Shalat Diimami Musafir

Shalat Diimami Musafir

Dalam sebuah perjalanan, kami serombongan berlima singgah di sebuah masjid lantaran sudah masuk waktu shalat Zhuhur. Entah karena melihat cara kami berpakaian atau hal lain, masyarakat di masjid tersebut mempersilakan salah seorang dari kami untuk maju menjadi imam shalat setelah dikumandangkannya iqamat. Bolehkah salah seorang dari kami yang berstatus musafir mengimami jamaah yang bukan musafir. Jika boleh, bolehkah pula qashar shalat tetap dilakukan? (Andi—Surakarta)

BACA JUGA: Kita Hanyalah Musafir

Para ulama sepakat, shalat diimami musafir adalah sah dan begitu pun sebaliknya, musafir sah shalat di belakang mukim. Demikian dinyatakan oleh Ibnu Qudamah. Ketika mukim menjadi imam, musafir mesti mengerjakan shalat seperti imam, menyempurnakan bilangan rekaatnya dan tidak mengqashar shalatnya. Apabila musafir yang menjadi imam, mukim yang menjadi makmum tidak boleh salam bersama imam. Dia mesti menyempurnakan bilangan rekaatnya, tidak boleh mengqasharnya.

Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Imran bin Hushain, katanya, “Aku telah berperang bersama Rasulullah n. Aku pun menyertai beliau dalam Fathu Mekah. Waktu itu beliau bermukim di Mekah selama 18 hari. Selama itu beliau hanya mengerjakan shalat dua rekaat-dua rekaat kecuali shalat Maghrib. Setiap selesai salam beliau bersabda (kepada penduduk Mekah yang shalat di belakang beliau), ‘Wahai Penduduk Mekah, sempurnakan shalat kalian empat rekaat. Sesungguhnya kami berstatus musafir.’.”

Pada hadits di atas terdapat kelemahan, akan tetapi para ulama empat madzhab sepakat menjadikannya sebagai hujjah. Hadits tersebut menegaskan, boleh seorang musafir menjadi imam orang-orang yang mukim. Hadits tersebut juga mengajarkan supaya imam memberitahu kepada jamaah apabila ia mengqashar shalatnya agar tidak terjadi kesalahpahaman. Wallahu a’lam. []

 

%d bloggers like this: