Sakit Dan Bersafar Boleh Bertayamum

syarat tayamum

فَصْلٌ( وَشَرَائِطُ التَّيَمُّمِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: وُجُوْدُ الْعُذْرِ بِسَفَرٍ أَوْ مَرَضٍ

“Pasal: Syarat bolehnya tayammum ada 5, (pertama) adalah adanya udzur karena perjalanan atau sakit.”

Secara bahasa tayamum adalah al-qashdu, yang berarti maksud. Secara istilah tayamum adalah mengusap wajah dan kedua tangan dengan debu yang suci sebagai ganti dari wudhu atau mandi, atau mengusap wajah dan tangan dengan syarat-syarat tertentu.

Tayamum adalah rukhshah yang Allah berikan khusus bagi umat Islam, disyariatkan pada tahun ke-6 Hijriyah dan para ulama sepakat tayamum hanya dilakukan pada tangan dan wajah meskipun yang ingin disucikan adalah hadats besar.

BACA JUGA: Walaupun Ada Air, Musafir Boleh Tayamum?

Tayamum disyariatkan dalam Islam dalam kondisi tertentu, Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika kamu sakit atau sedang dalam safar atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisa’: 43)

Rasulullah ﷺ bersabda, “Dijadikan (permukaan) bumi seluruhnya bagiku (Nabi Muhammad) dan ummatku sebagai tempat untuk sujud dan sesuatu yang digunakan untuk bersuci.” (HR. Ahmad)

Seperti yang disebutkan dalam definisi, tayamum adalah ibadah yang memiliki syarat tertentu, sebagian para ulama mazhab Syafi’i menyebut ada lima syarat di dalamnya; namun dalam ucapan Imam asy-Syafi’i dipahami ada enam syarat yang beliau sebutkan, di antaranya syarat-syarat tersebut adalah adanya udzur yang membolehkan seseorang bertayamum.

Para ulama mazhab Syafi’i menyebutkan ada tiga udzur syar’i yang membolehkan seseorang bertayamum; karena safar, karena sakit, dan karena air yang tidak cukup.

TAYAMUM KARENA SAFAR

Ada empat kondisi yang sering dialami para musafir, pertama: Dirinya yakin bahwa di sekitarnya tidak ada air yang dapat digunakan untuk bersuci; seperti di tengah padang sahara yang tandus sehingga ia tidak perlu bersusah payah mencari air di sekelilingnya. Kondisi seperti ini juga berlaku bagi orang yang tidak bersafar, tetapi dalam safar kondisi seperti ini kerap dijumpai, maka ia diperbolehkan untuk bertayamum.

Kedua, memungkinkan untuk mendapatkan air baik dalam jarak yang dekat maupun jarak jauh maka ia harus berusaha mendapatkan air tersebut, para ulama sepakat dalam hal ini. Jarak jauh yang dimaksud adalah kurang dari 3 mil. Jika ternyata ia tidak mendapatkannya maka ia boleh bertayamum.

Ketiga, dirinya yakin bahwa di sekitarnya ada air yang dapat digunakan untuk bersuci, maka dalam hal ini ada dua keadaan bagi musafir; yaitu:

  1. Air tersebut ada di tempat dengan jarak yang biasa ditempuh oleh penggembala atau pencari kayu, maka ia harus mendapatkannya dan tidak boleh bertayamum. Para ulama memperkirakan jaraknya adalah setengah farsakh atau kurang lebih 3 mil.
  2. Air tersebut ada di tempat jauh yang sekiranya ia pergi ke tempat tersebut maka ia akan kehilangan waktu shalat, maka ia diperbolehkan untuk bertayamum karena termasuk orang yang tidak mendapati air saat tiba waktu shalat.

Keempat, di sekitarnya ada air namun ia kesulitan untuk mendapatkan air tersebut, seperti jika ia bersama dengan para musafir lainnya yang berjumlah banyak dan hanya ada satu sumur yang dapat di ambil airnya, mereka berjubel-jubel di sekitarnya sehingga membuat dirinya tidak dapat mengambil air tersebut padahal waktu shalat hampir habis, maka ia diperbolehkan untuk bertayamum.

TAYAMUM KARENA SAKIT

Ada dua keadaan bagi orang sakit yang diperbolehkan untuk bertayamum, Pertama, adalah keadaan di mana seseorang apabila berwudhu akan kehilangan nyawanya, atau salah satu anggota tubuhnya, atau kehilangan fungsi dari salah satu anggota tubuhnya, maka dia diperbolehkan untuk bertayamum.

Kedua, keadaan di mana seseorang akan bertambah sakit atau akan memperlambat penyembuhan, maka dalam kondisi seperti ini ia diperbolehkan untuk bertayamum. Untuk mengukur kondisi sakit seseorang boleh berdasarkan pengakuan orang yang sakit maupun berdasarkan analisa dokter atau tabib.

TAYAMUM KARENA AIR TIDAK CUKUP

Apabila persediaan air sedikit, tidak cukup jika digunakan untuk berwudhu dan diminum, kemudian tidak tahu kapan akan mendapatkan air, maka demi kemaslahatan yang lebih besar seseorang diperbolehkan untuk bertayamum. Ukuran “darurat” diperbolehkannya bertayamum dalam kondisi seperti ini adalah jika akan mengakibatkan pada sebab yang kedua, yaitu yang dapat menyebabkan sakit atau dapat merenggut nyawa seseorang. Wallahu a’lam. [-]

Daftar Pustaka:

  1. Al-Bujairimi, Hasyiyah al-Bujairimi ‘ala al-Khatib, 1/274.
  2. Al-Hushni, Kifayatu al-Akhyar, hal. 84-87.
  3. Hajah Dariyah al-‘Aitha, Fiqhul Ibadat ‘ala Mazhabi Syafi’i, 1/160.

 

 

Oleh: Arif Hidayat 

%d bloggers like this: