Sanksi Pernikahan Sejenis

Sanksi Pernikahan Sejenis

Masyarakat Indonesia dikejutkan oleh resepsi pernikahan sejenis (gay) di sebuah dusun di Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, pada hari Sabtu (10/10/2015).

Dalam resepsi itu dua orang laki-laki berperan seperti sepasang pengantin. Laki-laki berinisial RAK berdandan seperti seorang pengantin wanita lengkap dengan busana dan kembang melati, sedangkan laki-laki berinisial DM mengenakan jas lengkap berdasi.

PERNIKAHAN SEJENIS

Dalam acara tersebut, baik pembawa acara maupun pengisi hiburan yang kebanyakan adalah transgender menyapa sepasang kekasih itu dalam Bahasa Jawa dengan istilah temanten (pasangan pengantin).

Alim ulama, ormas-ormas Islam, pelajar, mahasiswa, dan umat Islam se-Boyolali menentang pernikahan sejenis tersebut. Mereka menggelar aksi penolakan di depan kantor DPRD Boyolali.

Kasus pernikahan sejenis di Boyolali tersebut bukanlah kasus pertama di Indonesia. Pada bulan September 2015 pasangan gay bernama Tiko Mulya (warga negara Indonesia) dan Joe Trully (warga negara asing) telah menyelenggarakan resepsi pernikahan mereka di Hotel Four Season Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali.

PENISTAAN AGAMA

Pernikahan sejenis dalam hukum positif yang berlaku di Indonesia adalah tindakan yang melanggar hukum. Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Boyolali menyatakan pernikahan sejenis di Musuk melanggar Undang-Undang (UU) No. 1/1974 tentang Perkawinan.

Kapolres Boyolali menyatakan kepolisian dalam kasus ini akan lebih mendalami kemungkinan adanya pemalsuan identitas.

Di Bali, Polres Gianyar menangkap pihak penyelenggara pernikahan sejenis dengan jeratan Pasal 165 KUHP tentang Penistaan Agama (Hindu). Ancaman hukumannya di atas lima tahun penjara.

Walaupun melanggar hukum positif, sanksi hukum terhadap pernikahan sejenis di Indonesia belum memiliki kejelasan. Di Bali, pasangan pengantin sejenis justru tidak dikenai sanksi apapun.

HOMOSEKS LEBIH KEJI DARI ZINA

Hubungan seks antara dua orang laki-laki (homoseks) dalam pandangan Islam merupakan sebuah dosa besar.

Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, dan dua murid senior Imam Abu Hanifah yaitu Muhammad bin Hasan asy-Syaibani dan Qadhi Abu Yusuf berpendapat bahwa homoseksual itu sama dengan perzinaan.

Pendapat tersebut didasarkan kepada hadits dari Abu Musa al-Asy’ari RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا أَتَى الرَّجُلُ الرَّجُلَ فَهُمَا زَانِيَانِ

Jika seorang laki-laki menyetubuhi seorang laki-laki lainnya maka keduanya adalah orang yang berzina.” (HR. Al-Baihaqi dan At-Thabarani, namun sanadnya sangat lemah)

Sebagian ulama berpendapat dosa homoseks bahkan lebih besar dari dosa zina antara seorang laki-laki dan seorang wanita yang tidak memiliki ikatan nikah yang sah. (Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, 6/24)

Hal itu berdasar firman Allah, “Dan ingatlah Luth ketika ia berkata kepada kaumnya “Mengapa kalian melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan sebelumnya oleh seorang manusia pun?” (QS. Al-A’raf [7]: 80, lihat juga Asy-Syu’ara’ [26]: 165-166 dan Al-Ankabut [29]: 28-30)

SANKSI HOMOSEKSUAL DALAM ISLAM

Imam Malik, Syafi’i, dan Ahmad berpendapat bahwa hukuman untuk seorang laki-laki yang melakukan tindakan homoseksual adalah hukuman rajam sampai ia mati, seperti hukuman atas orang yang berzina setelah ia menikah.

Pendapat ini didasarkan kepada hadits dari Ibnu Abbas bahwa Nabi SAW bersabda:

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

Barangsiapa kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah si pelaku dan pasangannya!” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi)

Sebagian ulama madzhab Hambali berpendapat hukuman untuk seorang laki-laki yang melakukan tindakan homoseksual adalah hukuman mati dengan cara dilemparkan dari ketinggian, atau diruntuhi bangunan, atau dilempari dengan batu. Hal itu berdasar hukuman hujan batu dari langit yang Allah jatuhkan terhadap kaum Nabi Luth.

Imam Abu Hanifah berpendapat seorang yang melakukan homoseksual tidak sama dengan orang yang berzina. Sebab tindakan homoseksual tidak menyebabkan tercampur baurnya nasab dan tidak ada riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi SAW menetapkan hukuman rajam atas orang yang melakukan homoseksual.

Oleh karenanya imam Abu Hanifah berpendapat pelaku homoseksual “hanya” dihukum ta’zir [hukuman pembuat jera yang ditetapkan oleh khalifah atau qadhi] dengan didera atau dipenjara.

MENGHALALKAN HOMOSEKSUAL ADALAH KEKUFURAN

Jika seseorang melakukan tindakan homoseksual tapi ia masih meyakini keharamannya, maka ia “hanya” melakukan dosa besar.

baca juga : LEGALISASI LGBT

Adapun jika ia telah “melegalkan” homoseksual tersebut melalui akad nikah pasangan sejenis, maka ia telah melakukan kekafiran karena tindakan tersebut bermakna penghalalan homoseksual. [] Wallahu a’lam.

By; Abu Ammar

Referensi:

Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Damaskus: Darul Fikr, cet. 2, 1405 H.

Asy-Syaukani, Nailul Authar Syarh Muntaqa al-Akhbar, Riyadh; Dar Ibni Qayyim, cet. 1, 1426 H.

 

 

%d bloggers like this: