Shalat Rawatib Setelah Shalat Jama’

Shalat Rawatib Setelah Shalat Jama'

Sering menjadi pertanyaan diantara kaum muslimin mengenai pelaksanaan hal tersebut. Bagaimana cara melaksanakan shalat sunnah rawatib dalam kondisi seperti itu? Di bawah ini kami nukilkan jawaban-jawaban dari sebagian para ulama.

Imam An-Nawawi (631-676 H) berkata,

وَفِيْ جَمْعِ الْعِشَاءِ وَالْمَغْرِبِ يُصَلِّي الْفَرِيْضَتَيْنِ ثُمَّ سُنَّةَ الْمَغْرِبِ ثُمَّ سُنَّةَ الْعِشَاءِ ثُمَّ الْوِتْرِ وَأَمَّا فِيْ الظُّهْرِ فَالصَّوَابُ الَّذِيْ قَالًهُ الْمُحَقِّقُوْنَ أَنَّهُ يُصَلِّي سُنَّة الظُّهْرِ الَّتِيْ قَبْلَهَا ثُمَّ يُصَلِّي الظُّهْرَ ثُمَّ الْعَصْرَ ثُمَّ سُنَّةَ الظُّهْرِ الَّتِيْ بَعْدَهَا ثُمَّ سُنَّةَ الْعَصْرِ”

Dalam shalat jama’ antara ‘Isya’ dan Maghrib, maka terlebih dahulu melaksanakan kedua shalat fardhu tersebut, kemudian melaksanakan shalat sunnah Maghrib dan shalat sunnah ‘Isya’, setelah itu boleh melaksanakan shalat sunnah witir. Adapun dalam shalat dhuhur (jama’ yang dikerjakan di waktu dhuhur) yang benar adalah pendapat para peneliti yaitu melaksanakan shalat sunnah sebelum dhuhur terlebih dahulu kemudian menjama’ shalat dhuhur dan asar, sesudah itu shalat sunnah ba’diah dhuhur, setelah itu shalat sunnah sebelum asar. (Raudhatu ath-Thalibin, Abu Zakaria Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi, 1/ 402)

Shalat Rawatib Sesudah Shalat Jama’

Zakaria al-Anshari (823-926 H) juga merupakan salah satu ahli fikih dari madzhab syafi’i menjelaskan,

وَإِنْ جَمَعَ تَقْدِيمًا بَلْ أَوْ تَأْخِيرًا فِيْ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ صَلَّى سُنَّةَ الظُّهْرِ الَّتِيْ قَبْلَهَا ثُمَّ الْفَرِيضَتَيْنِ الظُّهْرَ ثُمَّ الْعَصْرَ ثُمَّ بَاقِيَ السُّنَنِ مُرَتَّبَةً أَيْ سُنَّةَ الظُّهْرِ التي بَعْدَهَا ثُمَّ سُنَّةَ الْعَصْرِ وَفِيْ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ يُصَلِّي الْفَرِيضَتَيْنِ ثُمَّ السُّنَنَ مُرَتَّبَةً سُنَّةَ الْمَغْرِبِ ثُمَّ سُنَّةَ الْعِشَاءِ ثُمَّ الْوِتْرَ.

Apabila jama’ taqdim (dikerjakan di awal) atau bahkan jama’ ta’khir (dikerjakan diwaktu akhir) antara shalat dhuhur dan asar, maka mengerjakan shalat sunnah dhuhur (sunnah qabliyah) terlebih dahulu, kemudian mengerjakan dua shalat fardhu tersebut yaitu shalat dhuhur kemudian asar. Setelah selesai, maka tinggal mengerjakan shalat-shalat sunnah secara tertib yaitu shalat sunnah setelah dhuhur (shalat sunnah ba’diyah) kemudian shalat sunnah asar (qabliyah asar). Adapun dalam shalat jama’ antara maghrib dan ‘isya’ maka shalat dua fardhu terlebih dahulu, setelah itu mengerjakan shalat-shalat sunnah secara tertib yaitu shalat sunnah maghrib (shalat sunnah ba’diyah), shalat sunnah ‘isya’ (shalat sunnah ba’diyah) kemudian shalat witir. (Asna al-Mathalib, Zakaria bin Muhammad bin Ahmad bin Zakaria al-Anshari as-Sunaiki, 1/245)

Salah satu ahli fikih dari madzhab Hambali yaitu Ibnu Qudamah (541-629), beliau memberikan penjelasan,

وَإِذَا جَمَعَ فِي وَقْتِ الْأُولَى فَلَهُ أَنْ يُصَلِّيَ سُنَّةَ الثَّانِيَةِ مِنْهُمَا وَيُوتِرُ قَبْلَ دُخُولِ وَقْتِ الثَّانِيَةِ لِأَنَّ سُنَّتَهَا تَابِعَةٌ لَهَا فَيَتْبَعُهَا فِي فِعْلِهَا وَوَقْتِهَا وَالْوِتْرُ وَقْتُهُ مَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إلَى صَلَاةِ الصُّبْحِ وَقَدْ صَلَّى الْعِشَاءَ فَدَخَلَ وَقْتُهُ.

Apabila menjama’ diwaktu awal, maka hendaknya melaksanakan shalat sunnah setelah setesai shalat yang kedua (setelah selesai melaksanakan shalat jama’) kemudian melaksanakan shalat witir walaupun belum masuk waktu yang kedua (waktu shalat ‘isya’) karena hukum shalat sunnah mengikutinya baik dalam pengerjaan atau waktunya. Sedangkan shalat witir waktunya adalah antara shalat ‘isya’ hingga shalat subuh, ketika telah melaksanakan shalat ‘isya’ maka telah masuk waktu shalat witir. (Al-Mughni, Abdulullah bin Ahmad bin Qudamah al-Maqdisi Abu Muhammad, 2/ 124)

baca juga: Jama’ shalat Karena Hujan

Salah satu ulama ma’ashir yaitu Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menerangkan,

إِنْسَانٌ مَرِيْضٌ أَوْ جَمَعَ النَّاسُ مِنْ أَجْلِ الْمَطَرِ فَأَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى الْعَصْرِ يُصَلِّي الرَّاتِبَةَ أَوَّلاً أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ  ثُمَّ إِذَا فَرَغَ مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ صَلَّى الرَّاتِبَةَ الْبَعْدِيَةَ الَّتِيْ لِلظُّهْرِ يَجْمَعُ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ ثُمَّ إِذَا فَرَغَ صَلَّى رَاتِبَةَ الْمَغْرِبِ أَوَّلاً ثُمَّ رَاتِبَةَ الْعِشَاءِ.

Orang yang sakit atau tatkala kaum muslimin menjama’ shalat karena hujan, mengakhirkan shalat dhuhur hingga datang waktu asar. Maka mengerjakan shalat rawatib terlebih dahulu empat rakaat (shalat sunnah sebelum dhuhur dan asar). Kemudian apabila telah selesai mengerjakan shalat asar (selesai menjama’ shalat), maka setelah itu mengerjakan shalat sunnah rawatib yaitu shalat ba’diyah dhuhur. Adapun ketika menjama’ antara shalat maghrib dan ‘isya’ apabila telah selesai maka mengerjakan shalat sunnah rawatib maghrib terlebih dahulu kemudian shalat sunnah rawatib ba’diyah ‘isya’. (Liqa’u al-babi al-Maftuhi, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 147/ 14)

 

Oleh: Luthfi Fathani

%d bloggers like this: