Sikap Islam Terhadap Para Peleceh Nabi SAW

Sikap Islam Terhadap Para Peleceh Nabi SAW

Charlie Hebdo Melecehkan Nabi SAW

Dua pemuda muslim pada Rabu (7/1/2015) menyerang kantor Charlie Hebdo, majalah satir Perancis yang sering menghina Islam dan melecehkan Nabi Muhammad SAW. Serangan itu menewaskan Stephane Charbonnier, pemimpin redaksi dan kartunis majalah anti-Islam itu dan 11 kartunis, staf lainnya.

Anehnya, pelecehan Charlie Hebdo terhadap Nabi SAW didukung oleh “dunia internasional”. Pada Ahad, 11 Januari 2014,  sekitar 3,7 juta orang melakukan aksi jalan kaki di Paris dan kota-kota lain di negara itu. Puluhan pemimpin negara-negara dunia, baik pemimpin negara Barat dan negara berpenduduk mayoritas Muslim, hadir dan turun ke jalan.

Aksi itu semata-mata untuk menghormati 12 orang yang tewas dalam serangan di kantor Charlie Hebdo, menyeru persatuan rakyat Perancis pasca serangan, mendukung kebebasan berekspresi, dan menggalang dukungan untuk melawan kelompok-kelompok muslim bersenjata.

Charlie Hebdo telah menerbitkan berbagai kartun karikatur yang melecehkan Nabi SAW pada tahun 2011 dan 2012, sehingga menuai amarah dari umat Islam dunia. Namun mereka tidak pernah berhenti menerbitkan berbagai karikaturnya yang menyinggung Islam dan umatnya. Bahkan pada Rabu, 14 Januari 2014 mereka kembali menerbitkan karikatur pelecehan terhadap Nabi SAW dengan oplah yang fantastis, 1 juta eksemplar.

Secara logika, tidak ada dalih apa pun bagi Charlie Hebdo atau media lain untuk melecehkan dan menghina Nabi Muhammad yang telah wafat belasan abad lalu, kecuali karena mereka berniat menyerang Islam dan perasaan Muslimin.

baca juga: Saat Terompet Melecehkan Al-qur’an

Sanksi Islam Bagi Para Peleceh Nabi SAW

Penghinaan, pelecehan, dan caci-makian kepada Rasulullah SAW sama artinya dengan penghinaan, pelecehan, dan caci-makian kepada Allah Ta’ala dan agama Islam. Sebab, Allah Ta’ala-lah yang telah mengutus beliau dengan membawa agama Islam.

Jika pelaku pelecehan tersebut adalah orang kafir asli, maka tindakannya tersebut telah menempatkan dirinya sebagai gembong kekafiran dan pemimpin orang kafir. Allah Ta’ala berfirman: “Jika mereka merusak sumpah (perjanjian damai)nya sesudah mereka berjanji dan mereka mencerca agama kalian, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti.” (QS. At-Taubah [9]: 12)

Imam Ibnu Mundzir asy-Syafi’i berkata, “Para ulama telah berijma’ bahwa orang yang mencaci maki Nabi SAW harus dibunuh. Di antara yang berpendapat demikian adalah Imam Malik bin Anas, Laits bin Sa’ad, Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Rahawaih. Hal itu juga menjadi pendapat Imam Syafi’i.” (al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 8/82).

Terdapat beberapa hadits shahih yang menunjukkan bahwa orang-orang yang melecehkan Nabi SAW dihukum mati berdasar perintah langsung dari Nabi SAW atau persetujuan beliau. Pertama, hadits tentang pembunuhan terhadap pemimpin Yahudi, Ka’ab bin Al-Asyraf.

Dari Jabir bin Abdullah RA bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Siapakah yang mau “membereskan” Ka’ab bin Asyraf? Sesungguhnya ia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya.” Muhammad bin Maslamah bertanya, “Apakah Anda senang jika aku membunuhnya, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Ya” (HR. Bukhari no. 3031 dan Muslim no. 1801).

Imam Bukhari telah menyebutkan kisah pembunuhan Ka’ab bin Asyraf tersebut dalam beberapa hadits (no. 2510, 3031, 3032 dan 4037). Kisah pembunuhan oleh regu suku Aus tersebut juga disebutkan dalam semua kitab sirah nabawiyah.

Kedua, hadits tentang pembunuhan terhadap tokoh Yahudi Khaibar, Abu Rafi’ Salam bin Abil Huqaiq karena ia sering mencaci maki dan melecehkan Nabi SAW.

Dari Barra’ bin Azib, ia berkata, “Rasulullah SAW mengirim beberapa orang sahabat Anshar untuk membunuh pemimpin Yahudi, Abu Rafi’. Rasulullah SAW mengangkat Abdullah bin ‘Atiq sebagai komandan regu untuk tugas tersebut. Abu Rabi’ adalah pemimpin Yahudi yang sering menyakiti dan memusuhi beliau. Ia tinggal di sebuah benteng miliknya di daerah Hijaz…” (HR. Bukhari no. 4039).

Imam Bukhari menyebutkan hadits tersebut dalam bab “membunuh orang musyrik yang sedang tidur” (no. hadits 3022 dan 3023) dan bab “pembunuhan atas Abu Rafi’ Abdullah bin Abil Huqaiq” (no. hadits 4038, 4039, dan 4040). Kisah pembunuhan atas Abu Rafi’ Al-Yahudi juga diriwayatkan oleh Imam Abdur Razzaq ash-Shan’ani, al-Baihaqi, Abu Ya’la al-Maushili, ath-Thabarani dan lain-lain dari jalur Abdullah bin ‘Atiq, Abdullah bin Unais dan Abdurrahman bin Abdullah bin Ka’ab.

Dari dalil ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih, para ulama Islam sepakat menyimpulkan bahwa sanksi untuk orang yang melecehkan Nabi SAW adalah hukuman mati. Imam Muhammad Anwar Syah al-Kasymiri al-Hanafi berkata, “Seluruh ulama telah bersepakat bahwa orang yang mencaci maki Nabi SAW dijatuhi hukuman mati.” (Ikfarul Mulhidin fi Dharuriyatid Din, hlm. 64).

Semoga umat Islam dan non-muslim bisa mengambil pelajaran dari kejadian ini. Wallahu a’lam bish-shawab.

%d bloggers like this: