Sekali Lagi Tentang Kontoversi Nikah Muyassar

Sekali Lagi Tentang Kontoversi Nikah Muyassar

Istilah nikah muyassar muncul dan mulai populer di media massa Timur Tengah, setelah Syaikh Abdul Majid Az-Zindani —Rektor Universitas Al-Iman Yaman— melontarkan sebuah ide yang cukup berani: Nikah Ashdiqa’ atau Nikah Friend.

Kisahnya berawal dari kunjungan-kunjungan dakwah Syaikh Abdul Majid Az-Zindani di Eropa dan Amerika. Banyak pemuda muslim di negara-negara Barat tersebut membawa pulang pacar perempuan (girl-friend) mereka ke rumah. Tidak jarang pula gadis muslimah membawa pulang pacar laki-lakinya (boy-friend) ke rumah, atau bahkan hidup bersama dengan pacar laki-lakinya alias kumpul kebo.

Hubungan seksual antara sesama pacar sudah menjadi tradisi pergaulan di Barat. Banyak pemuda dan pemudi Islam terpengaruh oleh arus maksiat tersebut.

Dalam arus pergaulan serba permisif dan perzinaan yang sangat merajalela tersebut, orang tua muslim harus mencari solusi. Maka Syaikh Abdul Majid Az-Zindani melontarkan ide solusinya, yaitu nikah ashdiqa’ alias nikah friend. Itu hanyalah istilah, sebagai lawan dari istilah boy-friend dan girl-friend.

Ide tersebut kemudian ditulis oleh Syaikh Az-Zindani dalam artikel berjudul Zawaj Friend: Nikaah Laa Sifaah, dan dimuat oleh majalah Al-Mustaqbal Al-Islami, edisi 148, bulan Sya’ban  1424 H/Oktober 2003 M.

 

KONTROVERSI ISTILAH DAN RESPON ULAMA

Lontaran ide Syaikh Az-Zindani tak pelak mengundang reaksi beragam di kalangan ulama dan masyarakat Timur Tengah. Sebagian ulama dan tokoh memuji ide tersebut, namun tak sedikit pula yang menentangnya.

Hal pertama yang menjadi titik kontroversi dari ide Syaikh Az-Zindani adalah penggunaan istilah nikah friend. Istilah tersebut memiliki kaitan erat dengan istilah boy friend dan girl-friend, yang mencerminkan budaya pacaran, kumpul kebo, dan free sex di Barat. Kenapa tidak dipakai istilah lain yang lebih sesuai dengan syariat Islam?

KONFERENSI PERS DAN NIKAH MUYASSAR

Akhirnya Syaikh Az-Zindani menggelar konferensi pers terkait masalah tersebut. Konferensi pers tersebut ditayangkan dalam program lin-Nisa’ Faqath oleh stasiun TV Al-Jazeera pada hari Jum’at, 24 Jumadi Tsaniyah 1424 H/22 Agustus 2003 M.

Dalam konferensi pers tersebut, Syaikh Az-Zindani menjelaskan bahwa zina dengan pacar (boy friend atau girl friend) di Barat sudah menjadi budaya yang merajalela. Dalam syariat Islam, ada dua bentuk zina yaitu:

  1. Sifaah, yaitu zina secara terang-terangan seperti kumpul kebo.
  2. Ittikhadzu Akhdan, yaitu zina secara sembunyi-sembunyi, seperti perzinaan dengan pacar. Kedua jenis zina tersebut diharamkan oleh syariat (QS. Al-Maidah [5]: 5)

Daripada terlibat pacaran, perzinaan, dan kumpul kebo dengan pacar; Syaikh Az-Zindani mengajak penyelenggaraan pernikahan yang dipermudah (nikah muyassar). Inilah awal mula istilah nikah friend berubah menjadi nikah muyassar.

LANDASAN SYARIAT NIKAH MUYASSAR

Syaikh Az-Zindani membangun ide nikah muyassar di atas dua landasan syariat:

  1. Jika pernikahan telah diselenggarakan dengan memenuhi semua syarat nikah dan rukun nikah, maka mempelai wanita dan mempelai pria boleh melakukan hubungan seksual.
  2. Suami wajib memberikan nafkah dan tempat tinggal kepada istri. Istri wajib menyerahkan dirinya kepada suami ketika suami menginginkan hubungan seksual dengan istrinya. Hak dan kewajiban tersebut berlaku saat kedua belah pihak memiliki kemampuan untuk melakukannya (QS. Ath-Thalaq [65]: 6). Namun jika istri rela, istri boleh merelakan tidak diberi nafkah dan tempat tinggal, karena faktor kesulitan ekonomi atau faktor lainnya yang dialami oleh suaminya.

Ide Syaikh Az-Zindani merupakan saran solutif untuk problematika yang dihadapi muda-mudi Islam di Eropa dan Amerika. Beliau memberikan solusi alternatif bagi mereka, seperti solusi bagi orang yang kelaparan dan terpaksa memakan hal yang diharamkan demi mempertahankan nyawanya.

NIKAH MUYASSAR DAN NIKAH MISYAR

Sebagian ulama memperbolehkan nikah muyassar, sebagian lainnya memakruhkannya, dan sebagian lainnya mengharamkannya.

baca juga ;

Nikah Misyar, Apa Hukumnya?

Pernikahan Muyassar, Apa Hukumnya?

Argumentasi masing-masing pendapat telah diuraikan dan didiskusikan dalam Majalah Hujjah edisi 12.

Terdapat sebuah istilah lain yang terkadang dianggap sama dengan nikah muyassar, yaitu istilah nikah misyar. Tentang nikah misyar, insya Allah akan dibahas dalam artikel tersendiri. Wallahu a’lam. []

Abu Ammar

 

Referensi:

Ahmad bin Yusuf Ad-Daryuwaisy, Az-Zawaj al-Urfi Haqiqatuhu wa Ahkamuhu wa Atsaruhu wa Al-Ankihah Dzatu ash-Shilah bihi, Riyadh: Darul Ashimah, cet. 1, 1426 H.

Abdul Malik bin Yusuf al-Muthlaq, Az-Zawaj Al-Urfi Dirasah Fiqhiyyah wa Ijtima’iyyah wa Naqdiyah, Riyadh: Darul Ashimah, cet. 1, 1426 H.

Sumayyah Abdurrahman Bahr, ‘Uqud az-Zawaj al-Mu’ashirah fi al-Fiqh al-Islami, Gaza: Al-Islamic University Gaza, cet. 1, 1425 H.

 

 

 

 

 

%d bloggers like this: