Tata Cara Ruku’

Cara Ruku'

إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ

“Sesungguhnya Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya ketika memulai sholat (yakni ketika takbiratul ihram), ketika takbir untuk ruku’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tata Cara Ruku’

POSISI TANGAN KETIAK RUKU’

Ruku’ merupakan salah satu gerakan dalam shalat, manakala dalam shalat kita tidak melaksanakan ruku’ maka shalat tidak sah. Adapun tatacara ruku’ yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW ialah sebelum ruku’ hendaknya mengangkat kedua tangan setinggi bahu, kemudian mengucap takbir. Hal ini sebagaimana sabda beliau,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا

“Sesungguhnya Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya ketika memulai sholat (yakni ketika takbiratul ihram), ketika takbir untuk ruku’, dan begitu juga ketika mengangkat kepala dari ruku’, beliau juga mengangkat kedua tangannya seperti itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

PANDANGAN MATA

                Tatkala kita ruku’, ke arah manakah seharusnya pandangan mata kita? Apakah harus memandang di tengah-tengah antara dua kaki atau melihat ke arah tempat sujud?

Pada dasarnya pandangan mata ketika shalat ialah ke arah tempat sujud, sebagaimana pendapat kebanyakan para ulama. Para ulama ahli fikih dari madzhab Hanafi, Syafi’I dan Hambali berpendapat bahwa hendaknya orang yang shalat memandang ke arah tempat sujud. (Al-Mughni, Abu Muhammad Abdullah Bin Ahmad Bin Muhammad Ibnu Qudamah al-Hanbali al-Almaqdisi, 1/ 370)

Akan tetapi, mereka mengecualikan ketika tasyahud. Adapun ketika tasyahud, maka pandangan matanya ke arah jari telunjuk. Rasulullah bersabda,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَعَدَ فِي التَّشَهُّدِ وَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ لَا يُجَاوِزُ بَصَرُهُ إِشَارَتَهُ

Sesunguhnya Rasulullah SAW saat duduk tasyahud maka beliau meletakkan telapak tangan kiri diatas paha kirinya serta menunjuk dengan jari telunjuknya, pandangannya tak pernah melebihi telunjuknya. (HR. Nasai)

Pandagan mata ketika ruku’ ialah memandang tepat ke arah depan ketika ia dalam posisi ruku’. Hal ini disimpulkan dari hadits Rasulullah SAW,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَسْتَفْتِحَ الصَّلاَةَ بِالتَّكْبِيْرِ وَالْقِرَاءَةَ بِالْحَمْدِ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُصَوِّبْهُ وَلَكِنْ بَيْنَ ذٰلِكَ

Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam memulai shalat dengan membaca takbir dan memulai membaca ayat dengan Alhamdulillahirobbil’aalamiina. Apabila beliau ruku’, beliau tidak meninggikan kepalanya (mendongakkan kepala) dan tidak pula merendahkannya (merundukkan kepala), melainkan pertengahan antara keduanya (datar). (HR. Muslim)

Syaik Muhammad bin Shalih al-Utsaimin juga menjelaskan, bahwa posisi rukuk ialah punggungnya lurus sama rata, kepala tidak terlalu merunduk atau mendongak. (Syarhul Mumti’, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 3/ 90)

Maksudnya ialah posisi kepala lurus dengan punggunnya sehingga pandangan matanya di tanah yang ada di hadapan matanya.

                Imam Ahmad berkata: “apabila seseorang ruku’, hendaknya memegang kedua lututnya, merenggangkan jari-jarinya dan menahan dengan siku dan jari, meluruskan punggungnya dan tidak boleh mengangkat kepala atau merendahkannya.” (Al-Mughni, Abu Muhammad Abdullah Bin Ahmad Bin Muhammad Ibnu Qudamah al-Hanbali al-Almaqdisi,  1/576)

Diantara tata cara ruku’ yang benar adalah meluruskan punggung dan lehernya, karena Nabi n jika beliau ruku selalu meluruskan punggungnya dan tidak mengangkat kepala atau menurunkannya sehingga apabila ada air yang ditaruh diatasnya, maka air itu tenang dan  tidak akan tumpah. Demikian juga seseorang apabila ruku’ hendaklah meluruskan punggungnya dari kepala hingga pantatnya, dan sunnah yang demikian telah disepakati oleh para Ulama. (Lihat, Mausu’ah fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 11/ 355)

DOA RUKU’

                Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada umatnya tentang doa ketika ruku’. Diantara doa-doa yang telah diajarkan oleh beliau adalah,

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم فَكَانَ يَقُوْلُ فِى رُكُوْعِهِ سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ

Dari Hudzaifah berkata: ”Aku shalat bersama Rasulullah saw , ketika ruku’ beliau membaca:

سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ

“Maha Suci Allah ,Tuhanku Yang Maha Agung.” (HR. Muslim)

Doa di atas dibaca sebanyak tiga kali.

Atau membaca bacaan tasbih yang tidak dibatasi jumlahnya dalam ruku’ dan sujud.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ فِى رُكُوْعِهِ وَسُجُوْدِهِ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْلِى

Dari Aisyah ra berkata: “Adalah Nabi n ketika ruku’ dan sujud membaca bacaan:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْلِى

“Maha Suci Engkau ya Allah Tuhan kami , segala puji hanya bagi-Mu, maka ampunilah aku.”(HR. Bukhari)

KETIKA I’TIDAL TANGAN DIANGKAT ATAU TIDAK?

Bagi orang yang shalat, ketika ia bangun dari ruku’ hendaknya mengangkat kedua tangannya seraya berkata “sami’allahu liman hamidah”. Rasulullah SAW bersabda,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ فِي الصَّلَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يَكُونَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ وَكَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ حِينَ يُكَبِّرُ لِلرُّكُوعِ وَيَفْعَلُ ذَلِكَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ وَيَقُولُ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ وَلَا يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ

dari Abdullah bin ‘Umar h berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW apabiila berdiri untuk shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan pundaknya. Beliau juga melakukan seperti itu ketika takbir untuk rukuk dan ketika mengangkat kepalanya bangkit dari rukuk dengan sambil mengucapkan: ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya) ‘. Namun beliau tidak melakukan seperti itu ketika akan sujud.” (HR. Bukhari dan Muslim)

POSISI TANGAN SETELAH BANGKIT DARI RUKU’

                Dalam masalah posisi tangan setelah bangkit dari ruku’, para ulama ahli fikih berbeda pendapat. Ada dua pendapat di kalangan ulama ahli fikih dalam masalah ini,

pertama, Qabdh (sedekap, tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri), sehingga sama dengan posisi tangan ketika berdiri sebelum rukuk.  Ulama yag berpegang dengan pendapat ini berdalil antara lain dengan hadits seorang sahabat yang bernama Wa’il ibnu Hujr z yang menerangkan tata cara shalat Nabi n. Wa’il z menyebutkan,

 كَانَ إِذَا قَامَ فِي الصَّلاَةِ قَبَضَ عَلَى شِمَالِهِ بِيَمِيْنِهِ

 “Sesungguhnya, ketika berdiri dalam shalat, Nabi n memegang lengan kirinya dengan lengan kanannya (bersedekap).” (HR. al-Baihaqi dan ath-Thabarani)

Menurut pendapat pertama ini, bersedekap di saat berdiri bersifat umum, baik sebelum rukuk maupun setelahnya. Pendapat ini yang di pilih oleh syaikh Abdullah bin Baz. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, 11/ 131-132)

Kedua, Irsal (kedua tangan dilepas di samping badan, tidak bersedekap).  Alasannya, tidak ada dalil dari as-Sunnah yang secara jelas menunjukkan qabdh ketika berdiri i’tidal.  Adapun hadits Wail z yang dijadikan sebagai dalil qabdh, sama sekali tidak menunjukkan qabdh yang dikehendaki (yaitu qabdh setelah rukuk), karena qabdh yang ada dalam hadits Wail adalah sebelum rukuk. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh syaikh al-Albani. (Lihat, Tanbihat ‘Ala Risalati al-Albani fi ash-Shalat, Hamud bin Abdullah, 12)

baca juga: TASYAHUD

Imam Ahmad berkata: “apabila seseorang telah mengangkat kepalanya dari ruku’ (I’tidal), maka dia boleh irsal (kedua tangan dilepas di samping badan, tidak bersedekap) atau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya (Qabdh). (Al-Inshaf, Ali bin Sulaiman al-Mardawi, 2/ 63) .[]

 

# tata cara Ruku’ # tata cara Ruku’ # tata cara Ruku’ # tata cara Ruku’ # tata cara Ruku’ #

%d bloggers like this: