Solidaritas Untuk Duka Muslim Tertindas

Kebiadaban rezim

Kebiadaban rezim militer dan ekstrimis Budha Myanmar terhadap kaum Muslimin Rohingya telah berlangsung selama puluhan tahun. Selama beberapa pekan terakhir di bulan Agustus dan September 2017, mereka kembali membantai lebih dari 800 warga Muslim Rohingya. Rumah-rumah warga Muslim Rohingya dibakar, harta benda mereka dirampas, dan kehormatan kaum wanita mereka dinodai.

Akibatnya jumlah pengungsi Muslim Rohingya di Bangladesh terus bertambah. Badan pengungsi PBB, UNHCR menyatakan sekitar 270 ribu warga Rohingya telah meninggalkan Rakhine, Myanmar dan mengungsi ke Bangladesh dalam dua pekan terakhir. Demikian dilansir oleh kantor berita Reuters pada hari Jum’at (8/9/20017).

Disebutkan UNHCR, para pengungsi Rohingya yang sebagian besar wanita tersebut, tiba di Bangladesh dengan kondisi menyedihkan. “Sebagian besar adalah wanita, termasuk para ibu dengan bayi-bayi mereka yang baru lahir, keluarga dengan anak-anak. Mereka tiba dalam kondisi menyedihkan, kelelahan, lapar, dan sangat membutuhkan tempat penampungan,” demikian pernyataan UNHCR.

 

BACA JUGA: Hormati Keagungan Nyawa Seorang Muslim

 

Pembantaian massal (genosida) terhadap minoritas Muslim Rohingya di Myanmar saat ini menjadi keprihatinan dunia internasional. Aksi-aksi solidaritas kemanusiaan untuk Muslim Rohingya pun marak berlangsung di Turki, Chechnya, Malaysia, Indonesia, dan negara-negara lain. Bagaimana hukum Islam memandang aksi-aksi solidaritas tersebut?

 

TRAGEDI KEMANUSIAAN, BUKAN INTRIK POLITIK

PBB dan para pemimpin agama non-Islam pun mengakui pembantaian terhadap warga Muslim Rohingya adalah tragedi kemanusiaan dan konflik agama. Ia bukanlah intrik politik yang “digoreng” untuk menjatuhkan rezim tertentu.

Paus Fransiskus melontarkan kritikan terhadap kekejaman yang dialami warga minoritas Muslim Rohingya di Myanmar. Paus menyebut Rohingya disiksa dan dibunuh hanya karena ingin hidup menjalani keyakinan Muslim mereka.

Seperti dilansir Reuters, Rabu (8/2/2017), dalam khotbah mingguan di Vatikan, Paus menanggapi laporan terbaru PBB yang menyebut tentara dan polisi Myanmar melakukan pembunuhan massal, pemerkosaan bergiliran, dan membakar desa-desa Rohingya.

 

SOLIDARITAS: BUKTI KEIMANAN

Islam mengajarkan kaum Muslimin itu bersaudara. Mereka laksana satu tubuh, satu sama lain saling menguatkan. Mereka senasib dan sepenanggungan. Jika sebagian umat Islam di sebuah wilayah merasakan penderitaan, maka kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia ikut merasakannya. Mereka saling membantu, menolong, dan menguatkan dalam amal-amal kebaikan dan ketakwaan.

Islam memandang persaudaraan dan solidaritas terhadap sesama Muslim adalah bukti kebenaran iman dalam dada. Anas bin Malik c meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidak beriman (secara sempurna) hingga ia mencintai untuk saudaranya, apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa sikap acuh, tidak peduli, dan tidak menolong Muslim yang kesusahan bukanlah akhlak seorang Muslim sejati. Abu Hurairah z meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara! Seorang Muslim itu saudara bagi Muslim lainnya. Seorang Muslim tidak akan menzalimi Muslim lainnya, tidak akan menghinanya, dan tidak akan menelantarkannya.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Laa yakhdzuluhu dalam hadits ini bermakna tidak mau menolong Muslim lainnya yang kesusahan, di saat Muslim tersebut membutuhkan pertolongan dirinya.

Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Barangsiapa meringankan salah satu penderitaan hidup seorang mukmin di dunia, niscaya Allah akan meringankan untuknya salah satu penderitaannya pada hari kiamat. Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang hidupnya kesulitan, niscaya Allah akan memberikan kemudahan bagi hidupnya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang Muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

 

AKSI NYATA YANG BISA DILAKUKAN

Solidaritas kemanusiaan dan keimanan terhadap nasib kaum Muslimin Rohingya harus diwujudkan dalam aksi-aksi nyata. Di antara bentuknya adalah:

  1. Membaca qunut nazilah dalam shalat lima waktu.
  2. Menggalang bantuan makanan, pakaian, obat-obatan, tenda, dan harta benda untuk mereka.
  3. Mengirimkan tenaga dokter dan perawat ke kamp-kamp pengungsian mereka.
  4. Mengangkat kasus penderitaan mereka melalui TV, radio, koran, majalah, internet, media sosial, khutbah Jum’at, majlis pengajian, tabligh akbar, dan media lainnya.
  5. Mendesak pemerintah RI, ASEAN, dan PBB untuk berperan nyata dalam menyelamatkan dan menampung ratusan ribu pengungsi Muslim Rohingya.
  6. Mendesak ASEAN dan PBB untuk menjatuhkan sanksi yang tegas terhadap rezim militer Myanmar dan ekstrimis Budha Myanmar pelaku genosida. Wallahu a’lam [-]

 

 

 

dibuka peluang menjadi agen dikota anda,
info dan pemesanan majalah fikih hujjah
hubungi:

Tlp/WA : 0821-4039-5077 (klik untuk chat)

facebook: @majalah.hujjah

Instagram: majalah_hujjah

 

%d bloggers like this: