Shalat Fardhu Berjama’ah

Hukum Shalat Jama’ah

Hukum Shalat Jama’ah

Shalat fardhu yang telah Allah swt wajibkan kepada hamba-hamba-Nya adalah salah satu amalan yang harus dikerjakan, sebagai bentuk ketaatan kita kepada Allha swt. Dalam pelaksanaannya, shalat fardhu bisa dikerjakan secara sendiri-sendiri atau berjama’ah. Akan tetapi, di kalangan para ulama terdapat perbedaan pendapat, apakah shalat fardhu tersebut harus dikerjakan secara berjama’ah ataukah boleh dikerjakan sendiri-sendiri?

 

Shalat berjama’ah hukumnya adalah fardhu ‘ain,

ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Abu Musa, ‘Atha’, al-Auza’I, Abu Tsaur, dan Madzhab Hanabilah. (al-Mughni, Ibnu Qudamah, 2/6). Di antara alasan mereka menetapkan bahwa shalat fardhu berjama’ah hukumnya fardhu ‘ain:

  1. Firman Allah Ta’ala:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. al-Baqarah: 43)

Ibnul Qayyim al-Jauziyah mengatakan, “Makna firman Allah ‘ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’, adalah tidaklah melakukan  shalat kecuali bersama-sama dengan jama’ah shalat, dan bersama-sama (berjama’ah) merupakan makna yang terkandung dalam ayat tersebut.” (ash-Shalatu wa Ahkamu Tarikuha, Ibnul Qayyim al-Jauziyah, hlm. 49-50).

  1. Pada saat perang berkecamuk, Allah swt tetap memerintahkan kaum muslimin untuk melaksanakan shalat secara berjama’ah. Dalam kondisi yang seperti itu saja, masih diperintahkan untuk shalat berjama’ah, apalagi dalam kondisi aman. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُمْ مَيْلَةً وَاحِدَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ كَانَ بِكُمْ أَذًى مِنْ مَطَرٍ أَوْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَنْ تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ إِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.” (QS. an-Nisa’: 102).

baca juga: Keabsahan Shalat Tanpa Bacaan Al-Fatihah

Ibnul Qayyim berkata, “Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa shalat berjamaah hukumnya fardhu ain, karena Allah swt tidak menggugurkan shalat berjama’ah bagi kelompok yang kedua walaupun kelompok pertama telah melakukannya. Kalaulah seandainya hukum shalat berjama’ah sunnah, tentu keadaan takut dari musuh adalah udzur yang utama. Kalaulah seandainya hukumnya  fardhu kifayah niscaya Allah akan menggugurkan kewajiban berjamaah atas kelompok kedua dengan telah berjamaahnya kelompok yang pertama … dan Allah tidak memberi keringanan bagi mereka untuk meninggalkan shalat berjamaah dalam keadaan ketakutan (perang). (ash-Shalatu wa Ahkamu Tarikuha, Ibnul Qayyim al-Jauziyah, hlm. 49).

  1. Seorang sahabat yang buta tidak ada yang menuntunnya ke masjid tetap diperintahkan shalat berjamaah ke masjid jika mendengar adzan, maka bagaimana dengan yang matanya sehat?

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Seorang buta pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid.’ Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah saw untuk shalat di rumah, maka beliau pun memberikan keringanan kepadanya. Akan tetapi, ketika orang itu beranjak pulang, beliau kembali bertanya, ‘Apakah engkau mendengar panggilan shalat (azan)?’ laki-laki itu menjawab, ‘Iya.’ Beliau bersabda, ‘Penuhilah panggilan tersebut (hadiri jamaah shalat).” (HR. Muslim, no. 1518).

  1. Wajib shalat berjamaah di masjid jika mendengar adzan, Rasulullah swt bersabda:

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

“Barangsiapa yang mendengar azan lalu tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali bila ada uzur.”  (HR. Abu Dawud, no. 551,  Ibnu Majah, no. 793, dan al-Hakim, no. 894)

Masih banyak dalil lain yang digunakan oleh para ulama dalam menetapkan hukum fardhu ain untuk shalat berjama’ah.

 

Shalat berjama’ah hukumnya adalah fardhu kifayah,

ini adalah pendapat yang diakui oleh madzhab Syafi’iyah, sebagaimana yang disampaikan oleh an-Nawawi dalam al-Majmu’, “Kami telah menyebutkan bahwa madzhab kami (Syafi’iyah) yang benar tentang hukum shalat berjama’ah adalah fardhu kifayah.” (al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab, an-Nawawi, 4/189). Abu al-Abbas dan Abu Ishaq mengatakan, “shalat berjama’ah hukumnya adalah fardhu kifayah, dan wajib menampakkannya kepada orang lain. Apabila mereka menghalanginya, maka mereka diperangi karena hal tersebut.” (al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab, an-Nawawi, 4/182). Pendapat ini berdasarkan hadits dari Abu ad-Darda’ Radhiyallahu ‘anhu:

 

مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ، فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ، قَالَ زَائِدَةُ: قَالَ السَّائِبُ: يَعْنِي بِالْجَمَاعَةِ: الصَّلَاةَ فِي الْجَمَاعَةِ

“Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang tidak didirikan shalat berjamaah di lingkungan mereka, melainkan setan telah menguasai mereka. Oleh karena itu, tetaplah kalian (shalat) berjamaah, karena sesungguhnya srigala itu hanya akan menerkam kambing yang sendirian (jauh dari kawan-kawannya).” Zaidah mengatakan, bahwa as-Sa’ib mengatakan bahwa yang dimaksud dengan jama’ah adalah shalat berjama’ah. (HR. Abu Dawud no.547).

Pendapat ini adalah pendapat jumhur para ulama, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, 1/ 119.

Shalat berjama’ah hukumnya adalah sunnah muakkadah,

ini adalah pendapat sebagian ulama madzhab Syafi’iyah (Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, 1/ 119),  sebagian madzhab Malikiyah dan madzhab Hanafiyah. (al-Fiqhu ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, Abdurrahman al-Jazairi, 1/ 636). Akan tetapi, menurut madzhab Hanafiyah sunnah muakkadah yang kedudukan hukumnya seperti wajib, ini pendapat yang dipilih oleh madzhab. Dengan demikian, orang yang tidak mengerjakan shalat fardhu dengan berjama’ah, maka ia mendapatkan dosa, dosanya lebih sedikit dari orang yang meninggalkan amalan yang hukumnya fardhu. (al-Fiqhu ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, Abdurrahman al-Jazairi, 1/ 636). Ulama yang berkesimpulan bahwa hukum shalat berjama’ah adalah sunnah muakkadah berdasarkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah saw bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjama’ah lebih utama daripada shalat sendirian, dua puluh tujuh derajat” (HR. Muslim, no.650).

Walaupun para ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini, dan konsekuensi dari perbedaan pendapat tersebut, kita harus bertoleransi kepada orang lain yang tidak sependapat dengan pendapat kita. Akan tetapi, terlepas dari itu semua, perlu kita ketahui bahwa Allah swt telah memberikan keutamaan yang sangat besar kepada orang-orang yang melaksanakan shalat fardhu secara berjama’ah dari pada melaksanakannya secara sendiri-sendiri.

 

Oleh: Luthfi Fathoni

%d bloggers like this: