Shalat Sunah Qabliyah Jum’at, Adakah?

Shalat Sunnah Qabliyah Jum’at

Shalat sunah qabliyah adalah shalat sunah yang dikerjakan setelah adzan dan sebelum shalat wajib dikerjakan. Shalat sunah ba’diyah adalah shalat sunah yang dikerjakan setelah shalat wajib dikerjakan. Shalat sunah qabliyah dan shalat sunah ba’diyah merupakan pelengkap dan penyempurna bagi shalat wajib.

Hukum shalat Jum’at menurut kesepakatan ulama adalah wajib. Lalu, apakah ada kesunahan shalat qabliyah Jum’at sebagaimana ada shalat sunah qabliyah untuk shalat lima waktu? Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama fikih.

TIDAK ADA QABLIYAH JUM’AT

Mayoritas ulama mazhab Hanafi, Maliki, dan Hambali serta sebagian ulama mazhab Syafi’i berpendapat tidak ada shalat sunah qabliyah Jum’at. Makmum disunnahkan untuk bersegera ke masjid dan melakukan shalat sunah mutlak. Ia boleh shalat dua raka’at, empat raka’at, enam raka’at, delapan raka’at, atau lebih. Tidak ada batasan raka’at untuk shalat mutlak. Jika khatib telah masuk ke masjid, maka shalat sunah mutlak harus dihentikan.

BACA JUGA: QUNUT NAZILAH DALAM SHALAT JUM’AT

Saat adzan Jum’at dikumandangkan, khatib duduk di atas mimbar. Setelah adzan Jum’at selelsai dikumandangkan, khatib berdiri dan menyampaikan khutbah. Adapun para makmum mendengarkan khutbah tersebut dengan tenang dan tidak mengerjakan shalat sunah qabliyah Jum’at. (Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil Ibad, I/417-425 dan Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, II/541)

Pendapat ini didasarkan kepada dalildalil sebagai berikut. Pertama, hadits Ibnu Umar h bahwa shalat Jum’at hanya memiliki shalat sunah ba’diyah saja.

Dari Ibnu Umar h ia berkata, “Saya bersama Nabi ﷺ melaksanakan shalat sunah dua raka’at sebelum Zhuhur, dua raka’at setelah Zhuhur, dua raka’at setelah Jum’at, dua raka’at setelah Maghrib, dan dua raka’at setelah Isya’.” (HR. Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ahmad)

Kedua, hadits yang semakna dengannya dari Abu Hurairah a bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian melaksanakan shalat Jum’at, hendaklah ia shalat sunah empat raka’at setelahnya.” (HR. Muslim)

Ketiga, hadits Salman Al-Farisi a menyebutkan bahwa shalat sunah tersebut dikerjakan sebelum khatib masuk ke dalam masjid.

“Tidaklah seorang muslim mandi pada hari Jum’at dan membersihkan dirinya semaksimal kemampuannya, lalu ia merapikan rambutnya dan memakai minyak wanginya atau minyak wangi istrinya, lalu ia berangkat ke masjid dan tidak memisah-misahkan pundak dua orang yang duduk dalam masjid, lalu ia melakukan shalat sunah semampunya, lalu ia mendengarkan khutbah jika khatib berkhutbah; melainkan diampuni dosanya antara hari Jum’at tersebut dan hari Jum’at berikutnya.”(HR. Bukhari, Ahmad, Ad-Darimi, dan Ibnu Hibban)

Keempat, fatwa para sahabat. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam Al-Mushannaf bahwa Ali bin Abi ThaIib, Ibnu Umar, dan Abbas g memakruhkan shalat sunah dan berbicara setelah khatib Jum’at masuk ke dalam masjid.

ADA QABLIYAH JUM’AT

An-Nawawi Asy-Syafi’i (wafat 676 H), Abul Barakat Majduddin Abdus Salam ibnu Abdullah ibnu Taimiyah Al-Hambali (wafat 652 H), dan mayoritas ulama mazhab Syafi’i berpendapat ada sunah qabliyah Jum’at. (Al-Mughni, III/250, Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, II/541-542, dan Nailul Authar Syarh Muntaqal Akhbar, IV/346-356)

Pendapat ini didasarkan kepada dalildalil sebagai berikut. Pertama, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Asy-Syaukani menyebutkan bahwa dalil paling kuat yang mendasari sunah qabliyah Jum’at adalah keumuman hadits dari Abdullah bin Zubair a bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَا مِنْ صَلَاةٍ مَفْرُوضَةٍ إِلَّا وَبَيْنَ يَدَيْهَا رَكْعَتَانِ

“Tiada satu shalat wajib pun melainkan sebelumnya ada kesunahan shalat dua raka’at.” (HR. Ibnu Hibban)

Kedua, dalil lainnya yang paling kuat adalah keumuman hadits dari Abdullah bin Mughaffal rahimahumullah bahwa Nabi ﷺ bersabda:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ ثَلَاثًا لِمَنْ شَاءَ  

Antara setiap dua shalat (wajib) itu ada shalat sunah. Antara setiap dua shalat (wajib) itu ada shalat sunah. Antara setiap dua shalat (wajib) itu ada shalat sunah. Yaitu bagi siapa yang mau.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, hadits dari Jabir bin Abdullah a tentang Sulaik bin Hudayyah Al-Ghathafani yang masuk ke dalam masjid saat Nabi ﷺ menyampaikan khutbah Jum’at.

دَخَلَ رَجُلٌ الْمَسْجِدَ وَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ: أَصَلَّيْتَ؟. قَالَ: لاَ. قَالَ: قُمْ فَصَلِّ الرَّكْعَتَيْنِ.

“Seorang sahabat masuk masjid pada saat Rasulullah n menyampaikan khutbah Jum’at. Maka Rasulullah n bertanya, ‘Sudahkah engkau melaksanakan shalat sunah?’ Sahabat itu menjawab, ‘Belum.’ Maka beliau bersabda, “Berdirilah, laksanakanlah shalat sunah dua raka’at secara ringkas!”(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam lafal lain ditegaskan bahwa perintah tersebut berlaku umum, bukan hanya untuk Sulaik Al-Ghathafani.

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا

“Jika salah seorang di antara kalian datang ke masjid pada hari Jum’at, sedangkan khatib telah muncul di masjid, maka hendaklah ia tetap mengerjakan shalat sunah dua raka’at!” (HR. Muslim, Abu Daud, dan Ahmad)

Shalat sunah dua raka’at dalam hadits ini dikerjakan setelah adzan Jum’at dan saat khatib menyampaikan khutbah. Maka shalat tersebut dipahami adalah sunah qabliyah Jum’at, bukan shalat tahiyyatul masjid. (Nailul Authar, IV/355 dan Zadul Ma’ad, I/419)

Keempat, Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf dan At-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath meriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud melakukan shalat sunah empat raka’at sebelum shalat Jum’at. Ia memerintahkan murid-muridnya untuk melakukan hal itu. Hal serupa diriwayatkan dari tabi’in; Sa’id bin Ash dan Habib bin Abi Tsabit.

TARJIH

Mayoritas hadits shahih menunjukkan bahwa setelah muadzin selesai mengumandangkan adzan Jum’at, Nabi ﷺ berdiri dan menyampaikan khutbah dari atas mimbar. Saat itu para sahabat duduk dan mendengarkan khutbah. Mereka tidak melaksanakan shalat sunah qabliyah dua raka’at setelah adzan Jum’at.

Adapun hadits-hadits shahih yang menunjukkan perintah shalat dua raka’at ringan kepada makmum yang masuk masjid saat khutbah Jum’at, memiliki kemungkinan shalat sunah qabliyah dan shalat sunah tahiyyatul masjid. Adanya dua kemungkinan ini melemahkan kekuatan argumentasi kesunahan sunah qabliyah dengan hadits-hadits tersebut.

Keumuman hadits Abdullah bin Zubair dan Abdullah bin Mughafal menunjukkan adanya shalat sunah qabliyah sebelum setiap shalat wajib. Hanyasaja untuk shalat Jum’at, kebanyakan riwayat yang shahih tidak menunjukkan para sahabat melakukan sunah qabliyah Jum’at.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa:

  1. Pendapat yang lebih kuat adalah sebelum shalat Jum’at disunahkan shalat mutlak dan tidak disunahkan sunah qabliyah.
  2. Pendapat adanya sunah qabliyah Jum’at didasarkan kepada keumuman hadits-hadits shahih dan praktek sebagian salaf. Maka tidak perlu ada pengingkaran dan tuduhan bid’ah terhadap umat Islam yang mengamalkan pendapat tersebut. Wallahu a’lam bish-shawab. []

 

REFERENSI:

Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, cet. 1, 1410 H.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zadul Ma’aad fi Hadyi Khairil Ibad, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, cet. 3, 1419 H.

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, Al-Mughni Syarh Mukhtashar Al-Khiraqi, Jizah: Dar Hajar, cet. 1, 1412 H.

Muhammad bin Ali Asy-Syaukani, Nailul Authar min Asrari Muntaqal Akhbar, Kairo: Dar Ibni Affan, cet. 1, 1426 H.

%d bloggers like this: