Suci Dengan Disamak

suci dengan disamak

تَطْهِيْرُ جُلُوْدِ الْمَيْتَةِ: وَجُلُوْدُ الْمَيْتَةِ تَطْهُرُ بِالدِّبَاغِ إِلاَّ جِلْدَ الْكَلْبِ وَاْلخِنْزِيْرِ وَمَا تَوَّلَدَ مِنْهُمَا أَوْ مِنْ أَحَدِهِمَا. وَعَظْمُ الْمَيْتَةِ وَشَعْرُهَا نَجَسٌ إِلاَّ الآدَمِيَّ.

“Menyucikan Kulit Bangkai: Kulit bangkai itu suci dengan proses penyamakan kecuali kulit anjing dan babi serta yang berasal dari keduanya atau salah satu dari keduanya. Tulang bangkai dan bulunya adalah najis kecuali (tulang dan rambut) manusia.”

Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa yang dikatakan bangkai dalam istilah syar’i adalah hewan yang mati tanpa disembelih secara syar’i. Adapun cara menyucikan kulit bangkai binatang adalah dengan disamak, baik binatang yang boleh dimakan maupun yang tidak boleh dimakan. Berdasarkan hadits Maimunah, Rasulullah bersabda tentang (bangkai) domba miliknya, “Seandainya kalian mengambil kulit (bangkai) itu.” Orang-orang menjawab, “Ini adalah bangkai (wahai Rasulullah).” Rasulullah bersabda, “Ia dapat disucikan dengan air dan disamak.” Juga berdasarkan hadits Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Jika kulit bangkai binatang disamak maka ia menjadi suci.” Kulit bangkai binatang yang telah disamak suci baik zhahir maupun batinnya. Oleh karena itulah, boleh digunakan untuk melaksanakan shalat, baik digunakan sebagai alas maupun tempat shalat. [Hushain Husni, Kifayatul Ahyar, 27].

Cara Menyamak Kulit

Penyamakan kulit bisa dilakukan dengan memisahkan bagian-bagian yang dapat menyebabkan kulit membusuk, seperti darah, lemak, dan lainnya. Setelah itu dicuci dengan air agar bagian-bagian selain kulit itu bersih, dan direndam dalam bahan yang digunakan untuk menyamak, kemudian dijemur sampai benar-benar kering. Bahan yang digunakan untuk merendam adalah benda yang kuat rasanya. Boleh menggunakan tumbuh-tumbuhan atau selainnya. Bahkan sebagian ulama madzhab memperbolehkan menggunakan barang yang najis. [Ibnu Qudamah, al-Mughni, 96].

Setelah proses penyamakan selesai, hendaknya dicuci dahulu, menurut pendapat yang shahih. Terlebih jika penyamakan kulit tersebut menggunakan barang najis. [Hushain Husni, Kifayatul Ahyar, 27].

Kulit Anjing dan Babi

Penyamakan ini berlaku untuk semua kulit bangkai binatang yang boleh dimakan maupun yang tidak boleh dimakan, kecuali kulit bangkai anjing dan babi serta yang berasal dari keduanya. Hal itu karena kedua hewan tersebut najis, apalagi dalam keadaan telah menjadi bangkai. Sementara itu, menyamak hanya dapat menyucikan kulit yang najis dari bangkai hewan. Samak tidak menyucikan hewan yang (ketika masih hidup) telah dinyatakan najis oleh nash syar’i. [Hushain Husni, Kifayatul Ahyar, 27 dan Mushthafa Dib al-Bugha, At-Tahdzib fi Adillati Matan al-Ghayah wa at-Taqrib, 13].

Selain itu, bulu dan tulang kedua hewan tersebut juga najis, dengan alasan bahwa bulu dan tulang merupakan bagian dari bangkai hewan yang najis. Hal ini berdasarkan firman Allah, “Diharamkan bagi kalian bangkai…” (QS.al-Maidah: 3). Suatu pengharaman, jika tidak menunjukkan pada keharaman dan mudharat ketika memakannya, maka menunjukkan kenajisannya.

Pendapat yang menyatakan bahwa bulu dan tulang dari anjing dan babi najis adalah pendapat jumhur ulama. Ini berbeda dengan pendapat ulama Malikiyah yang menyatakan bulu dan tulang dari anjing dan babi itu suci dengan alasan ia adalah benda mati dan tidak memiliki ruh. Hal ini berlaku jika bulu tersebut dipotong (dicukur) bukan dicabut. [Hamid al-Hamawi, Matan al-Ghayah wa at-Taqrib, 28. Muhammad Lubaib, Matan al-Ghayah wa at-Taqrib, 13. Hushain Husni, Kifayatul Ahyar, 27].

Para ulama sepakat dengan kesucian bulu binatang yang dicukur ketika masih hidup. Ibnu al-Mundzir berkata, “Mereka sepakat dengan kesucian bulu (binatang) yang dicukur ketika masih hidup, seperti bulu domba. Mereka juga sepakat tentang najisnya sesuatu yang dipotong dari anggota tubuhnya ketika masih hidup. Rasulullah bersabda, ‘Apa yang dipotong dari hewan padahal ia masih hidup maka itu adalah bangkai.” (HR. Abu Dawud). [Muhammad Lubaib, Matan al-Ghayah wa at-Taqrib, 13].

Dengan demikian, bagian yang terpisah dari binatang yang masih hidup hukumnya seperti bangkainya. Berdasarkan hadits yang telah disebutkan di atas, kecuali bulu binatang yang dimakan. Berdasarkan firman Allah, “Dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta, dan bulu kambing.” (QS. an-Nahl: 80). [Hamid al-Hamwi, Matan al-Ghayah wa at-Taqrib, 28].

Tulang dan Rambut Manusia

Adapun bangkai anak adam maka itu tidak najis, begitu juga dengan bagian-bagian tubuhnya. Berdasarkan firman Allah, “Sesungguhnya telah kami muliakan Bani Adam,” (QS. al-Isra’: 70). Firman Allah ini menjadi dalil bahwa jika manusia mati, maka jasadnya tidak najis dan haram memakan dagingnya karena Allah telah memuliakannya. Juga berdasarkan sebuah riwayat dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi bersabda, “Janganlah kalian menganggap najis orang yang mati di antara kalian, karena sesungguhnya seorang mukmin itu tidak najis baik ketika masih hidup atau pun sudah mati.” Hadits ini shahih dengan syarat al-Bukhari dan Muslim. [Muhammad Lubaib, Matan al-Ghayah wa at-Taqrib, 13]. Wallahu a’lam.

 

baca juga: Menjual Kulit Hewan Kurban

%d bloggers like this: