Safinatun Naja

Safinatun Naja

Bagi para kyai, habib, ustadz, santri, dan masyarakat pengikut madzhab Syafi’i di Indonesia, kitab Safinatun Naja sangat populer. Kitab fiqih menurut madzhab Syafi’i ini diajarkan di pondok pesantren, madrasah diniyah, madrasah ibtidaiyah, masjid, mushala dan majlis taklim. Di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur, kitab ini diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dengan huruf Arab pegon.

Judul lengkap buku ini adalah Safinatun Naja fiimaa Yajibu ‘alal ‘Abdi li-Mawlaahu. Safinatun Naja secara harfiah bermakna bahtera keselamatan. Kitab ini dikarang oleh Syaikh Salim bin Abdullah bin Sa’ad bin Abdullah bin Sumair Al-Hadhrami As-Syafi’i. Syaikh Salim bin Sumair Al-Hadhrami dilahirkan di Hadhramaut, Yaman dan menimba ilmu kepada para ulama Yaman, hingga menjadi salah satu ulama besar Hadhramaut.

Selain ahli di bidang agama, beliau adalah seorang pakar politik dan militer. Ia diutus oleh Daulah Katsiriyah, Hadramaut untuk mencari pakar meriam ke negeri India. Ia juga mendapat kepercayaan Daulah Katsiriyah untuk membeli persenjataan modern dan amunisinya di Singapura. Ia berperan besar dalam mendamaikan perselisihan antara Daulah Yafi’iyah dan Daulah Katsiriyah.

Ulama Hadramaut ini meninggalkan Yaman dan berlayar ke India, kemudian ke pulau Jawa, tatkala Sultan Abdullah bin Muhsin, penguasa baru Daulah Katsiriyah mulai bersikap otoriter. Beliau menetap dan berdakwah di pulau Jawa hingga meninggal di kota Betawi (Jakarta) pada tahun 1271 H (1855 M).

baca juga: Refrensi Singkat Madzhab Hambali, Dalilu ath-Thalib li Naili

Safinatun Naja adalah matan ringkas kitab fiqih yang sangat cocok untuk dipelajari oleh anak-anak, masyarakat awam, dan para pemula. Para ulama Syafi’iyah menganjurkan pembelajaran matan Safinatun Naja, sebelum pembelajaran matan Sullam At-Tawfiq dan matan Al-Ghayah wat Taqrib (Matan Abu Syuja’).

Seperti lazimnya kitab matan, Safinatun Naja ditulis secara ringkas dan padat, tanpa menyebutkan dalil dan perbedaan pendapat para ulama fiqih. Sesuai dengan obyek dakwahnya masyarakat Jawa dan Indonesia pada umumnya, juga sesuai dengan zaman penulisannya yaitu masa penjajahan salibis Belanda, Safinatun Naja memfokuskan diri pada tema ibadah mahdhah yang berkenaan dengan setiap muslim; Thaharah, Shalat, Zakat, dan Shaum. Hal-hal yang berkenaan dengan haji tidak dibahas dalam matan ini, karena pada saat itu sedikit sekali masyarakat Indonesia yang telah mampu menunaikan haji ke kota Makkah, disamping kebijakan penjajah Belanda yang menghalang-halangi ibadah haji.

Matan Safinatun Naja diawali dengan penyebutan rukun Islam, rukun Iman, dan makna kalimat syahadat. Bab thaharah dimulai dengan pembahasan tanda-tanda baligh, yang menjadikan seorang muslim dan muslimah terkena kewajiban syariat. Lalu disusul dengan pembahasan wudhu, mandi, tayamum, najis, haidh dan nifas.

Bab shalat membahas syarat-syarat shalat, rukun-rukun shalat, pembatal-pembatal shalat, shalat jama’ah, shalat jama’ dan shalat qashar, shalat Jum’at, dan diakhiri dengan pengurusan jenazah.

Bab zakat adalah pembahasan paling singkat. Tak lebih dari dua baris, matannya menjelaskan harta-harta yang terkena kewajiban zakat.

Bab terakhir adalah shaum. Bab ini membahas syarat-syarat shaum Ramadhan, rukun-rukunnya, pembatal-pembatalnya, dan jenis-jenis kaffarah shaum.

Safinatun Naja adalah matan fiqih madzhab Syafi’i yang merepresntasikan ilmu fardhu ‘ain yang wajib diketahui dan diamalkan oleh setiap mukallaf. Meski ringkas, ia sangat padat dan memadai.

Ulama besar tanah Jawa yang menjadi mufti madzhab Syafi’i di Makkah, Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi Al-Bantani (wafat tahun 1316 H / 1898 M) telah men-syarh matan Safinatun Naja dalam sebuah kitab berjudul Kasyifatu As-Saja Syarh Safinatin Naja. Syarh ini juga sangat terkenal di Indonesia dan diajarkan oleh para kyai dan ustadz di pondok pesantren, madrasah, masjid, mushala dan majlis taklim.

Pengarang Safinatun Naja telah berupaya sekuat tenaga untuk menjelaskan hukum-hukum fiqih dasar yang berkenaan dengan ibadah harian setiap muslim mukallaf. Namun beberapa pembahasan penting seperti adzan, iqamah, shalat rawatib, dan shalat Ied tidak dimuat oleh Safinatun Naja. Memang, kesempurnaan hanya milik Allah Ta’ala. Semoga Allah membalas pengarang Safinatun Naja dan pen-syarhnya dengan sebaik-baik balasan di dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam bish-shawab

 

%d bloggers like this: