Sisi Syariah Hotel Syariah

Sisi Syariah Hotel Syariah

Di beberapa kota besar, hotel syariah bermunculan, bersaing dengan hotel-hotel konvensional pada umumnya. Di kota Solo, misalnya, di kota yang tak seberapa luas ini saja sudah memiliki lebih dari empat hotel syariah. Di berbagai kota besar lain hotel syariah juga bermunculan. Bahkan, di Malaysia dan Singapura, bisnis hotel syariah pun tak kalah pesat.

Minat masyarakat muslim untuk mencari penginapan yang ramah dan menyediakan fasilitas serta pelayanan Islami semakin meningkat. Hotel syariah mencoba memberikan opsi yang lebih ramah bagi tamu, khususnya tamu berkeluarga.

KONSEP HOTEL SYARIAH

Sebenarnya, apa yang ditawarkan dari konsep hotel syariah ini? Apa bedanya dengan hotel konvensional?

Persyaratan menjadi hotel syariah telah diatur secara resmi oleh dalam perartuan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 2 tahun 2014 tentang Pedoman Penyelenggaraan Usaha Hotel Syariah yang diundangkan pada 17/1/204. Penilaiannya ditentukan oleh DSN MUI (Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia). Dan sertifikasinya bisa didapatkan dengan mendaftar di LPPOM MUI.

Secara umum, perbedaan hotel syariah dan konvensional ada pada tiga aspek: aspek produk, aspek pelayanan dan pengelolaan. Semua aspek mengacu pada nilai-nilai dalam syariah Islam. Namun demikian, nilai-nilai ini juga cocok untuk pemeluk agama lain.

Yang paling utama adalah, pada unsur produk, khususnya sajian. Hotel syariah hanya menyediakan makanan dan minuman halal yang telah mendapat sertifikasi dari MUI. Dengan demikian, tentunya tidak kan didapati minuman beralkohol baik di kamar tamu maupun pantry. Tamu juga tidak perlu khawatir kandungan dzat haram seperti minyak babi atau wine pada masakan.

Kedua, pada unsur pelayanan, hotel syariah menerapkan mekanisme seleksi tamu. Tidak semua tamu bisa menginap di hotel syariah, khususnya tamu yang berpasangan. Secara umum, standar seleski yang digunakan mengikuti dugaan kebiasaan pada umumnya.

Riyanto Sofyan, pemilik sekaligus komisaris utama Sofyan Hotel, salah satu hotel syariah di Jakarta, menyatakan:

“Tidak ada peraturan atau perda ke mana-mana harus bawa buku nikah, jadi dugaan kuat yang kita pakai, kita tahu orang datang itu mau ngamar atau beneran nginap. Kalau yang hanya mau ngamar, cuma mau sejam dua jam biasanya nggak bawa koper, bahasa tubuhnya beda, jadi kalau mencurigakan ada kemungkinan ditolak tapi tidak secara vulgar jadi mulai dari satpam sudah ada standar prosedurnya,” kata dia.

“Dia nggak bawa apa-apa, biasanya check in sendirian tapi di belakangnya dia bawa cewek, jadi mereka (petugas) sudah paham, bahasa tubuhnya sudah tahu, dari identifikasi KTP nya itu sudah jadi dasar hukum, dan bukan lihat surat nikah karena nggak ada orang bawa-bawa surat nikah ke mana-mana,” cetusnya. Demikian sebgaimana dimuat dalam  http://finance.detik.comtgl:23/03/2014.

 

Mekanisme seleksi ini penting karena hal inilah kelemahan utama hotel konvensional. Hotel konvensional yang tidak terlalu selektif terhadap tamu sering dijadikan tempat maksiat. Meskipun sifatnya hanya antisipasif dan tidak bisa benar-benar 100% bersih, akan tetapi hal in sudah cukup mengurangi potensi kemaksiatan. Adanya label syariah akan membuat orang yang berniat buruk enggan masuk, kecuali yang memang nekat.

Pada aspek produk berupa hiburan dan pelayanan tambahan, hotel syariah juga diperketat dengan beberapa aturan. Misalnya, jika ada kolam renang, harus disediakan kolam terpisah antara lelaki dan perempuan. Dan kolam perempuan harus tertutup. Jika terdapat spa, para terapis dilarang menyentuh bagian intim dan tentunya terapist hanya melayani yang genderny sama, wanita dengan wanita, lelaki dengan lelaki. Dan layanan berupa olah kejiwaan haruslah bersih dari unsur kesyirikan.

Produk hiburan hotel syariah juga diatur agar tidak mengandung pronografi, pornoaksi dan terlalu hingar bingar. Event-event yang dilaksanakan di dalam hotel pun haruslah event-event yang tidak bertentangan dengan Islam, baik konten maupun acara.

Riyanto menambahkan, “Suasana hotel harus kondusif secara Islami, tidak boleh ada bar. Pokoknya intinya yang dugem nggak karuan, yang terlalu hingar bingar dan hura-hura dilarang. Kita berhibur boleh tapi muslim kan lifestyle lebih ke manfaatnya.”

Dan tak kalah penting adalah pelayanan dalam bentuk penyediaan sarana ibadah. Menurut aturan yang ditetapkan, hotel syariah harus menyediakan toilet dengan air bersih sebagai alat bersuci. Beberpaa hotel konvensional hanya menyediakan tisu saja dan sedikit air. Demikian pula disediakan musholla untuk melaksankan shalat. Informasi mengenai masjid di sekitar hotel akan dapat diperoleh  di meja pelayanan.

Sekali lagi, tidak ada jaminan bahwa hotel syariah pasti bersih dari penyalahgunaan sebagai tempat maksiat. pasalnya, Setelah tamu masuk kamar, urusan menjadi privasi mereka. Berbagai langkah ini sudah cukup guna menganisipasi hal-hal yang bertentangan dengan Islam. Hotel syariah juga lebih aman bagi tamu hotel yang datang bersama keluarga.

baca juga: Booming Sertifikasi Halal Di Seluruh Dunia

Terakhir dari segi pengelolan, para karyawan di hotel syariah memakai pakaian sopan dan tertutup. Dan masih ada berbagai unsur yang harus dipenuhi untuk mendapatkan sertifikasi dari MUI. Tidak sulit tapi pasti memberi kenyamanan bagi tamu muslim bahkan non muslim. (taufik anwar/dari berbagai sumber).

%d bloggers like this: