Saat Al-Auza’i dan Abu Hanifah berdebat

Saat Al-Auza’i dan Abu Hanifah berdebat

Imam Sufyan bin Uyainah (wafat tahun 198 H), ulama hadits kota Makkah, menceritakan bahwa pada suatu kesempatan imam Al-Auza’i (wafat tahun 157 H) dan imam Abu Hanifah (wafat tahun 150 H) bertemu di kota suci Makkah. Terjadilah dialog diantara ulama besar fiqih negeri Syam dan ulama besar fiqih negeri Kufah tersebut.

“Kenapa kalian tidak mengangkat tangan kalian ketika melakukan ruku’ dan bangun dari ruku’?” tanya Al-Auza’i.

Abu Hanifah menjawab, “Ya, karena tidak ada hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam atas masalah itu.”

“Bagaimana tidak ada hadits shahih, sedangkan (Ibnu Syihab) Az-Zuhri telah menceritakan kepadaku, dari Salim (bin Abdullah bin Umar) dari bapaknya (Abdullah bin Umar) dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bahwasanya beliau mengangkat kedua tangannya saat memulai shalat, saat ruku’, dan saat bangun dari ruku’?” tuanya Al-Auza’i.

Abu Hanifah pun mengeluarkan argumentasinya. “Telah menceritakan kepada kami Hammad (bin Abi Sulaiman) dari Ibrahim (bin Yazid) dari Alqamah (bin Qais) dan Al-Aswad (bin Yazid) dari (Abdullah) Ibnu Mas’ud bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam tidak mengangkat kedua tangannya kecuali saat memulai shalat dan tidak melakukannya lagi setelah itu.”

(baca juga: Ketika Para Ulama Sepakat Atau Berbeda Pendapat Atas Sesuatu)

Al-Auza’i pun keheranan dengan argumentasi Abu Hanifah. “Aku menceritakan kepada Anda hadits dari Az-Zuhri dari Salim dari bapaknya. Sementara Anda menceritakan hadits dari Hammad dari Ibrahim?”

“Hammad lebih faqih daripada Az-Zuhri, Ibrahim lebih faqih dari Salim, dan Alqamah tidak lebih rendah dari Ibnu Umar. Kalaupun Ibnu Umar seorang sahabat atau unggul karena menjadi sahabat Nabi, toh Al-Aswad memiliki keutamaan yang besar. Sedangkan Abdullah (bin Mas’ud) sudah jelas, siapa Abdullah itu,” jawab Abu Hanifah.

Mendengar argumentasi Abu Hanifah tersebut, Al-Auza’i pun diam. Keduanya saling memahami dan menghargai pilihan pendapat fiqih masing-masing.

Kisah unik tersebut disebutkan oleh Syaikh Muhammad Khudhari Bek dalam bukunya, Tarikh At-Tasyri’ Al-Islami.

Kita tidak hendak mendiskusikan sanad mana yang lebih shahih dan pendapat siapa yang lebih kuat, dari kisah diatas. Hal yang ingin kita sorot di sini adalah bahwa masing-masing ulama mujtahid memiliki landasan syar’i, dan mereka semua mengikuti hadits jika mereka meyakini keshahihan hadits tersebut.

Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Hendaknya diketahui bahwasanya tiada seorang pun imam yang diterima secara bulat oleh umat Islam, menyengaja untuk menyelisihi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam dalam salah satu sunnahnya, baik dalam perkara yang kecil maupun perkara yang besar. Sebab seluruh imam telah bersepakat secara yakin atas wajibnya mengikuti Rasul, dan bahwa setiap manusia (ulama) bisa diterima maupun ditolak pendapatnya, kecuali Rasulullah (wajib diterima pendapatnya). Namun jika pendapat salah seorang imam didapati menyelisihi sebuah hadits shahih, maka pastilah imam tersebut memiliki udzur.” (Majmu’ Fatawa, 20/232)

Kaedah ini sangat penting untuk dipahami oleh umat Islam, terutama saat terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama fiqih. Dengan memahami kaedah ini, orang awam muqallid bisa memilih fatwa ulama mujtahid yang mereka percayai, dan penuntut ilmu mutabi’ bisa memilah pendapat yang lebih kuat argumentasinya dan lebih dekat kepada kebenaran. Jika muqallid dan mutabi’ sudah memahami dan mengamalkan kaedah ini secara benar, niscaya perbedaan pendapat para ulama benar-benar akan menjadi rahmat bagi umat Islam.

Imam Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid li-Maa fi Al-Muwatha’ min Al-Ma’ani wa Al-Asanid meriwayatkan dari Hasan Al-Bashri (wafat tahun 110 H) bahwa para sahabat radhiyallahu ’anhum yang mengangkat tangan mereka dalam ruku’ dan i’tidal tidak mencela para sahabat yang hanya mengangkat tangan mereka dalam takbiratul ihram. Demikian pula sebaliknya.

Sungguh mengagumkan apa yang dilakukan oleh imam Abdullah bin Mubarak (wafat tahun 181 H) terkait dengan orang yang berbeda pendapat dengan beliau dalam masalah fiqih. Beliau rela mencatat hadits-hadits yang menjadi akan argumen orang yang berbeda pendapat dengan beliau.

Al-Khathib Al-Baghdadi di dalam Al-Kifayah fi Ilmi Ar-Riwayah meriwayatkan bahwa Abdullah bin Mubarak berkata, “Sungguh saya terkadang mendengarkan sebuah hadits maka aku catat hadits tersebut. Bukan karena saya berpendapat akan mengamalkan hadits tersebut, bukan pula karena saya akan meriwayatkannya. Saya mencatatnya untuk saya jadikan bekal bagi sahabat-sahabatku, jika ia mengamalkannya, maka saya akan berkomentar ia beramal sesuai hadits.”

Semoga kita semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan pendapat para ulama dalam masalah fiqih. Wallahu a’lam bish-shawab.

 

%d bloggers like this: