Saat Haid Datang Di Bulan Ramadhan

haid di bulan ramadhan

Seluruh umat Islam diwajibkan berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan. Namun tidak bagi wanita yang sedang haid. Para ulama sepakat bahwa wanita yang sedang haid tidak diwajibkan berpuasa dan mengqadha’ puasa wajib yang ditinggalkan karena haid. Berdasarkan hadits Aisyah, ia berkata, “Kami haid pada zaman Rasulullah, kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa namun tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.” (HR. Muttafaqun ‘alaihi).

Ada beberapa kondisi yang kerap terjadi pada kaum wanita saat datangnya haid di bulan Ramadhan, di antaranya adalah:

PERTAMA, SUCI DARI HAID TEPAT SEBELUM FAJAR.

Ibnu Hajar mengutip sebuah pendapat jumhur ulama bahwa wanita haid yang suci tepat sebelum fajar dan dia berniat untuk berpuasa maka puasanya sah serta tidak terikat pada mandi junub. Artinya, jika saat terbitnya fajar dia belum sempat mandi maka puasanya tetap sah dalam keadaannya. (Fathul Bari, 4/192).

Syaikh Utsaimin juga menjelaskan, jika seorang wanita dalam keadaan haid kemudian suci sesaat sebelum fajar pada hari ramadhan maka wajib baginya berpuasa pada hari itu walaupun dia tidak sempat mandi kecuali setelah terbit fajar, dan puasanya sah. Seperti halnya dengan orang junub, jika berniat puasa dalam kondisi junub dan tidak mandi melainkan setelah fajar maka puasanya sah. Berdasarkan hadits Aisyah, dia berkata, “Dahulu Rasulullah pernah memasuki waktu subuh dalam keadaan junub karena jima’, bukan ihtilam (mimpi), kemudian beliau tetap puasa Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). (Majmu’ fatawa al-Utsaimin, 11/233. Dima’ ath-Thabi’iyyah li an-Nisa’, 29)

KEDUA, HAID DATANG DI SIANG HARI.

Dalam al-Musu’ah al-Fiqhiyyah (18/318) disebutkan bahwa tidak ada perselisihan di antara para ulama ketika darah haid berhenti setelah terbitnya fajar, baik terjadi pada pagi hari, siang maupun sore. Maka puasanya pada hari itu batal dan wanita tersebut wajib mengqadha’nya.

Yang menjadi perselisihan adalah apakah dia juga wajib menghindari segala hal yang dapat membatalkan puasa seperti makan, minum dan lain sebagainya atau boleh melakukannya. Menurut mazhab Hanafi dan Hanbali dia wajib menghindari pembatal tersebut. Namun menurut mazhab Maliki dan Syafi’i dia tidak wajib menghindarinya. Artinya, setelah puasanya dinyatakan batal maka ia boleh makan atau minum. Dan pendapat yang kedua ini dinilai lebih kuat serta rajih dari pendapat yang pertama.

KETIGA, HAID DATANG DI WAKTU MAGHRIB.

Seorang wanita tengah berpuasa, beberapa saat sebelum adzan Maghrib ia mendapatkan haid maka puasanya batal dan ia diwajibkan meng-qadha puasa pada hari yang lain. Seperti halnya jika haid datang setelah adzan maghrib maka puasanya sah dan dianggap. Akan tetapi bila seorang wanita baru sadar haid ketika berbuka atau setelahnya dan ia ragu apakah darah itu keluar sebelum berbuka atau setelahnya maka puasanya tetap sah. (Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, 1, Darul Haq, 2010).

KEEMPAT, MENGKONSUMSI OBAT PENUNDA HAID.

Puasa bagi wanita yang sedang haid berdampak pada melemahnya tubuh, pada saat itu dia membutuhkan asupan gizi dan makanan untuk menguatkan tubuhnya. Oleh karena haid itu datang setiap bulan, dan demi mendapatkan keutamaan berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan tanpa halangan haid maka dibuatlah obat-obatan pencegah atau penunda haid. Obat-obatan seperti ini telah dikenal sejak zaman dahulu hingga sekarang ini. Pada sebagian wanita obat penunda haid menimbulkan dampak buruk yang membahayakannya saat dikonsumsi.

Dalam ajaran Islam tidak diperbolehkan memasukkan sesuatu yang dapat membahayakan tubuh. Sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila obat penunda haid tersebut membahayakan bagi wanita yang meminumnya maka tidak diperbolehkan secara syar’i.

Namun bila tidak membahayakan tubuh, dalam hal ini para ulama berselisih pendapat. Menurut mazhab  Maliki menggunakan obat penunda haid tidak diperbolehkan. Alasannya karena Allah melarang seseorang berbuat kerusakan pada dirinya. Dan haid adalah darah yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh wanita, apabila ditahan maka justru akan menimbulkan bahaya.

baca juga: Darah Haid di Luar Kebiasaan Wanita

Adapun menurut mazhab Syafi’i dan Hanbali boleh memakai obat penunda haid selama obat-obatan tersebut diketahui dan tidak membahayakan bagi wanita. Oleh mereka hal ini dinyatakan sebagai amalan mubah yang tidak ada dalil yang mengharamkannya. Pendapat kedua ini dinilai lebih rajih oleh para ulama, meskipun demikian beberapa ulama memakruhkannya karena sedikit banyak pasti akan menimbulkan pengaruh pada siklus keluarnya darah haid yang tidak menentu

Oleh karena itu, seyogiyanya bagi para wanita bila ingin mengkonsumsi obatobatan semacam itu berkonsultasi terleih dahulu pada dokter untuk mengetahui kesehatan tubuh dan efek obat yang akan ditimbulaknnya. Wallahu a’lam. (http:// main.islammessage.com/) []

 

%d bloggers like this: