Rush Money, Upaya Menjauhi Riba

Rush Money, Upaya Menjauhi Riba

Sepanjang bulan Oktober sampai Desember 2016, umat Islam di beberapa wilayah di tanah air melakukan aksi-aksi tuntutan. Mereka menuntut pemerintah untuk memenjarakan guberur non-muslim yang melecehkan Al-Qur’an. Namun tuntutan rakyat muslim tersebut tidak ditanggapi secara adil dan proporsional oleh pemerintah.

Sadar bahwa aksi massa tidak juga ditanggapi, maka rakyat pun melakukan gerakan kreatif Rush Money. Rush Money adalah tindakan penarikan uang secara massal oleh para nasabah sehingga menimbulkan kesibukan yang hebat bagi bank untuk melayaninya sampai kemudian muncul kepanikan. Bagaimana fenomena rush money dalam pandangan fikih Islam?

BUNGA BANK ADALAH RIBA

Semua lembaga fikih dan ekonomi Islam tingkat internasional telah memfatwakan keharaman dan status riba pada bunga bank. Pada bulan Muharram 1385 H/Mei 1965 M Muktamar Internasional Kajian Islam II di Kairo, yang dihadiri oleh 150 ulama dari 35 negara muslim, telah sepakat memutuskan bahwa bunga bank adalah riba dan hukumnya haram.

Pada tahun 1976 dalam Muktamar Internasional Ekonomi Islam di Makkah, yang dihadiri oleh lebih dari 300 ulama dan pakar ekonomi Islam dari seluruh dunia, juga memfatwakan keharaman dan status riba pada bunga bank.

BACA JUGA: Sebab Dan Tujuan Diharamkan Riba

Fatwa serupa ditetapkan oleh Muktamar Internasional Bank Islam di Dubai pada 25 Jumadi Tsaniyah 1399 H/22 Mei 1979 M, Majma’ Al-Fiqh Al-Islami negara-negara OKI dalam muktamar di Jeddah pada 22 Desember 1985 M, dan Majma’ Fiqh dalam Rabithah Al-’Alam AlIslami, dalam sidangnya di Makkah, pada tanggal 12-19 Rajab 1406 H.

Lembaga fatwa tingkat nasional juga telah memfatwakan hal itu. Di antaranya adalah Fatwa Dewan Syari’ah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 2000 M, Keputusan Sidang Lajnah Tarjih Muhammadiyah tahun 1968 di Sidoarjo, Keputusan Munas Alim Ulama dan Konbes NU tahun 1992 di Bandar Lampung, dan Keputusan Rapat Komisi Fatwa MUI, tanggal 3, 17, dan 24 Januari 2004 M.

RIBA WAJIB DITINGGALKAN

Ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits shahih, dan ijma’ ulama’ telah mewajibkan setiap muslim untuk meninggalkan transaksi ribawi dan harta riba. Sebab riba adalah dosa besar yang mengakibatkan turunnya murka Allah dan kehancuran. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman, “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan riba yang belum kalian ambil jika kalian benar-benar beriman!” (QS. AlBaqarah: 278)

Dari Abu Hurairah s bahwasanya Nabi ﷺ bersabda, “Jauhilah oleh kalian tujuh dosa besar yang mengakibatkan kehancuran!” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ketujuh dosa besar tersebut?” Beliau menjawab, “Yaitu syirik, sihir, membunuh orang yang diharamkan oleh syariat untuk dibunuh, memakan harta riba…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka hukum asal dari menarik kembali seluruh uang yang didepositokan di bank konvensional adalah wajib atas seorang muslim.

BUNGA SEKARUNG, DOSA SEGUNUNG

Uang yang didepositokan di bank-bank konvensional memang mendatangkan bunga. Namun sebesar apapun nominal bunga yang didapat, tetap saja lebih besar dosa yang harus ditanggung.

Dari Abdullah bin Hanzhalah s bahwasanya Rasulullah ﷺ telah bersabda, “Satu dirham harta riba yang dimakan oleh seseorang, padahal ia tahu bahwa harta tersebut riba, adalah lebih besar dosanya dari 36 kali berzina.” (HR. Ahmad dan AthThabarani)

Dari Bara’ bin Azib bahwasanya Nabi ﷺ bersabda, “Riba itu ada 72 pintu. Dosa pintu riba yang paling ringan adalah seperti dosa seorang laki-laki yang menzinahi ibunya sendiri…” (HR. Ath-Thabarani)

Meski secara sanad lemah, namun kedua hadits di atas memiliki riwayat penguat dari hadits Abdullah bin Salam, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas’ud, Abu Hurairah, Wahb bin Aswad, dan Aisyah radhiyallahu ‘anhum. Sehingga hadits tersebut dishahihkan oleh Al-Hakim, Al-Mundziri, Al-Iraqi, Ibnu Hajar Al-Asqalani, As-Sakhawi, As-Suyuthi, Az-Zabidi, dan Al-Albani.

Hadits-hadits di atas menggambarkan dosa riba itu jauh lebih besar dari manfaat duniawinya.

INVESTASIKAN DI JALAN HALAL

Bisnis bank konvensional adalah mencari laba dari dana yang dititipkan nasabah kepadanya dengan meminjamkannya kepada pihak-pihak yang mengelolanya dalam beragam bentuk usaha. Para pengusaha besar dan para konglomerat kafir merupakan pihak yang paling banyak menggunakan dana yang tersimpan di bank-bank.

Dana yang ditarik nasabah muslim dari bank-bank konvensional bisa diinvestasikan dalam bidang-bidang usaha yang halal. Misalnya, dengan memberikan pinjaman lunak tanpa bunga kepada para pedagang kecil pribumi dan pengusaha kecil pribumi. Selain dana tersebut akan aman, hal itu juga berarti membantu perekonomian sesama muslim yang membutuhkan. Hal itu jelas bermanfaat secara luas bagi umat Islam. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman, “Dan tolong-menolonglah dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan aniaya!” (QS. Al-Maidah [5]: 2)   

Wallahu a’lam. []

%d bloggers like this: