Sebab Dan Tujuan Diharamkan Riba

Sebab Dan Tujuan Diharamkan Riba

Mahaagung Allah dan Maha Penyayang kepada hamba-Nya, di balik larangan Allah selalu ada tujuan yang baik dan manfaatnya. Itulah prinsip yang harus kita pegang erat. Diharamkan khamr, dilarang perzinaan, dilarang mengambil hak orang lain secara zhalim, ada tujuan mulia dengan semua itu. Seperti halnya diharamkan riba, sebagaimana Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ الرِّبَا أَضْعَافاً مُّضَاعَفَةً وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda, dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imran: 130).

DAMPAK NEGATIF RIBA

Dampak negatif riba akan menimpa pada moral pelakunya, masyarakat, dan sistem perekonomian umat secara umum. Riba menumbuhkan kecintaan yang dalam kepada harta. Orang yang bermuamalah dengan riba merasa tidak cukup dengan yang sedikit dan tidak bersyukur dengan apa yang telah diberikan kepadanya. Sehingga akan mendorong dirinya untuk semakin melakukan perbuatan yang diharamkan Allah demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Belas dan kasihnya akan membeku, tidak merasa iba kepada orangorang susah dan membutuhkan, karena yang ada di pikirannya adalah keuntungan dan meraup laba yang banyak.

Orang fakir yang menjerumuskan diri ke dalam riba justru akan membawa dirinya pada kezaliman, apalagi jika ia tidak mampu membayar bunga riba tersebut.

BACA JUGA: Hidup Bermaqashid Sesuai Tuntunan Syariat

Sedangkan orang fakir yang tahu bahwa riba diharamkan, namun tetap bermu’amalah dengan riba, maka ia akan merasa tidak tenang dengan kehidupannya. Sebab dalam setiap detiknya dia hidup dengan nikmat dan anugerah Allah namun dalam setiap detik itu pula dia melanggar larangan Allah.

Adapun dampak negatif yang akan menimpa masyarakat dan perekonomian umat adalah tumpulnya potensi generasi umat lantaran terbiasa mendapatkan hasil dari jerih payah orang lain. Dalam sabdanya Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya riba itu, sekalipun hasilnya banyak, tetapi akhibatnya menjadi menyusut.” (HR. Ahmad)

SEBAB DIHARAMKAN RIBA

Salah satu yang dibutuhkan untuk menjaga maslahat duniawi adalah dengan memelihara harta, karena harta merupakan pokok kehidupan sebagaimana firman Allah,

وَلَا تُؤۡتُواْ ٱلسُّفَهَآءَ أَمۡوَٰلَكُمُ ٱلَّتِي جَعَلَ ٱللَّهُ لَكُمۡ قِيَٰمٗا

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan.” (QS. An-Nisa’: 5)

Setiap individu maupun masyarakat secara umum sangat membutuhkan harta, yang dalam hal ini kita tidak membatasi pada mata uang saja, akan tetapi juga pada benda, barang, perhiasan dan semua yang menjadi milik seseorang adalah harta.

Bagaimana mungkin seseorang tidak butuh harta, sedangkan dengan harta dia akan menunaikan berbagai kemaslahatan dunia dan agamanya. Misalnya, untuk menjaga agar dirinya tetap hidup dia butuh makan dan minum, butuh pakaian yang akan melindunginya dari panas dan dingin.

Bahkan umat juga sangat membutuhkan harta. Seandainya kemiskinan menimpa seluruh individu yang ada di dalam umat tersebut, sedangkan tidak ada sebagian di antara mereka yang mampu memenuhi kebutuhan saudaranya yang tidak mampu, atau tidak ada yang mampu menutupi kebutuhan saudaranya yang miskin maka umat tersebut akan hancur dan kehilangan kekuatannya.

Umat Islam ini dituntut untuk membela agama Allah dari berbagai sisi, baik dengan berjihad maupun dengan cara lainnya. Dan untuk membela agama Allah umat membutuhkan sarana berupa harta.

Dengan alasan inilah Allah mensyari’atkan pemeliharaan harta. Allah banyak menyebutkan ayat-ayat tentang anjuran untuk mendapatkan harta. Membuka luas pintu-pintu untuk mendapatkan harta yang halal; seperti bekerja dengan tangannya sendiri untuk mendapatkan upah, berdagang, bercocoktanam, dan lain sebagainya.

Sementara di sisi lain Allah juga menutup seluruh pintu untuk mendapatkan harta yang haram, seperti Allah melarang perbuatan riba, mengharamkan harta yang dihasilkan dengan cara batil dan zalim, Allah memberi hukuman potong tangan bagi pencuri, dan lain sebagainya. Semuanya menyeru manusia untuk mendapatkan harta dengan cara-cara yang diajarkan dan melarang cara-cara yang diharamkan.

Inilah kenapa riba diharamkan, Allah ingin memelihara harta hambaNya. Dengan harta tersebut para hamba akan mampu memelihara maslahat dunia sekaligus agamanya. Para ulama menjelaskan bahwa di tengah-tengah pemeliharaan harta ini juga mengandung pemeliharaan agama, kehormatan, jiwa, dan keturunan. Wallahu a’lam. []

(Disadur dari kitab Maqashidu asy-Syari’ah alIslamiyyah wa ‘Alaqatuha bi al-Adillah asy-Syar’iyyah, karya Mas’ud al-Yubi, hal. 283-295. Dan http:// vb.mediu.edu.my/showthread.php?t=22956)

%d bloggers like this: