahabat yang berbicara mengenai sujud sahwi. Karena kadar lamanya tasyahud itu hampir sama lamanya dengan dua sujud bahkan bisa lebih. Jika memang Nabi ﷺ melakukan tasyahud ketika itu, maka tentu para sahabat akan lebih mengetahuinya daripada mengetahui perkara salam, takbir ketika akan sujud dan ketika akan bangkit dalam sujud sahwi. Semua ini adalah perkara ringan dibanding dengan tasyahud.” (Majmu’ al-Fatawa, Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah al-Harani Abu al-Abbas, 23/ 49)

SUJUD SAHWI BAGI SEORANG MAKMUM MASBUQ

Bagi seorang makmum yang lupa tidak melaksanakan salah satu rukun/kewajiban shalat, maka tidak perlu melaksanakan sujud sahwi. Akan tetapi, hendaknya ia mengikuti imamnya, hal ini manakala ia bukan makmum yang masbuk. Adapun bagi makmum masbuk, dan ia lupa tidak melasanakan salah satu rukun/kewajiban shalat maka ia melaksanakan sujud sahwi sendiri setelah menyempurnakan shalatnya. (Majmu’ Fatawa, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, 11/ 268) Wallahu a’ lam. []

 

%d bloggers like this: