Shalat Khusus di Malam Nisfu Sya’ban

Shalat Khusus di Malam Nisfu Sya’ban

Pada bulan Sya’ban, sebagian kaum muslimin melaksanakan amalan ibadah khusus yakni shalat nisfu sya’ban atau disebut juga shalat alfiyah. Beberapa fatwa dari ulama berkaitan dengan shalat nisfu sya’ban atau shalat alfiyah, diantaranya:

Larangan melaksanakan shalat alfiyah

An-Nawawi salah satu rujukan madzhab Syafi’i dalam pemaparan hadisnya tentang shalat Raghaib dan shalat Alfiyah di pertengahan bulan Sya’ban berkata,

هَاتَانِ الصَلَاتَانِ بِدْعَتَانِ وَمُنْكَرَانِ قَبِيْحَتَانِ وَلَا يَغْتَرُّ بِذِكْرِهِمَا فِيْ كِتَابِ قُوْتِ الْقُلُوْبِ وَإِحْيَاءِ عُلُوْمِ الديْنِ، وَلَا بِالْحَدِيْثِ الْمَذْكُوْر فِيْهِمَا؛ فَإِنَّ كُلَّ ذلِكَ بَاطِلٌ

“dua shalat ini adalah perkara bid’ah, mungkar,buruk, tidak tertipu dengan disebutnya hadis tentang dua (shalat Raghaib dan shalat Alfiyah) perkara tersebut di dalam buku “Quutul Qulub” dan “Ihya’ Ulumuddin”, dan tidak pula dengan hadis yang disebut di dalam kedua buku tersebut, sesungguhnya semua itu batil.  (al-Majmu’, Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi, 4/ 56)

Abu al-Khatab bin Dihyah salah satu ulama madzhab Dhohiri (wafat 633 H)berkata,

قَدْ رَوَى النَاسُ الْأَغْفَالُ فِيْ صَلَاةِ لَيْلَةِ النِصْفِ مِنْ شَعْبَانَ أَحَادِيْثَ مَوْضُوْعَةً وَوَاحِدًا مَقْطُوْعًا، وَكَلَّفُوْا عِبَادَ اللهِ بِالْأَحَادِيْثِ الْمَوْضُوْعَةِ فَوْقَ طَاقَتِهِمْ

“Sungguh orang-orang yang lalai telah meriwayatkan hadis-hadis yang Muadhu’ dan yang satu hadis Maqtu’ dalam masalah shalat malam (shalat alfiyah) di pertengahan bulan sya’ban, mereka membebani hamba-hamba Allah dengan hadis-hadis yang maudhu’ diatas kemampuan mereka.” (al-Ba’is ‘ala I’kari al-Bid’I wa al-Hawadis, Abdurrahman bin Ismail Abu Syamah, 35)

Ibnu Taimiyah salah satu ulama madzhab Hambali (wafat: 728H)berkata,

الحَدِيْثُ الوِرَادُ فِي الصَلَاةِ الْأَلْفِيَةِ مَوْضُوْعٌ بِاتِفَاقِ أَهْلِ الْعِلْمِ بِالْحَدِيْثِ، وَمَا كَانَ هَكَذَا لَا يَجُوْزُ اسْتِحْبَابُ صَلَاةٍ بِنَاءً عَلَيْهِ

 “hadis yang terdapat dalam shalat Alfiyah menurut para ahli hadis adalah hadis maudhu’ (palsu), karena seperti ini, maka tidak diperbolehkan menganjurkan shalat (alfiyah) berdasarkan hadis tersebut. (Iqtidho’ ash-Shirat al-Mustaqim, Taqiyuddin Ahmad bin Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyah al Harrani, 19)

Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab al-Hambali (wafat 795 H)berkata,

وَأَنْكَرَ ذَلِكَ ـ أَيْ: تَخْصِيْصُ لَيْلَةِ النِصْفِ بِعِبَادَةٍ ـ أَكْثَرَ الْعُلَمَاءِ مِنْ أَهْلِ الْحِجَازِ، مِنْهُمْ عَطَاء وَابْنُ أَبِيْ مَلِيْكَة، وَنَقَلَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْد بْنِ أَسْلَمِ عَنْ فُقَهَاءِ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ، وَهُوَ قَوْلُ أَصْحَابِ مَالِكٍ وَغَيْرِهِمْ، وَقَالُوْا: ذَلِكَ كُلُّهُ بِدْعَةٌ

“Kebanyakan ulama dari penduduk hijaz mengingkari hal itu –yaitu: mengkhususkan ibadah di malam pertengahan sya’ban-, diantanyanya Atha’, Ibnu Abi Malikah, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengutipnya dari para ahli fikih kota Madinah. Pendapat ini adalah pendapat ulama madzhab maliki dan selain mereka, mereka berpendapat, “semua itu adalah perkara bid’ah”. (Lathaifu al-Ma’arif, Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab al-Hambali, 137-138)

Ibnu al-Jauzi setelah menyebutkan hadis dengan sanadnya (hadis tentang shalat alfiyah)berkata,

هَذَا حَدِيْثٌ لَا نَشُكُّ أَنَّهُ مَوْضُوْعٌ

 “Kami tidak ragu bahwa hadis ini adalah hadis maudhu’ . (al-Maudhu’at, Abu al-Faraj Abdurrahman bin Ali bin al-Jauzi, 2/129)

Ketika imam asy-Syatibi (ulama madzhab Maliki, wafat: 790H) menyebutkan perkara-perkara bid’ah, beliau berkata,

وَمِنْهَا اِلْتِزَامُ الْعِبَادَاتِ الْمُعَيَّنَةِ فِي أَوْقَاتٍ مُعَيَّنَةٍ لَمْ يُوْجَدْ لَهَا ذَلِكَ التَعْيِيْنِ فِي الشَرِيْعَةِ، كَالْتِزَامِ صِيَامِ يَوْمِ النِصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَقِيَامِ لَيْلَتِهِ

“Diantaranya melazimi ibadah-ibadah tertentu di waktu-waktu tertentu,  dan tidak didapatkan penentuan tersebut di dalam syariat, seperti puasa nisfu sya’ban dan shalat (khusus) di malam harinya. (al-I’tisham, Abu Ishaq asy-Syatibi, 1/ 39)

Anjuran menghidupkan malam nisfu sya’ban dengan ibadah

Utsman bin Abdurrahman bin Utsman bin Musa bin Abi Nashr An-Nashri Al-Kurdi Asy-Syarakhani Asy-Syahruzuri dikenal denal nama Ibnu Shalah ulama dari madzhab syafi’i (Wafat: 642 H) berkata,

وَأَمَّا لَيْلَةُ النِصْفِ مِنْ شَعْبِانِ فَلَهَا فَضِيْلَةٌ وَإِحْيَاؤُهَا بِالْعِبَادَةِ مُسْتَحَبٌّ، وَلَكِنْ عَلَى الْاِنْفِرَادِ مِنْ غَيْرِ جَمَاعَةٍ

“Adapun malam nisfu sya’ban memilki keutamaan, dianjurkan menghidupkannya dengan ibadah, akan tetapi dilakukan sendiri-sendiri bukan dengan berjama’ah. (al-Ba’is ‘ala I’kari al-Bid’I wa al-Hawadis, Abdurrahman bin Ismail Abu Syamah, 44)

Ibnu Taimiyah berkata,

وَأَمَّا لَيْلَةُ النِّصْفِ فَقَدْ رُوِيَ فِي فَضْلِهَا أَحَادِيثُ وَآثَارٌ وَنُقِلَ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْ السَّلَفِ أَنَّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ فِيهَا فَصَلَاةُ الرَّجُلِ فِيهَا وَحْدَهُ قَدْ تَقَدَّمَهُ فِيهِ سَلَفٌ وَلَهُ فِيهِ حُجَّةٌ فَلَا يُنْكَرُ مِثْلُ هَذَا

“Adapun malam pertengahan (malam pertengahan bulan sya’ban) sungguh telah diriwayatkan hadis-hadis dan asar-asar tentang keutamaannya. Telah dikutib dari kaum salaf, bahwa mereka melaksanakan shalat (bukan shalat alfiyah) di dalamnya (malam pertengahan bulan sya’ban). Shalatnya seseorang sendirian (malam pertengahan bulan sya’ban), sungguh kaum salaf telah mendahuluinya. Bagi mereka ada hujjah di dalamnya, maka seperti ini tidak diingkari. (Majmu’ al-Fatawa, Taqiyuddin Ahmad bin Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyah al Harrani, 23/ 132)

Catatan:

Sesungguhnya tidak diperbolehkan melaksanakan shalat alfiyah yaitu shalat khusus yang dilaksanakan khusus di malam nisfu sya’ban dan dengan tatacara yang khusus pula. Akan tetapi, kita boleh menghidupkan malam nisfu sya’ban dengan amalan ibadah, seperti dzikir, shalat tahajud, tilawatil Qur’an,dll. Tidak dipungkiri oleh ulama bahwa terdapat keutamaan di malam nisfu sya’ban.

baca juga: Keabsahan Shalat Tanpa Bacaan Al-Fatihah

Oleh: Luthfi Fathani

%d bloggers like this: