Siwak, Amalan yang Disunnahkan

Siwak, Amalan yang Disunnahkan

فَصْلٌ: وَالسِّوَاكُ مُسْتَحَبٌّ فِيْ كُلِّ حَالٍ إِلاَّ بَعْدَ الزَّوَالِ لِلصَّائِمِ، وَهُوَ فِيْ ثَلاَثَةِ مَوَاضِعَ أَشَدُّ اسْتِحْبَاباً: عِنْدَ تَغَيُّرِ الْفَمِ مِنْ أَزْمٍ وَغَيْرِهِ، وَعِنْدَ الْقِيَامِ مِنَ النَّوْمِ، وَعِنْدَ الْقِيَامِ إِلَى الصَّلاَةِ.

Pasal: Siwak disunnahkan pada setiap kondisi kecuali setelah tergelincirnya (matahari) bagi orang yang berpuasa. Bersiwak sangatlah ditekankan pada tiga keadaan: ketika bau mulut mulai berubah karena lama diam dan lainnya, ketika bangun tidur, dan ketika hendak mengerjakan shalat.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siwak itu pembersih mulut dan (amalan) yang disenangi oleh Allah.” (HR. an-Nasa’i). Beliau juga bersabda dalam hadits yang lain, “Siwak itu membersihkan gigi, dan ini menyenangkan Allah. Setiap kali Jibril mengunjungiku, dia menyuruhku menggunakan siwak, hingga aku pun khawatir bahwa menggunakan siwak diwajibkan. Seandainya aku tidak khawatir akan membebani (merepotkan) umatku, niscaya aku akan mewajibkannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Bersiwak hukumnya sunnah berdasarkan sabda Nabi di atas. Selain untuk membersihkan mulut, siwak adalah salah satu amalan yang disenangi oleh Allah Ta’ala.

Alat yang digunakan untuk bersiwak adalah semua benda yang dapat membersihkan kerak/kuning gigi, seperti batang kayu dari pohon Arak, pohon Asynan, sobekan kain, dan lain sebagainya. Namun menggunakan batang kayu lebih utama dibanding dengan lainnya.

Saat ini, batang kayu yang digunakan untuk bersiwak sudah dikemas dan diperdagangkan secara luas. Biasanya berasal dari batang pohon Arak yang tumbuh di kawasan Semenanjung Arab, juga di daerah-daerah kering lainnya di Asia Barat dan Afrika. Pohon Arak adalah pohon yang kecil, seperti belukar dengan batang yang bercabang-cabang, jika kulitnya dikelupas warnanya agak keputihan dan memiliki banyak juntaian serat.

Bersiwak menggunakan batang Arak lebih utama dari pohon-pohon lainnya. Batang Arak yang keras kemudian dibasahi dengan air lebih utama dari batang Arak yang masih lembab/hijau atau batang Arak yang tidak dibasahi.

Disunnahkan untuk dicuci terlebih dahulu sebelum digunakan, jika siwak dalam keadaan kotor atau bau. Dimulai dari yang kanan kemudian yang kiri, serta disunnahkan membersihkan sisa-sisa makanan di sela-sela gigi sebelum bersiwak atau sesudahnya.

Pada dasarnya, siwak disunnahkan pada setiap kondisi, tetapi para ulama berselisih pendapat tentang bersiwak bagi orang yang berpusa saat matahari mulai tergelincir. Alasan pendapat yang memakruhkannya adalah bau mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi dan lebih dicintai di sisi Allah, oleh karena itu makruh untuk menghilangkannya. Namun pendapat yang dirajihkan oleh Imam Nawawi dan tiga imam mazhab lainnya, bersiwak tidak makruh secara mutlak pada semua kondisi.

Ada tiga waktu yang sangat ditekankan untuk bersiwak. Pertama, ketika mulut mulai berubah aromanya karena lamanya diam tidak berbicara, atau karena tidak makan dan minum sesuatu, atau karena sesuatu yang lain. Kedua, ketika bangun dari tidur. Berdasarkan hadits yang disebutkan dalam kitab ash-Shahihain: “Rasulullah jika bangun dari tidurnya, beliau menggosok-gosok mulutnya dengan siwak.” Ketiga, ketika hendak mengerjakan shalat baik shalat fardhu maupun nafilah, di antara dua rakaat (atau empat rekaat) shalat tarawih, sebelum shalat jenazah, sebelum shalat dhuha, meskipun mulut tidak berbau. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya tidak memberatkan pada umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap (sebelum) melakukan shalat.” Dalam hadits lain disebutkan, “Dua rakaat shalat yang didahului dengan bersiwak lebih utama dari tujuh puluh rakaat yang tidak didahului dengan bersiwak.”

Selain waktu di atas, bersiwak juga sunnah dilakukan sebelum berwudhu, sebelum membaca al-Qur’an, sebelum mempelajari hadits dan ilmu syar’i, sebelum tidur, sebelum masuk rumah, dan sebelum melakukan amal kebaikan lainnya.

baca juga: Khasiat Bersiwak dengan Akar Pohon Arak

Siwak memiliki faidah yang sangat banyak, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qayyim dalam kitabnya ath-Thibbu an-Nabawi, bahwa bersiwak faidahnya dapat membersihkan mulut, membersihkan gusi, mencegah pendarahan, menguatkan penglihatan, membersihkan atau menjernihkan otak, mencegah gigi berlubang, menyehatkan pencernaan, menjernihkan suara, membantu pencernaan makanan, memperlancar saluran nafas (bicara), menggiatkan bacaan, menahan tidur, mendatangkan ridha Allah Ta’ala, dan dikagumi oleh malaikat. Wallahu a’lam.

Referensi:

  • Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib Asy-Syarbini, al-Iqna’ fi Hilli Alfazhi Abi Syuja’, (Dar al-Kutub al-Ilmiyyah), vol. 1, hlm. 113-117.
  • Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Husaini al-Hushni, Kifayatu al-Akhyar fi Ghayati al-Ikhtishar, (Dar al-Kutub al-Ilmiyyah), hlm. 32-35.
%d bloggers like this: