Shiyam Syawal sebelum Qadha` Shiyam Ramadhan

puasa syawal

Shiyam Ramadhan adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim selama satu bulan penuh. Akan tetapi, kenyataannya ada beberapa orang tidak bisa menyelesaikan kewajiban shiyam di  bulan Ramadhan. Hal itu karena beberapa sebab tertentu, seperti sakit, hamil, dan haid. Lantas, bolehkah seseorang melakukan shiyam Syawal, padahal masih memiliki ‘hutang’ shiyam Ramadhan yang belum dibayar? Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat.

 

Mereka yang Memakruhkan

Di antara ulama yang memakruhkan shiyam Syawal sebelum mengqadha` shiyam Ramadhan adalah Ibnu Rajab al-Hambali (w.795 H) dari kalangan ulama klasik, dan Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul’aziz bin Baz (1330-1420 H) dari kalangan ulama kontemporer.

Ibnu Rajab berkata,

مَنْ بَدَأَ بِالْقَضَاءِ فِي شَوَّالٍ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يُتْبِعَ ذَلِكَ بِصِيَامِ سِتَّةٍ مِن شَوَّالٍ بَعْدَ تَكَمُّلِهِ قَضَاءَ رَمَضَانَ كَانَ حَسَنًا لِأَنَّهُ يَصِيْرُ حِيْنَئِذٍ قَدْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ وَلا يَحْصُلُ لَهُ فَضْلُ صِيَامِ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ بِصَوْمِ قَضَاءِ رَمَضَانَ لِأَنَّ صِيَامَ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ إِنَّمَا تَكُوْنُ بَعْدَ إِكْمَالِ عِدَّةِ رَمَضَانَ.

“Barangsiapa yang melakukan qadha` shiyam Ramadhan pada bulan Syawal, lantas melanjutkannya dengan shiyam enam hari dari bulan Syawal setelah menyelesaikan semua hutang shiyamnya, maka itu lebih baik. Dengan begitu ia telah melakukan shiyam Ramadhan (dengan penuh) lalu melanjutkannya dengan enam hari dari bulan Syawal. Jika ia melakukan shiyam enam hari dari bulan Syawal sebelum melakukan qadha’ shiyam Ramadhan, maka ia tidak mendapatkan keutamaan shiyam enam hari dari bulan Syawal karena keutamaan tersebut didapatkan jika telah menyempurnakan bilangan bulan Ramadhan.” (Lathaif al-Ma’arif, 223)

Syaikh ‘Abdullah bin Abdul’aziz bin Baz berkata,

قَدْ اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي ذَلِكَ، وَالْصَّوَابُ أَنْ الْمَشْرُوْعَ تَقْدِيْمُ الْقَضَاءِ عَلَى صَوْمِ السِّتِّ، وغَيْرِهَا مِنْ صِيَامِ النَّفَلِ، لِقَوْلِ النَّبِيِّ: (مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتّاً مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ)، وَمَنْ قَدَّمَ السِّتَّ عَلَى الْقَضَاءِ لَمْ يُتْبِعْهَا رَمَضَانَ، وَإِنَّمَا أَتْبَعَهَا بَعْضَ رَمَضَانَ، وَلِأَنَّ الْقَضَاءَ فَرْضٌ، وَصِيَامَ السِّتِّ تَطَوُّعٌ، وَالْفَرْضُ أَوْلَى بِالْاهْتِمَامِ.

“Dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat. Pendapat yang benar, yang disyari’atkan adalah mendahulukan qadha’ shiyam Ramadhan daripada shiyam enam hari Syawal dan shiyam sunnah lainnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Barangsiapa yang shiyam Ramadhan kemudian shiyam enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti shiyam setahun penuh.’ Barangsiapa yang mendahulukan shiyam enam hari Syawal daripada qadha’ shiyam Ramadhan, maka (shiyam Syawalnya) tidak dapat dikatakan mengiringi shiyam Ramadhan tapi sebagian shiyam Ramadhan. Sebab, melakukan qadha’ shiyam Ramadhan adalah kewajiban (fardhu) baginya, sedangkan shiyam enam hari Syawal adalah sunnah. Perkara wajib (fardhu) harus lebih diutamakan daripada perkara sunnah.” (Majmu’ Fatawa, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, 5/ 273)

baca juga: Puasa Senin atau Kamis Tengah Bulan

 

Mereka yang Tidak Memakruhkan

Di antara ulama yang tidak memakruhkannya adalah Zainuddin bin Nujaim al-Hanafi (w. 970 H) dari kalangan ulama klasik, dan Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi (1325-1393 H) dari kalangan ulama kontemporer.

Zainuddin bin Nujaim al-Hanafi berkata,

­­­­­­­­قَالَ أَصْحَابُنَا إِنَّهُ لَا يُكْرَهُ لِمَنْ عَلَيْهِ قَضَاءُ رَمَضَانَ أَنْ يَصُوْمَ مُتَطَوِّعًا وَلَوْ كَانَ الْوُجُوْبُ عَلَى الْفَوْرِ يُكْرَهُ لَهُ التَّطَوُّعُ قَبْلَ الْقَضَاءِ لِأَنَّهُ يُكْرَهُ لَهُ تَأْخِيرُ الْوَاجِبِ عَنْ وَقْتِهِ الْمُضَيَّقِ.

“Sahabat-sahabat kami berpendapat, tidak dimakruhkan bagi orang yang belum melakukan qadha’ shiyam Ramadhan untuk  melakukan shiyam sunnah, (termasuk enam hari dari bulan Syawal; sebab kewajiban melakukan qadha` shiyam tidak harus segera dilakukan. Waktunya panjang, sampai akhir Sya’ban tahun berikutnya). Sekiranya qadha’ shiyam Ramadhan wajib untuk segera dilakukan, maka dimakruhkan baginya untuk melakukan shiyam sunnah sebelum melakukan qadha’. Sebab, menunda perkara wajib mudhayyaq (yang memiliki waktu yang sempit) tidak diperbolehkan.” (Bahru ar-Raiq Syarhu Kanzi ad-Daqaiq, 2/ 307)

Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi berkata,

وَتَقَعُ السِّتُّ مِنْ شَوَّالٍ إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ عَلَيْهِ قَضَاءٌ مِنْ رَمَضَانَ، فَلَوْ أَخَّرَ قَضَاءَ رَمَضَانَ وَلَمْ يَصُمْهُ وَصَامَ سِتّاً مِنْ شَوَّالٍ قَبْلُ فَإِنَّهُ يُجْزِئُهُ، وَيَحْصُلُ هَذِهِ الْفَضِيْلَةَ وَالْخَيْرَ.وَقَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ كَمَا هُوَ مَذْهَبُ طَائِفَةِ مِنَ الْحَنَابِلَةِ وَالشَّافِعِيَّةِ لَا يُجْزِئُ أَنْ يَصُوْمَ السِّتَّ قَبْلَ صِيَامِ رَمَضَانَ؛ وَذَلِكَ لِأَنَّهُ لَمْ يَصُمْ رَمَضَانَ؛ وَلِأَنَّهُ لَا يَتَأَتَّى مِنْهُ أَنْ يَتَنَفَّلَ وَعَلَيْهِ فَرِيْضَةٌ. وَالصَّحِيْحُ أَنَّهُ يُجْزِئُ أَنْ يَصُوْمَ سِتّاً مِنْ شَوَّالٍ قَبْلَ الْقَضَاءِ.

“Shiyam enam hari Syawal bagi orang yang memiliki kewajiban qadha’ shiyam Ramadhan; jika seseorang menunda qadha’ shiyam Ramadhan dan melakukan shiyam enam hari Syawal terlebih dahulu, maka itu diperbolehkan dan ia mendapatkan keutamaan (shiyam enam hari Syawal). Akan tetapi, sebagian ulama Syafi’iyah dan Hanabilah mengatakan bahwa tidak boleh melakukan shiyam enam hari Syawal sebelum menyelesaikan qadha’ shiyam Ramadhan, karena ia belum menyelesaikan shiyam Ramadhan. Seseorang tidak diperkenankan melakukan ibadah sunnah (nafilah) sebelum menyelesaikan ibadah wajib (fardhu).  Pendapat yang benar, diperbolehkan bagi seseorang untuk melakukan shiyam enam hari Syawal meskipun belum melakukan qadha’ shiyam Ramadhan.” (Syarhu Zadil Mustaqni’, 5/ 65)

 

 

%d bloggers like this: