Puasa Syawal, Haruskah Berturut-turut?

Puasa Syawal, Haruskah Berturut-turut?

Setelah berpuasa Ramadhan, kaum muslimin dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnahy setelahnya, yaitu puasa Syawal selama 6 hari. Apakah puasa tersebut harus dikerjakan langsung setelah hari raya? Dan harus berturut-turut, tidak boleh terputus? Para ulama telah menjelaskan permasalahan tersebut.

Madzhab yang Menganjurkan

Imam an-Nawawi (631-676 H) salah satu rujukan kaum muslimin dari madzhab Syafi’i menulis,

قَالَ أَصْحَابُنَا يُسْتَحَبُّ صَوْمُ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ ، لِهَذَا الْحَدِيثِ قَالُوا وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَصُومَهَا مُتَتَابِعَةً فِي أَوَّلِ شَوَّالٍ فَإِنْ فَرَّقَهَا أَوْ أَخَّرَهَا عَنْ شَوَّالٍ جَازَ

“Sahabat-sahabat kami berpendapat, ‘Dianjurkan puasa 6 hari di bulan Syawal.’ Untuk hadits ini (hadits puasa Syawal) mereka berkata, ‘Dianjurkan untuk berpuasa Syawal secara berturut-turut di awal bulan Syawal (satu hari setelah hari raya). Namun apabila dikerjakan secara terputus-putus (tidak berturut-turut) dan mengakhirkannya di bulan Syawal diperbolehkan.’,” (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Abu Zakaria Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi, 6/ 379)

Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah al-Hambali (541-629 H) salah seorang rujukan utama kaum muslimin dari madzhab Hambali yang lebih dikenal dengan Ibnu Qudamah menulis,

فَلَا فَرْقَ بَيْنَ كَوْنِهَا مُتَتَابِعَةً أَوْ مُتَفَرِّقَةً فِي أَوَّلِ الشَّهْرِ أَوْ فِي آخِرِهِ لِأَنَّ الْحَدِيْثَ وَرَدَ بِهَا مُطْلَقاً مِنْ غَيْرِ تَقْيِيْدٍ.

“Tidak ada bedanya antara berpuasa secara bersambung atau terpisah-pisah di awal atau di akhir bulan Syawal, karena hadits tentang puasa Syawal sifatnya umum, tidak mengikat,” (Al-Mughni, Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah al-Hambali, 3/ 112)

Syaikh Abdullah bin Abdulaziz bin Baz yang dikala hidupnya pernah menjadi mufti kerajaan Saudi Arabia pernah ditanya, apakah puasa Syawal harus dikerjakan secara berturut-turut atau boleh terputus-putus, berliau menjawab,

صِيَامُ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ سُنَّةٌ ثَابِتَةٌ عَن رَسُوْلِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَيَجُوْزُ صِيَامُهَا مُتَتَابِعَةً وَمُتَفَرِّقَةً ؛ لِأَنَّ الرَّسُوْلَ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَطْلَقَ صِيَامَهَا ولَمْ يَذْكُرْ تَتَابُعاً وَلَا تَفْرِيْقًاً ، حَيْثُ قَالَ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتّاً مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ أَخْرَجَهُ الْإِمَامُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيْحِهِ

“Puasa 6 hari di bulan Syawal merupakan sunnah yang benar-benar datang dari Rasulullah n, boleh mengerjakannya secara bersambung atau terpisah-pisah. Sebab Rasulullah menyebut puasa pada 6 hari itu secara umum dan tidak menyebutkan harus dikerjakan secara bersambung atau boleh terpisah-pisah. Rasulullah n bersabda, ‘Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa Syawal 6 hari, maka seperti puasa sepanjang masa.’ Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya. (Majmu’ Fatawa, Abdullah bin Baz, 15/ 391)

Madzhab yang Memakruhkan

Abu al-Walid Sulaiman bin Khalaf al-Baji (403-474 H) salah satu ulama besar madzhab Maliki di dalam kitab al-Muntaqa Syarh al-Muwatha’ menulis,

إنَّ صَوْمَ هَذِهِ السِّتَّةِ الْأَيَّامِ بَعْدَ الْفِطْرِ لَمْ تَكُنْ مِنْ الْأَيَّامِ الَّتِي كَانَ السَّلَفُ يَتَعَمَّدُونَ صَوْمَهَا. وَقَدْ كَرِهَ ذَلِكَ مَالِكٌ وَغَيْرُهُ مِنْ الْعُلَمَاءِ، وَقَدْ أَبَاحَهُ جَمَاعَةٌ مِنْ النَّاسِ وَلَمْ يَرَوْا بِهِ بَأْسًا، وَإِنَّمَا كَرِهَ ذَلِكَ مَالِكٌ لِمَا خَافَ مِنْ إلْحَاقِ عَوَامِّ النَّاسِ ذَلِكَ بِرَمَضَانَ وَأَنْ لَا يُمَيِّزُوا بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ حَتَّى يَعْتَقِدُوا جَمِيعَ ذَلِكَ فَرْضًا

“Sesungguhnya para salaf tidak pernah menyengaja untuk berpuasa Syawal enam hari setelah hari raya (langsung tanpa jeda). Imam Malik dan beberapa ulama selain beliau telah memakruhkannya. Ada beberapa ulama yang membolehkannya dan menganggap hal tersebut (puasa Syawal langsung pada tanggal 2 Syawal) tidaklah mengapa. Sesungguhnya Imam Malik memakruhkannya karena khawatir kalau menyambung puasa Ramadhan dengan puasa Syawal akan membuat orang-orang awam menganggapnya adalah sebuah kewajiban.” (Al-Muntaqa syarh al-Muwatha’, Abu al-Walid Sulaiman bin Khalaf bin Sa’ad bin ayyub al-Qurthubi al-Baji al-Andalusi al-Maliki, 2/ 76)

Zainuddin bin Nujaim al-Hanafi (w 970 H)salah satu ulama madzhab Hanafi menulis,

وَيُكْرَهُ صَوْمُ سِتَّةٍ من شَوَّالٍ عِنْدَ أبي حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى مُتَفَرِّقًا كَانَ أو مُتَتَابِعًا وَعَنْ أبي يُوسُفَ كَرَاهَتُهُ مُتَتَابِعًا لَا مُتَفَرِّقًا لَكِنْ عَامَّةُ الْمُتَأَخِّرِينَ لم يَرَوْا بِهِ بَأْسًا

“Imam Abu Hanifah memakruhkan puasa syawal enam hari, baik dikerjakan secara berturut-turut atau terpisah-pisah. Sedangkan Abu Yusuf memakruhkan puasa syawal yang dikerjakan berturut-turut, dan tidak mengapa bagi yang mengerjakan secara terpisah-pisah. Hanya, para ulama madzhab Hanafi secara umum berpendapat bahwa melaksanakan puasa Syawal tidaklah mengapa.” (al-Bahru ar-Raiq, Zainuddin bin Nujaim al-Hanafi, 2/ 278)

 

baca juga: Shiyam Syawal sebelum Qadha` Shiyam Ramadhan

Luthfi Fathoni

%d bloggers like this: