Realita Seputar Udhiyah

Realita Seputar Udhiyah

Hari raya Qurban menjadi hari raya kedua setelah Iedul Fithri. Syiar dalam hari Raya Iedul Adha lebih terasa karena adanya udhiyah, yaitu penyembelihan hewan kurban. Udhhiyah merupakan ibadah bernilai tinggi. Syiar besar umat Islam sekaligus moment saling berbagi dan peduli. Ibadah udhiyah semestinya dilaksanakan dengan ikhlas dan sesuai dengan syariat.

Oleh karenanya, pelaksanaan udhiyah harus benar-benar diperhatikan agar sebisa mungkin dikerjakan secara sempurna. Semain tingginya minat umat untuk berkoban, di sisi lain juga menimbulkan beberapa persoalan yang memerlukan perhatian dan solusi.

Pertama, Banyaknya hewan kurban yang dijual dalam keadaan tidak memenuhi syarat. Hal ini wajar karena kebutuhan (demand) terhadap hewan kurban meningkat. Meskipun harga hewan cenderung naik menjelang Iedul Adha, tapi hal itu tak menyurutkan niat pengkurban untuk membeli. Membeli jauh-jauh hari tidak mungkin dilakukan karena pemeliharaan hewan sangat merepotkan.

Pedagang pun berusaha memenuhi kebutuhan pasar. Sebagian bermain kurang sehat dengan menjual hewan yang tidak layak dikurbankan. Misalnya hewan belum cukup umur atau cacat. Hampir setiap tahun beredar berita tentang banyak jumlah hewan kurban tak layak yang dijual dipasaran. Bagi pembeli yang awam mendeteksi cacat pada hewan barangkali relative mudah, namun tidak demikian halnya dengan menaksir umur hewan. Biasanya pembeli pasrah pada apa yang dikatakan penjual. Disinilah penjual bisa mengelabui pembeli.

Untuk mengatasi hal ini, siapkanlah diri jauh hari sebelum berkurban. Belilah dari penjual yang terpercaya atau mewakilkan orang yang bisa dipercaya untuk membeli hewan kurban. Akan lebih baik pula jika pengkurban juga belajar mengenai ciri hewan yang layak dikurbankan. Pasalnya, kurangnya umur hewan bisa membuat kurban tidak sah menurut mayoritas pendapat ulama.

Kedua, tehnik penyembelihan yang kurang santun. Hal ini hendaknya menjadi perhatian dari panitia kurban. Masih sering ditemukan hewan disembelih dengan cara yang kurang baik. Biasanya, proses tersulit adalah saat menjatuhkan hewan kurban, khususnya sapi. Sering terjadi, ketidaktepatan tehnik menjatuhkan sapi justru membuat sapi mengamuk dan akhirnya diperlakukan kasar agar bisa disembelih.

Masalah pakan hewan juga sering jadi masalah. Biasanya hewan sudah dibeli beberapa hari sebelum hari Ied. Selama kurun waktu itu, hewan biasanya dipelihara oleh panitia kurban. Namun karena bukan peliharaan pribadi, tak jarang hewan sering terlantar, pakan kurang dan tempat tak layak.

Hal ini tentu saja mengurangi keutamaan kurban. Sunahnya, hewan kurban harus diperlakukan dengan baik sebelum disembelih.  Solusinya, panitia kurban harus benar-benar memiliki persiapan matang dan system yang baik dalam menangani hewan kurban. Harus dipastikan hewan kurban terpelihara dengan baik sebelum disembelih. Pada saat menyemblih, panitia semestinya sudah belajar cara menjatuhkan hewan yang praktis dan efektif. Alat-alat yang dibutuhkan juga disiapkan selengkap  mungkin agar pengerjaan bisa cepat. Masalahnya, lambatnya pengerjaan biasanya berimabas pada tertundanya distribusi. Dan tertundanya distribusi mengurangi kualitas daging karena tidak segera diolah dan dibiarkan di udara terbuka.

Jika tidak memungkinkan, panitia bisa mengupah jagal untuk menyembelih dan menangani hewan kurban. Dengan catatan, upah jagal haruslah dari dana panitia, bukan diambil dari daging hewan kurban maupun kulitnya.

Dari Ali bin Abi Thalib, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mengurusi unta-unta qurban beliau. Aku mensedekahkan daging, kulit, dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin). Aku tidak memberi sesuatu pun dari hasil sembelihan qurban kepada tukang jagal. Beliau bersabda, “Kami akan memberi upah kepada tukang jagal dari uang kami sendiri”.”(HR Muslim)

Ketiga, distribusi yang tidak merata. Kasus tidak meratanya pembagian daging kurban bisa menimbulkan dampak serius. Menimbulkan rasa iri dan merasa dikesampingkan. Hal ini tentu berlawanan dengan hikmah pembagian daging kurban yang semestinya mampu menimbulkan rasa ukhuwah dan kebersamaan.

Tidak meratanya distribusi daging kurban dipicu berbagai hal. Di antaranya kurangnya koordinasi antar panitia dalam satu desa atau rukun warga. Area coverage pembagian daging kurban tidak dibagi secara merata. Akibantnya. Sebagian mendapat jatah daging lebih banyak dari yang lain.

Ada baiknya, dalam satu area, panitia kurban saling melakukan koordinasi dalam distribusi daging. Distribusi harus merata dan memprioritaskan orangorang miskin. Jika dalam satu area terjadi surplus daging, hendaknya daging didistribusikan ke daerah lain. Akan lebih baik jika daging diawetkan terlebih dahulu dalam bentuk korned atau abon.

Mengenai hal ini, hadits riwayat Salamh bin al Akwa menjadi dasarnya. Yaitu boleh menyimpan daging kurban melebihi tiga hari. Artinya, jika daging bisa disimpan dan diawetkan, daging masih mungkin didistribusikan ke daerah yang lebih membutuhkan.

Keempat, polemik kulit.

Kulit hewan kurban menjadi polemik karena pengolahannya yang cukup sulit. Mengolah hewan kurban sekaigus memberishkan kulitnya akan memakan waktu lama. Namun jika kulit tidak dibersihkan, tidak layak untuk dipotongpotong dan dibagi. Akhirnya, kulit biasanya hanya dikelupas dan dibiarkan utuh. Sebagian orang berinisiatif menjual kulit dan hasil penjualannya digunakan membeli daging dan disertakan dalam daging kurban untuk dibagikan. Padahal, kulit hewan kurban semestinya tidak boleh dijual oleh pemilik kurban ataupun panitia sebagai wakil pengkurban, menurut jumhur ulama.

Solusinya, panitia bisa memberikan kulit tersebut kepada fakir miskin dan membantu menjualnya. Uang hasil penjualan dibagikan kepada fakir miskin. Hanya saja, akadnya harus urut mulai dari memberikan kepada fakir miskin tertentu, baru kemudian memberikan hasil penjualannya kepada mereka. Bukan langusng menjual dan memberikan hasil penjualannya kepada fakir miskin. Meskipun hasil akhirnya sama, tapi nilai akadnya beda. Cara pertama adalah melakukan akad hibah dan hadiah lalu perwakilan menjualkan. Adapun cara kedua sama saja dengan menjualnya. Wallahua’lam bishawab.

Kelima, tabdzir. Semakin meningkatnya minat umat untuk berkurban, meningkat pula kuantitas daging korban yang dibagikan. Sebagian orang mendapat jatah daging melimpah. meskipun daging bisa disimpan dalam lemari pendingin, tabdzir masih sering terjadi. Daging yang tidak segera tertangani akhirnya membusuk dan dibuang. Atau sudah dimasak tapi karena terlalu banyak akhirnya dibiarkan basi dan dibuang.

Hal semacam ini semestinya tidak boleh terjadi. Tabdzir adalah perbuatan setan. Jika hendak memasak, hendaknya kita memasak secukupnya dan sisanya disimpan. Membuang makanan, apapun bentuknya adalah perbuatan tidak mensyukuri nikmat.

baca juga: Berudhiyah untuk Orang yang Sudah Meninggal

Demikianlah. Meningkatnya minat umat untuk berkurban patut disyukuri. Namun, persoalan-persoalan yang mengiringi juga harus ditangai dengan baik. Dengan begitu, kita berharap semoga ibadah kurban kita dapat terlaksana dengan sempurna. Wallahua’lam bishawab. []

%d bloggers like this: