Qunut Nazilah, Setiap Shalat 5 Waktu

Qunut Nazilah, Setiap Shalat 5 Waktu

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَلْعَنُ رِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَوُا اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Bahwasanya Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melakukan qunut selama satu bulan penuh, (di dalam qunut tersebut) beliau melaknat penduduk marga Ri’lin, Dzakwan, dan ‘Ushayyah yang telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. (HR. Bukhari & Muslim)

APA ITU QUNUT NAZILAH?

Qunut secara istilah ilmu fiqih adalah suatu doa di dalam shalat pada tempat yang khusus dalam keadaan berdiri. (Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Ibnu Hajar al-Atsqalani, 2/568)

Nazilah secara istilah adalah bencana atau musibah yang menimpa kaum muslimin dalam bentuk gempa bumi, banjir bandang, gunung meletus, paceklik panjang, pembantaian, penyerangan orang-orang kafir, penganiayaan, dan lain sebagainya.

Imam an-Nawawi asy-Syafi’i berkata: “Pendapat masyhur yang dipastikan oleh mayoritas ulama adalah apabila kaum muslimin ditimpa sebuah bencana seperti ketakutan, atau paceklik, atau wabah penyakit, atau wabah hama belalang (pada tanaman pertanian), dan semisalnya, disyariatkan untuk melakukan qunut nazilah dalam semua shalat wajib.

Jika tidak terjadi bencana, maka tidak disyariatkan qunut nazilah.” (al-Majmu’ Syarhu al-Muhadzdzab, Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain anNawawi ad-Dimasyqiy, 3/474)

ADAKAH DALIL QUNUT NAZILAH?

Adapun dalil-dalil yang dijadikan dasar adalah hadits-hadits shahih yang telah menegaskan bahwa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan para sahabat melakukan qunut nazilah dalam shalat lima waktu saat terjadi bencana terhadap umat Islam.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَلْعَنُ رِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَوُا اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Bahwasanya Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melakukan qunut selama satu bulan penuh, (di dalam qunut tersebut) beliau melaknat penduduk marga Ri’lin, Dzakwan, dan ‘Ushayyah yang telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. (HR. Bukhari & Muslim)

BACA JUGA:

Dan masih banyak hadits-hadits lain yang menegaskan bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan para sahabatnya melaksanakan qunud nazilah disetiap shalat fardhu ketika kaum muslimin tertimpa musibah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Disunnahkan untuk melakukan Qunut Nazilah ketika ada musibah, dan disunnahkan pula padanya mendoakan kaum muslimin yang sedang diperangi (musuh)” (Majmu’ Fatawa, Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah al-Harani, 21/ 155)

HUKUM-HUKUM BERKAITAN DENGAN QUNUT NAZILAH

Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang amalan ini. Diantaranya,

• Qunut nazilah dilaksanakan dalam shalat lima waktu.

Hal ini berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas, ia berkata,  “Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah qunut selama satu bulan secara terusmenerus pada shalat Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh di akhir setiap shalat, (yaitu) apabila ia mengucap Sami’Allahu liman hamidah di rakaat yang akhir, beliau mendoakan kebinasaan atas kabilah Ri’lin, Dzakwan dan ‘Ushayyah yang ada pada perkampungan Bani Sulaim. Dan orang-orang di belakang beliau mengucapkan amin.” (HR. Abu Daud, Ahmad, Hakim & Baihaqi)

• Qunut nazilah dilaksanakan pada rakaat terakhir shalat wajib.

Yaitu dalam posisi berdiri setelah bangkit dari ruku’ dan membaca doa i’tidal, atau boleh juga dilakukan sebelum ruku’. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. (Asy-Syarhu al-Mumti’ ‘Ala Zadi al-Mustaqni’, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 4/ 18)

• Di anjurkan bagi imam shalat untuk mengeraskan suara saat berdoa Qunut.

Imam an-Nawawi berkata, “Hadits tentang Qunutnya Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ saat dibantainya para pembaca Al Qur’an yang menetapkan bahwa doa Qunut dibaca dengan suara keras pada setiap shalat. Inilah pendapat yang kuat. Adapun pendapat benar tentang hukumnya, disunnahkan membacanya dengan suara keras.” (al-Majmu’ Syarhu alMuhadzdzab, Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain an-Nawawi adDimasyqiy, 3/482)

• Dianjurkan mengangkat kedua tangan dalam doa Qunut.

Hal ini didasari hadits Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Tidak pernah kulihat Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersungguh-sungguh dalam berdoa seperti doanya untuk para Qurra’. Dan pada saat itu aku melihat Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pada shalat Shubuh beliau berdoa Qunut sambil mengangkat kedua tangannya.” (HR. Ahmad, dengan sanad shahih. An-Nawawi berkata, “Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad shahih atau hasan”). (alMajmu’ Syarhu al-Muhadzdzab, Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain anNawawi ad-Dimasyqiy, 3/479)

• Dianjurkan bagi makmum untuk ta’min (mengamini) doa imam pada saat Qunut.

Hal ini berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah qunut selama satu bulan secara terusmenerus pada shalat Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh di akhir setiap shalat. (Yaitu) apabila ia mengucap Sami’Allahu liman hamidah di rakaat yang akhir, beliau mendo’akan kebinasaan atas kabilah Ri’lin, Dzakwan dan ‘Ushayyah yang ada pada perkampungan Bani Sulaim, dan orang-orang di belakang beliau mengucapkan amin. (HR. Abu Daud, Ahmad, Hakim dan Baihaqi)

Ibnu Hajar berkata, “Yang tampak bagiku adalah bahwa Qunut Nazilah dilakukan pada saat I’tidal bukan saat sujud, walaupun memang doa saat sujud lebih besar kemungkinan untuk dikabulkan. Sebagaimana ditetapkan hadits, ‘Seorang hamba berada paling dekat dengan Rabb-nya pada saat ia sedang bersujud’. Dan juga ditetapkan dari dalil-dalil yang ada bahwa wajib bagi makmum untuk mengikuti imam dalam doa Qunut, juga jika dengan ta’min. Oleh karena itu, disepakati bahwa pembacaan doa Qunut ialah dengan suara keras.” (Fathul Bari, Ibnu Hajar al-Atsqalani, 2/570)

• Tidak disyariatkan mengusap wajah setelah selesai berdoa.

Hal ini dikarenakan riwayat yang menjelaskan tentang mengusap wajah setelah berdoa derajatnya dhaif dan tidak bisa dijadikan hujjah. Al-Baihaqi berkata, “Adapun mengusap wajah setelah selesai berdoa Qunut, aku tidak mendapatkan ada ulama Salaf yang berpendapat demikian dalam doa Qunut. Namun hal ini diriwayatkan sebagian Salaf dalam doa di luar shalat. Dan hadits Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tentang mengusap wajah derajatnya dhaif. Memang hal ini telah dilakukan sebagian salaf di luar shalat, tetapi di dalam shalat tidak ada hadits shahih, ataupun atsar maupun qiyas yang mendasarinya. Dan yang lebih baik adalah tidak melakukannya dan mencukupkan diri pada apa yang diterapkan para salaf g, yaitu mengangkat tangan tanpa mengusap wajah setelahnya. Wabillahit Taufiq” (Sunan Baihaqi, Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin Ali bin Musa alKhusrauijrdi al-Khurasani al-Baihaqi, 2/212)

Imam Nawawi telah menjelaskan kedhaifan riwayat tentang mengusap wajah setelah doa dalam shalat, kemudian berkata, “Al-Baihaqi memiliki tulisan yang terkenal yang ia tulis untuk Syaikh Abu Muhammad al-Juwaini. Ia telah membantah semua hal tentang mengusap wajah setelah Qunut.” (al-Majmu’ Syarhu al-Muhadzdzab, Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain an-Nawawi ad-Dimasyqiy, 3/480)

Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun tentang mengusap wajah dengan kedua tangan tidak ada dalilnya kecuali satu atau dua hadits yang tidak dapat dijadikan hujjah (karena dhaif).” (Majmu’ Fatawa, Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah al-Harani, 22/519)

• Sebaiknya seorang mu’min mengikuti imamnya dalam memutuskan berqunut atau tidak.

Bila imam berqunut maka ma’mun mengikutinya berqunut. Jika imam tidak berqunut, maka begitu pula makmun. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Sesungguhnya seorang imam diangkat untuk diikuti”. Beliau juga bersabda, “Jangan kalian menyelisihi imam kalian”. Juga sabda beliau yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari, “Shalatlah kalian bersama imam. Jika shalatnya imam benar, pahalanya untuk dia dan untukmu. Jika shalatnya imam salah, pahalanya untukmu dan dosanya untuk dia.” (Majmu’ Fatawa, Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah al-Harani, 23/115116) Wallahu a’lam. []

 

%d bloggers like this: