Shalat tarawih dan witir lebih dari 11 rakaat, bid’ahkah?

Shalat tarawih dan witir lebih dari 11 rakaat, bid’ahkah?

Pembicaraan tentang jumlah rakaat shalat tarawih seringkali mencuat di tengah umat Islam pada bulan suci Ramadhan. Hal itu karena di kalangan ulama terdapat perbedaan pendapat tentang jumlah rakaat shalat tarawih.

Pendapat pertama

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani berpendapat shalat tarawih adalah 8 rakaat dan witir adalah 3 rakaat. Menurutnya, shalat tarawih dan witir lebih dari 11 rakaat adalah bid’ah.

Beliau berargumen dengan hadits Aisyah RA, “Rasulullah SAW tidak pernah melakukan shalat malam pada bulan Ramadhan maupun luar Ramadhan, lebih dari 11 rakaat. Beliau shalat 4 rakaat, maka janganlah engkau menanyakan lama dan bagusnya shalat beliau. Lalu beliau shalat 4 rakaat, maka janganlah engkau menanyakan lama dan bagusnya shalat beliau. Lalu beliau witir 3 rakaat.” (HR. Bukhari, no. 1147 dan Muslim, no. 738).

Pendapat kedua

Seluruh ulama salaf berpendapat shalat tarawih tidak memiliki batasan jumlah rakaat. Selama dilakukan genap dan tiap dua rakaat salam, maka boleh dilakukan. Ini adalah pendapat empat imam madzhab, Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad, dan Daud bin Ali azh-Zhahiri.

At-Tirmidzi berkata, “Mayoritas ulama mengikuti riwayat dari Umar bin Khathab, Ali bin Abi Thalib, dan para sahabat lainnya, yaitu shalat tarawih 20 rakaat. Ini juga merupakan pendapat Sufyan ats-Tsauri, Abdullah bin Mubarak, dan asy-Syafi’i. Asy-Syafi’i berkata, ‘Saya mendapati di negeri kami, Mekkah, orang-orang melaksanakan shalat tarawih 20 rakaat.”

Ibnu Abdil Barr berkata, “Shalat tarawih 20 rakaat adalah riwayat yang shahih dari Ubay bin Ka’ab, tanpa ada perbedaan pendapat dari seorang sahabat pun.”

Ibnu Rusyd al-Andalusi, “Imam Malik dalam salah satu pendapatnya, juga imam Abu Hanifah, asy-Syafi’i, Ahmad, dan Daud bin Ali azh-Zhahiri berpendapat shalat tarawih 20 rakaat, belum terhitung witir. Ibnu Qasim meriwayatkan bahwa Imam Malik (dalam salah satu pendapatnya) lebih memilih tarawih 36 rakaat dan witir 3 rakaat. Daud bin Qais berkata, ‘Saya mendapati masyarakat di Madinah pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz dan Abban bin Utsman bin Affan melaksanakan tarawih 36 rakaat dan witir 3 rakaat’.” (Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, 1/306)

Dalil pendapat ini adalah:

1- Ayat-ayat al-Qur’an menjadikan lamanya waktu shalat sebagai standar penilaian keutamaan shalat malam. Orang yang melaksanakan shalat malam selama satu jam tidaklah sama nilainya dengan orang yang shalat malam selama 10 menit. Shalat malam selama satu jam tentu tidak sama dengan shalat tiga jam, dan seterusnya. Allah SWT berfirman:

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.” (QS. al-Muzammil [73]: 1-4).

Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari. (QS. al-Insan [76]: 26).

Ayat yang semakna dengannya adalah adz-Dzariyat [51]: 17-18, as-Sajdah [32]: 16, al-Isra’ [17]: 79, az-Zumar [39]: 9, al-Furqan [25]: 63-64, dan Ali Imran [3]: 113.

2 – Hadits-hadits shahih, menjadikan lamanya waktu shalat sebagai standar penilaian keutamaan shalat malam. Di antaranya:

Nabi SAW bersabda, “Shalat (sunnah) yang paling dicintai Allah adalah shalat Nabi Daud ‘alaihis salam dan shaum (sunnah) yang paling dicintai Allah adalah shaum Nabi Daud. Nabi Daud biasa tidur setengah malam, lalu bangun dan mengerjakan shalat sepertiga malam, lalu tidur kembali seperenam malam.” (HR. Bukhari, no. 1131 dan Muslim, no. 1159).

Shalat malam selama 1/3 malam atau sekitar tiga jam tersebut bisa dilakukan dengan dua cara:

  • Berdiri lama pada setiap rakaatnya dengan membaca surat al-Qur’an yang panjang, meskipun jumlah rakaatnya sedikit. Sebagaimana Rasulullah SAW saat shalat malam sendirian, atau mengimami Hudzaifah, beliau membaca surat al-Baqarah, Ali Imran dan an-Nisa’ dalam satu rakaat. Ini juga berdasar hadits, “Shalat yang paling utama adalah lama berdiri.” (HR. Muslim, no. 756).
  • Berdiri lebih singkat pada setiap rakaatnya dengan membaca surat al-Qur’an yang lebih pendek, namun memperbanyak jumlah rakaat. Ini berdasar hadits, “Bantulah aku meluluskan keinginanmu dengan cara engkau memperbanyak sujud.” (HR. Muslim, no. 489) dan hadits, “Engkau tidak melaksanakan satu sujud pun kepada Allah melainkan dengannya Allah meninggikanmu satu derajat dan menghapuskan darimu satu kesalahan.” (HR. Muslim, no. 488)

3- Nabi SAW pernah shalat malam lebih dari 11 rakaat dalam satu malam.

Dari Ibnu Abbas berkata, “Nabi SAW biasa mengerjakan shalat malam 13 rakaat.” (HR. Bukhari, no. 1138 dan Muslim, no. 764)

Dari Aisyah berkata, “Rasulullah SAW biasa mengerjakan shalat malam 13 rakaat, lalu saat beliau mendengar adzan Subuh, beliau mengerjakan dua rakaat shalat ringan.” (HR. Bukhari no. 1170)

Zaid bin Khalid al-Juhani juga meriwayatkan Nabi SAW shalat malam sebanyak 13. (HR. Muslim, no. 765)

Sebagian ulama menyatakan 13 rakaat ini termasuk dua rakaat ringan sebagai pembuka shalat malam. Yang jelas, hadits-hadits ini menegaskan beliau SAW pernah shalat malam sebanyak 13 rakaat. Hal itu beliau kerjakan setelah bangun malam, seperti ditegaskan dalam hadits Ibnu Abbas tentang shalat malam di rumah Maimunah RA. (HR. Bukhari, no. 992 dan Muslim, no. 763)

4- Dalil-dalil umum membolehkan shalat malam tanpa batasan jumlah rakaat. Diantaranya sabda beliau SAW, “Shalat malam itu dua rakaat (salam) dua rakaat (salam). Jika salah seorang diantara kalian khawatir datang waktu Shubuh, hendaknya ia melakukan witir satu rakaat.” (HR. Bukhari, no. 1137 dan Muslim, no. 749).

Juga hadits perintah memperbanyak sujud, hadits setiap sujud akan mengangkat derajat dan menghapuskan kesalahan, serta hadits shalat Nabi Daud AS adalah shalat yang paling dicintai Allah SWT.

5- Dari Saib bin Yazid berkata: “Mereka pada masa khalifah Umar bin Khatthab melakukan shalat tarawih di bulan Ramadhan 20 rakaat.” (HR. al-Baihaqi).

Hadits ini dishahihkan oleh para ulama hadits,  an-Nawawi dalam al-Majmu’, az-Zaila’i dalam Nashbur Rayah, as-Subki dalam Syarh al-Minhaj, al-Iraqi dalam Tharhu at-Tatsrib, as-Suyuthi, Ali al-Qari, dan lainnya.

  1. Menurut kaidah ushul fikih, perbuatan Nabi SAW (yang shalat 11 rakaat atau 13 rakaat) tidaklah mengkhususkan keumuman sabda beliau. Selain itu, Nabi SAW tidak melarang sahabat dari shalat malam lebih dari 11 atau 13 rakaat. Terlebih generasi sahabat menambah dari 13 rakaat pada zaman Umar bin Khatthab dan setelahnya, tanpa ada seorang pun yang mengingkari.

 

Kesimpulan

  1. Pendapat pertama memegang teguh satu-dua hadits shahih, dengan mengabaikan banyak ayat al-Qur’an dan hadits shahih lainnya yang berkaitan dengan masalah shalat malam.
  2. Pendapat kedua memadukan semua dalil ayat al-Qur’an dan hadits shahih yang berkaitan dengan masalah shalat malam.
  3. Pendapat kedua diamalkan oleh generasi sahabat dan tabi’in tanpa ada seorang pun di antara mereka yang mengingkarinya.
  4. Shalat tarawih tidak ada batasan jumlah rakaatnya, menurut ijma’ yang ditegaskan oleh Ibnu Abdil Barr, Qadhi Iyadh, Ibnu Daqiqil ‘Id, Ibnu Taimiyah, dan lain-lain.

 

baca juga: Rajin Shalat, Kekebalan Tubuh Meningkat

Referensi:

  1. Muhammad Nashiruddin al-Albani, Risalatu Shalati at-Tarawih.
  2. Musthafa al-Adawi, ‘Adadu Rakaat Qiyamil Lail.
  3. Ismail Muhammad al-Anshari, Tashihu Hadits Shalat at-Tarawih Isyrina Rak’atan.
%d bloggers like this: