Sembelihan Dalam Upacara Adat, Haramkah?

Sembelihan Dalam Upacara Adat, Haramkah?

Di Indonesia ada banyak upacara adat. Masing-masing suku dan daerah memiliki upacara adat tertentu yang beragam. Beberapa di antaranya ada yang bernuansa Islamnya, hasil akuluturasi dari Islam dan budaya lokal dan juga Hindu. Adat-adat yang yang lain lebih banyak berakar pada ajaran Hindu dan animisme-dinamisme.

Dalam beberapa upacara adat tak jarang ada binatang yang disembelih sebagai kelengkapan sebuah upacara. Tujuannya pun beragam, ada yang memang merupakan persembahan untuk menghormati arwah leluhur, penunggu tempat tertentu, merupakan perlambang dari  sesuatu atau untuk keperluan sedekah.

Di Jawa sembelihan yang mengiringi berbagai macam upacara mulai dari kelahiran, sunatan dan pernikahan yang disebut “Ingkung”. Ingkung adalah ayam atau bebek yang disembelih dan dimasak utuh dalam posisi sayap, kepala dan kaki binatang terikat dan nantinya dibagikan kepada hadirin.

Di masyarakat Cirebon dan pesisir pantai dikenal upacara Nadran. Dalam upacara ini seekor kerbau di sembelih, kepalanya dipotong, dibungkus kain mori dan dihanyutkan ke laut bersama sesaji lainnya. Dagingnya dibagikan kepada warga. Tujuan upacara ini sebagai bentuk syukur kepada Sang Pencipta, pengormatan kepada leluhur dan permohonan perlindungan dari penguasa laut.

Penyembelihan kerbau juga dilakukan saat memulai pembangunan; jembatan, gedung dan lain sebagainya. Kepala kerbau dipotong lalu ditanam dibawah gedung yang dibangun. Menurut kepercayaan, sesajen ini merupakan permohonan keselamatan kepada dewa air dan dewa tanah agar bangunan yang dibangun tidak roboh.Seringnya, hewan yang disembelih dalam upacara adat adalah kerbau dan bukan sapi karena sapi dalam ajaran agama hindu adalah hewan suci. Sementara kerbau merupakan perlambang dari kebodohan. Dan masih banyak acara adat lain yang melakukan ritual penyembelihan hewan di dalamnya.

Bermula dari Hindu

Berbagai macam ritual penyembelihan dalam adat seringnya merupakan bagian dari ajaran agama Hindu. Sesajen dan berbagai filosofi yang dimaksudkan dalam upacara-upacara tersebut juga merupakan bagian dari ajaran Hindu atau budaya lokal setempat. Adapun dalam Islam, menyembelih hewan sebagai ritual dilakukan pada saat Hari raya Iedul Adha, haji dan aqiqah. Itupun tidak ada filosofi macam-macam selain hanya bentuk syukur dan ibadah kepada Allah. Tidak ada pula sesajen dan berbagai pernik yang turut disajikan. Setelah disembelih, daging dibagikan mentah atau sudah dimasak.

Sebagai seorang muslim, tentunya kita mengerti bahwa sesajen dan menyembelih untuk selain Allah merupakan perbuatan syirik. Syirik merupakan dosa paling besar karena menyekutukan Allah dengan makhluknya  seperti arwah leluhur, atau bahkan dengan sesuatu yang hanya mitos dan khayalan seperti dewa dan penjaga tempat tertentu.

Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”(Al An’am:162)

Makna nusuk adalah sembelihan atau kurban, yaitu melakukan taqarrub (pendekatkan diri) dengan cara mengalirkan darah. Dalam ayat ini Allah menybutkan bahwa sholat dan menyembelih adalah termasuk ibadah sehingga harus ditujukan kepada Allah semata. (At-Tamhiid li Syarhi Kitabi at Tauhiid, 143, Syaikh Shalih Alu Syaikh).

Ada pula hadits yang menyebutkan laknat bagi orang yang menyembelih untuk selain Allah.

لعن الله من ذبح لغير الله، لعن الله من لعن ووالديه. لعن الله من آوى محدثاً، لعن الله من غير منار الأرض

Dari ‘Ali radhiyallahu’anhu, beliau berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadaku dengan empat nasihat : “Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat anak yang melaknat kedua orang tuanya. Allah melaknat orang yang melindungi muhdits (orang yang jahat) /muhdats (pelaku bid’ah). Allah melaknat orang yang sengaja mengubah patok batas tanah.” (HR. Muslim).

Selain merupakan perbuatan syirik, daging hewan yang disembelih untuk selain Allah juga haram dimakan. Status haramnya ada dalam satu ayat bersama haramnya babi, darah dan bangkai. Allah berfirman;

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. (al Maidah:3)

Di dalam Islam, menyembelih hewan yang halal termasuk ibadah. Oleh karenanya, tatacara dan maksud menyembelih diatur dalam syariat. Tatacara seperti waktu menyembelih, metode penyembelihan, siapa yang menyembelih, dan tujuan dari penyembelihan ada ketentuan syar’inya. Melenceng dari ketentuan syariat akan membuat sembelihan menjadi haram dimakan dan perbuatan menyembelih tersebut menjadi dosa.

Ada empat jenis sembelihan:

Pertama, sembelihan ibadah.  Yaitu menyembelih hewan dengan menyebut nama Allah dan ditujukan untuk melakukan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Misalnya menyembelih hewan saat Iedul Adha, haji dan aqiqah. Hukum sembelihan seperti ini berpahala dan dagingnya halal dimakan.

Kedua, sembelihan mubah. Yaitu menyembelih hewan halal untuk tujuan konsumsi semata. Misalnya menyembelih ayam untuk dijual atau dimasak. Sembelihan seperti ini bukan termasuk ibadah namun daging sembelihannya halal dimakan. Syaratnya membaca basmalah ketika menyembelih.

Ketiga, sembelihan syirik. Yaitu sembelihan yang dipersembahkan kepada selain Allah seperti untuk dewa-dewi, jin, penunggu tempat tertentu atau makhluk-makhluk mitos yang lain. Meskipun biasanya tujuan ini hanya disertakan bersama dengan persembahan kepada sang Pencipta, tapi tetap saja sembelihan ini merupakan sembelihan syirik. Bahkan, menurut Syaikh Muhammad Hamid al-Fiqi, meskipun saat menyembelih menyebutkan nama Allah atau membaca bismillah, jika tujuan penyembelihan adalah untuk dipersembahkan kepada selain Allah, atau kepada Allah dan juga kepada selain-Nya, hukumnya tetap syirik dan dagingnya menjadi haram. Mneurut Beliau, tasmiyah (bacaan basmalah) dengan mulut itu adalah sia-sia belaka jika hakikatnya sembelihan dipersembahkan untuk selain Allah. Karena yang dimaksud dengan ungkapan ihlal (diumumkan) yang sebenarnya adalah maksud hati si penyembelih yang ingin melakukan pendekatan diri untuk selain Allah….” (Catatan kaki Fath al-Majid, hal. 139)

Ketiga, Sembelihan Bid’ah. Yaitu menyembelih hewan untuk acara-acara Bid’ah. Biasanya saat menyembelih menyebut nama Allah dan memang ditujukan untuk beribadah kepada Allah, hanya saja acara yang dilaksanakan adalah acara bid’ah. Bid’ah karena tidak ada tuntunannya dari Rasulullah tapi dianggap sunah atau memiliki keutamaan tertentu. Misalnya menyembelih hewan untuk sedekah untuk Maulid Nabi SAW, menyembelih kambing atau ayam pada saat peringatan 100 hari kematian dan lain sebagainya.

Hukum sembelihan dalam acara-acara bid’ah adalah boleh dimakan, asalkan disembelih sesuai ketentuan syariat. Dan yang paling penting, tidak ada maksud bahwa sembelihan itu ditujukan kepada selain Allah. Hal ini sesuai fatwa dari beberapa Syaikh misalnya Syekh Ibnu Baaz rahimahullah ditanya dengan soal berikut (Majmu Al-Fatawa, 9/74), “Apa hukum sembelihan yang dilakukan untuk merayakan maulid?”

Beliau menjawab, ” Jika sembelihannya ditujukan untuk orang yang dilahirkan, maka itu adalah syirik besar, adapun jika sembelihannya hanya untuk dimakan, maka tidak mengapa. Akan tetapi hendaknya tidak dimakan dan hendaknya seorang muslim tidak menghadirinya sebagai bentuk pengingkaran terhadap mereka dengan ucapan dan perbuatan. Kecuali jika dia hadir dengan maksud menasehati mereka tanpa ikut makan atau lainnya.”

Wallahua’lam.

 

baca juga: Badan Orang Kafir Najis??

%d bloggers like this: