Salah Kaprah Penanganan Harta Waris

Salah Kaprah Penanganan Harta Waris

Pembagian harta waris dijelaskan secara detail dalam al Quran sampai pada tataran teknis dan rincian hitungan. Pada ayat 11 surat an Nisa, Allah menegaskan bahwa pembagian ini merupakan “faridhah” (pembagian) yang telah ditetapkan oleh Allah, dengan segala hikmah dan ilmu-Nya. Inilah cara membagi waris yang paling benar dan adil.

Sayangnya, pembagian rinci dari Allah ini banyak ditinggalkan. Persis seperti prediksi Nabi bahwa ilmu yang paling pertama akan diangkat adalah ilmu waris. Jika ilmunya diangkat dan diinggalkan, prakteknya tentu lebih dahulu ditinggalkan. Sufyan bin Uyainah berkata bahwa ilmu waris merupakan ujian yang menguji seluruh umat. Dan hasilnya menyedihkan, banyak yang tak lolos ujian.

Tidak sedikit yang berprasangka buruk bahwa membagi waris sesuai syariat lebih ribet dan berpontensi menimbulkan konflik karena tolok ukurnya gender dan garis nasab. Faktor jasa dan kedekatan seseorang kepada orang yang meninggal sama sekali tak diperhitungkan.

Ketidakpuasan sebelah pihak teradap jatah waris yang tidak mempertimbangkan jasa-jasanya terhadap si mayit dianggap rawan menimbulkan konflik. Anak lelaki yang sewaktu hidup tak terlalu peduli dengan orangtuanya, misalnya, saat orangtuanya meninggal dan warisan dibagi, bagiannya tetap bisa lebih banyak dari anak perempuan.

Akibat dari hal ini, sebagian umat lebih suka menyelesaikan urusan warisan dengan cara sendiri-sendiri. Ada yang membagi hartanya sebelum meninggal agar setelah meninggal nanti tidak terjadi keributan. Ada yang sepakat tidak dibagi dan diinfakkan atau dipakai bersama. Ada yang dibagi sama rata. Ada yangbagi sesuai aturan dan kesepakatan ahli waris.

Membagi Harta Sebelum Meninggal

Orang beranggapan, membagi harta sebelum meninggal dapat menghindarkan ahli waris dari konflik perebutan warisan.  Sebelum meninggal, harta masih menjadi hak milik orang yang mewariskan. Dia bisa membagikan kepada ahli warisnya sebelum dirinya meninggal. Dia juga masih bisa memberi orang tertentu selain ahli waris yang barangkali layak diberi karena suatu hal. Dengan begitu, tak perlu lagi khawatir ada perebutan warisan sepeninggal dirinya.

Bolehkah hal ini dilakukan? Ada dua kondisi: pertama harta dibagi dalam keadaan sehat. Akad semacam ini disebut hibah. Hukumnya boleh dan selayaknya, harta dibagi dengan adil dan mempertimbangkan maslahat.

Jika dia adalah orangtua, semua anak harus diberikan dengan jumlah yang sama. Tidak dibedakan antara anak lelaki dan wanita. Dalam sebuah hadits disebutkan:

النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ – رضى الله عنهما – وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُولُ أَعْطَانِى أَبِى عَطِيَّةً ، فَقَالَتْ عَمْرَةُ بِنْتُ رَوَاحَةَ لاَ أَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – . فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ إِنِّى أَعْطَيْتُ ابْنِى مِنْ عَمْرَةَ بِنْتِ رَوَاحَةَ عَطِيَّةً ، فَأَمَرَتْنِى أَنْ أُشْهِدَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « أَعْطَيْتَ سَائِرَ وَلَدِكَ مِثْلَ هَذَا » . قَالَ لاَ . قَالَ « فَاتَّقُوا اللَّهَ ، وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ »

Dari Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu menceritakan, Ayahku memberikan sebagian hartanya kepadaku. Kemudian beliau tanyakan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Nabi bertanya, “Apakah kau juga berikan harta yang sama kepada semua anakmu?” “Tidak.” Jawab Basyir. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bertaqwalah kepada Allah, dan bersikaplah adil terhadap anak-anakmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kondisi kedua, harta dibagi dalam kondisi sakit parah. Mengenai kasus ini, para ulama berbeda pendapat: mayoritas ulama menyatakan hal tersebut bukanlah hibah namun wasiyat. Sedangkan wasiyat tidak boleh untuk ahli waris, jumlahnya tidak boleh lebih dari sepertiga total harta dan dibagikan setelah pemberi wasiyat meninggal.

Mengenai anggapan bahwa cara ini dapat menghindari konflik, tidak sepenuhnya benar. Toh, konflik masih bisa terjadi jika masing-masing tak terima atas jumlah yang diterima. Masalahnya bukan di cara membagi tapi pada keadilan dan pemahaman penerima terhadap agama dan aturannya serta penguasaanya terhadap nafsu.

Warisan tidak dibagi

Tidak dibagi maksudnya secara sengaja dibiarkan dan tidak segera dibagi. Atau ahli waris sepakat tidak membagi warisan dan menggunakannya bersama-sama. Adakah hal ini dibenarkan?

Hal semacam ini semestinya tidak dilakukan tanpa adanya udzur syar’i. Jika memungkinkan, harta waris semestinya segera dibagi agar jelas kepemilikannya. Menggunakannnya bersama-sama tanpa dibagi dapat menzhalimi pihak-pihak tertentu. Sebab, bagian masing-masing ahli waris berbeda-beda. Menggunakannya bersama-sama tanpa mengetahui bagian masing-masing dapat menzhalimi sebagian pihak.

Warisan diinfakkan semua

Ada pula ahli waris yang sepakat, semua harta warisan diinfakkan seluruhnya tanpa dibagi terlebih dahulu. Adakalanya, hal ini dilakukan untuk menghindari pembagian warisan yang barangkali dirasa sulit dan menjauhkan ahli waris dari konflik. Tujuan lain, yang meninggal diharapkan mendapatkan pahala atas infak dari harta yang ditinggalkan.

Kalaupun hendak diinfakkan, maka harus ada kesepakatan dari semua ahli waris. Hanya saja, mengacu pada ketentuan syariat, yang terbaik adalah tetap dibagi. Lalu, jika memang hendak diinfakkan, harta bisa diinfakkan setelah pembagian. Memutuskan menginfakkan harta warisan tanpa membagi, adakalanya tidak sepenuhnya baik. Bisa jadi, ada salah satu ahli waris yang sebenarnya membutuhkan harta tersebut tapi sungkan untuk menolak ajakan menginfakkan semua harta warisan.

Warisan dibagi sama rata

Adil itu sama. Mengacu pada prinsip ini, ada juga yang membagi warisan sama rata. Mengabaikan kedekatan nasab, gender bahkan mungkin yang bukan ahli waris seperti anak angkat pun diberi. hal semacam ini jelas bertentangan dengan syariat. Allah berfirman:

لْكَ حُدُودُ اللَّـهِ ۚ وَمَن يُطِعِ اللَّـهَ وَرَ‌سُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِ‌ي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ‌ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. (qs: AN NISA’; 13).

 

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini: pembagian dan jatah masing-masing ahli waris yang Allah berikan sesuai kedekatan nasab dan kebutuhan mereka, serta rasa kehilangan mereka terhadap si mayit adalah batasan Allah. Jangan dilanggar. Allah menyatakan, “barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, artinya dalam hal pembagian waris dengan tidak menambah atau mengurangi bagian ahli waris dengan suatu kilah, trik atau apapun dan menyerahkan semuanya kepada pembagian Allah, akan masuk surga. Adapaun yang bermaksiat dengan melanggar hukum Allah akan masuk neraka. Maksiat karena melanggar batasan Allah dan itu menunjukkan bahwa ia tidak terima dengan pembagian dari Allah. Oleh karenanya, ia akan diganjar dnegan kehinaan dan azab neraka. (Tafsirul Quranil Azhim  I/613).

Jadi, yang terbaik adalah membagi harta warisan sesuai aturan syariat. Membagi harta warisan dengan cara sendiri adalah bentuk kemaksiatan kepada Allah. Maslahatnya pun akan jauh berbeda dari maslahat yang akan didapat jika dibagi sesuai syariat. Allah maha mengetahui segala hikmah dan maslahat. Segala bentuk kemaksiatan sama sekali tak mengandung hikmah (kebijaksanaan) dan maslahat, melainkan ketidakadilan dan mafsadat atau kerusakan.

Memang pakar ilmu waris mulai jarang namun bukan berarti tidak ada. usaha kita untuk membagi warisan secara benar merupakan bentuk kesungguhan dalam menjalankan syariat-Nya. (taufik anwar)

 

 

%d bloggers like this: