Shalat ‘Id Tanggal Dua

Shalat ‘Id Tanggal Dua

Ustadz, bolehkah saya melaksanakan shalat ‘Id pada tanggal 2 Syawal? Sebenarnya yang saya maksud dengan tanggal 2 adalah tanggal 2 menurut saya, karena saya mengikuti paham wahdatul mathla’; sedangkan orang-orang yang tinggal di kampung saya kebanyakan mengikuti paham ikhtilaful mathali’ sehingga mereka baru mengerjakan shalat ‘Id keesokan harinya. (Guntur—Solo)

BACA JUGA: Saat Berbeda Awal Rmadhan Dengan Tetangga

Pada zaman Nabi pernah dilaksanakan shalat ‘Id pada tanggal 2 Syawal. Abu Dawud, an-Nasa`i, dan Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadits yang berbunyi, “Hilal Syawal tidak terlihat lantaran mendung. Maka pagi harinya kami semua masih dalam keadaan shiyam. Kemudian datanglah serombongan orang pada akhir siang. Kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mereka bersaksi bahwa mereka telah melihat hilal kemarin. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk berbuka dan mengerjakan shalat ‘Id pada keesokan harinya.”

Hanya saja, untuk kasus yang saudara hadapi, dimana saudara meyakini kerajihan pendapat wahdatul mathla’ berbeda dengan yang terjadi pada zaman Nabi. Prinsipnya, seseorang terikat dengan kesimpulan turunan dari hasil ijtihad yang dipilihnya. Oleh karena itu, pada asalnya ia harus mengerjakannya sesuai keyakinannya.

Jika untuk menjalankannya sesuai keyakinan mendapati kesulitan lantaran shalat ‘Id dilaksanakan di tempat yang sangat jauh atau jika tempat itu dekat tetapi kedatangannya ke tempat pelaksanaan shalat ‘Id menimbulkan fitnah, maka lebih baik tidak dikerjakan.

Perlu disyukuri bahwa di Indonesia, sikap toleran terhadap praktik ibadah secara beragam semakin hari semakin baik meski di sana-sini ada kekurangan. Wallahu a’lam.

%d bloggers like this: