Rukhshah,

Rukhshah

Rahmat Allah bagi Hamba-Nya

(bagian 2 habis)

المَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ

“Kesulitan menyebabkan adanya kemudahan”

Pada bagian terdahulu telah dijelaskan bahwa kaidah di atas mempunyai dua kata kunci, yaitu masyaqqah dan taisir. Pembahasan masyaqqah (kesulitan) telah dipaparkan pada edisi sebelumnya. Di edisi ini akan dibahas kata kunci kedua yaitu taisir.

Sebab-sebab adanyaTaisir

Taisir (kemudahan) sering juga disebut dengan rukhshah (keringanan) oleh fuqaha. Keberadaan taisir sangat berkaitan dengan adanya masyaqqah. Ini karena hubungan antara taisir dan masyaqqah adalah hubungan sebab-akibat. Taisir tidak akan diberikan kecuali tatkala seorang mukallaf telah mengalami suatu masyaqqah.

Lantaran masyaqqah (kesulitan) lebih bersifat abstrak dan sulit untuk diukur, maka fuqaha kamudian menetapkan beberapa kondisi yang dikategorikan sebagai bagian dari masyaqqah. Kondisi-kondisi tersebut, yaitu:

  • Safar

Safar dalam terminologi syariat adalah melakukan perjalanan menuju tempat tertentu yang jaraknya ditentukan oleh syariat. Jarak tersebut disebut oleh fuqaha sebagai jarak safar, yaitu sejauh 86 km menurut jumhur fuqaha.

Taisir yang diberikan syariat bagi siapa saja yang menempuh jarak safar diantaranya adalah: mengqashar atau menjama’ shalat, berbuka atau menunda pelaksanaan shaum, mengusap sepatu atau kaos kaki lebih dari sehari semalam, dll (As-Sadlan, Al-Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa Ma Tafarra’a ‘Anha, h. 238-239)

  • Sakit

Kondisi kedua yang menyebabkan adanya taisir adalah sakit. Sakit adalah kondisi tubuh yang di luar ambang batas biasa atau normal. Keringanan yang diberikan syariat bagi orang yang sakit, diantaranya ialah: mengerjakan shalat fardhu dengan duduk, berbaring, atau dengan isyarat, berbuka shaum atau tidak mengerjakan shaum dan menggantinya dengan membayar fidyah bagi yang sakitnya dinyatakan tidak ada harapan sembuh (ibid).

  • Terpaksa (ikrah)

Maksud dari terpaksa (ikrah) yang disebutkan oleh fuqaha di sini adalah kondisi di mana seseorang melakukan suatu perbuatan bukan karena kerelaannya. Menurut fuqaha, suatu kondisi disebut dengan ‘terpaksa’ jika memenuhi beberapa kriteria, yaitu: (1) adanya ancaman dari orang lain terhadap jiwa, anggota badan, harta, dan kehormatan seseorang, (2) orang yang memaksa mampu melaksanakan ancamannya, (3) orang yang diancam tidak mampu melawan atau terbebas dari ancaman tersebut.

Keringanan yang ditolerir oleh syariat dalam kondisi terpaksa diantaranya adalah: bolehnya menyatakan kata-kata kekufuran; tidak sahnya jual beli, pernikahan, talak, dan muamalah lainnya; atau melakukan sesuatu yang diharamkan lainnya.

  • Lupa

Lupa adalah ketidaktahuan seseorang atas sesuatu yang memang sudah diketahuinya lantaran unsur ketidak sengajaan. Keringanan yang diberikan syariat yang disebabkan oleh lupa diantaranya adalah: tidak batalnya shaum orang yang makan dan minum karena lupa; dan tidak berdosanya orang yang tidak melaksanakan shalat lantaran lupa. Namun dalam kedua kondisi tersebut orang yang lupa saat shaum harus segera menghentikan makan dan minumnya ketika teringat, dan orang yang lupa melaksanakan shalat harus segera mengerjakannya begitu ia teringat.

  • Kebodohan

Fuqaha membagi kebodohan menjadi dua: (1) kebodohan yang tidak bisa ditolerir dan tidak menjadi penyebab taisir, seperti: kebodohan orang kafir yang menyebabkan mereka tidak beriman kepada Allah swt, dan kebodohan terhadap hukum-hukum syariat yang fundamental (seperti: shalat, shaum, zakat, haji); (2) kebodohan yang ditolerir dan menjadi penyebab taisir. Contoh seperti ketidaktahuan mengenai najisnya suatu makanan atau minuman tertentu, membunuh seorang Muslim yang berada di barisan kafir karena menyangkanya orang kafir, dan keputusan seorang hakim berdasarkan persaksian palsu orang yang tidak diketahuinya. Kebodohan kedua inilah yang dimaksud dalam pembahasan ini.

  • Kesulitan (‘usr) dan umumul balwa

Kesulitan (‘usr) adalah kepayahan untuk menjauhi sesuatu. Sementara ‘umumul balwa adalah menyebar dan meratanya suatu mafsadah sehingga sulit untuk dihindari.

Diantara keringanan yang diberikan syariat yang disebabkan kesulitan dan umumul balwa adalah seperti: sahnya shalat seseorang yang pakaiannya sedikit terkena najis yang sulit dihindari, bolehnya istinja’ (bersuci) dengan batu meski tidak menghilangkan seluruh najis, dan bolehnya bagi anak kecil memegang mushaf untuk tujuan belajar.

  • Kekurangan yang bersifal alami

Misalnya adalah: gugurnya kewajiban atas anak-anak, orang gila, dan orang terganggu akalnya; dan gugurnya kewajiban shaum dan shalat bagi wanita haid.

Macam-macam Rukhsah

Dari pengamatan yang mendalam mengenai berbagai wujud pelaksanaan rukhshah yang diberikan syariat, fuqaha kemudian berhasil mengidentifikasi berbagai macam bentuk rukhshah. Macam-macam rukhshah tersebut yaitu (Al-Burnu, Al-Wajiz fi Idhah Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah, h. 229):

  • Rukhshah Isqath

Yaitu keringanan dalam bentuk gugurnya kewajiban melaksanakan suatu ibadah, seperti: gugurnya kewajiban shalat dan shaum bagi wanita haid.

  • Rukhshah Tanqish

Yaitu keringanan berupa pengurangan kuantitas suatu kewajiban, seperti: mengqashar shalat; dan shalat dengan duduk, atau berbaring, atau dengan isyarat bagi yang sakit.

  • Rukhshah Ibdal

Yaitu keringanan dengan mengganti suatu kewajiban dengan kewajiban yang lain, seperti: mengganti wudhu dengan tayammum;

  • Rukhshah Taqdim

Yaitu keringanan dengan mendahulukan suatu kewajiban, seperti: menjama’ taqdim shalat Zhuhur dan Asar di Arafah; mengeluarkan zakat sebelum haul; dan membayar zakat fitri sebelum Ramadhan usai.

  • Rukhshah Ta`khir

Yaitu keringanan dalam bentuk menunda suatu kewajiban, seperti: melakukan jama’ ta`khir shalat Maghrib dan Isya` di Muzdalifah; dan bolehnya menunda mengerjakan shalat bagi orang yang harus menolong orang yang sedang tenggelam.

  • Rukhshah Idhthirar

Yaitu keringanan yang diberikan disebabkan kondisi darurat, seperti: bolehnya meminum khamar atau memakan bangkai saat kondisi darurat.

  • Rukhshah Taghyir

Yaitu keringanan berupa berubahnya bentuk tata cara pelaksanaan suatu kewajiban, seperti: perubahan tata cara pelaksanaan shalat dalam shalat khauf.

Tingkatan Rukhshah

Tatkala seorang mukallaf berada dalam kondisi masyaqqah yang menyebabkan adanya taisir, maka apakah mereka mereka harus mengambilnya? Atau sebaliknya, harus meninggalkannya?

Fuqaha memberikan jawaban detail atas pertanyaan tersebut, yaitu sebagaimana dipaparkan sebagai berikut:

  • Rukhshah yang wajib dikerjakan. Seperti memakan bangkai dalam kondisi darurat, yaitu jika ia tidak memakannya maka ia akan mati.
  • Rukhshah yang sunnah dikerjakan. Seperti mengqashar shalat saat safar, berbuka bagi musafir atau orang sakit yang berat saat melakukan shaum, dan melihat wanita saat khitbah.
  • Rukhshah yang boleh dikerjakan. Seperti, melakukan jual beli salam, perdamaian (ishlah), dan sewa-menyewa.
  • Rukhshah yang lebih diprioritaskan untuk ditinggalkan. Seperti: mengusap khuff, berbuka bagi musafir yang tidak merasa berat, bertayammum namun masih bisa membeli air dengan harga yang normal.
  • Rukhshah yang dimakruhkan untuk dikerjakan. Seperti: mengqashar shalat kurang dari 86 km sebagai bentuk khuruj minal khilaf.

baca juga: Menjunjung Tinggi Syariat Menegaskan Masyaqqah (bagian 1)

Referensi

Al-Burnu, Muhammad Shidqi bin Ahmad. 1404 H/ 1983 M. Al-Wajiz fi Idhah Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah. Beirut: Muassasah ar-Risalah.

As-Sadlan, Shalih bin Ghanim. 1417H. Al-Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa Ma Tafarra’a ‘Anha. Riyadh: Dar Balansiyyah.

Az-Zuhaili, Muhammad Mushthafa. 1427 H/ 2006 M. al-Qawa’id al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatiha fil Madzahib al-Arba’ah. Damaskus: Darul Fikr.

 

Ali Shodiqin

 

%d bloggers like this: