Poligami Itu Solusi, Bukan Diskriminasi

poligami itu solusi bukan diskriminasi

Tujuan asal pernikahan adalah untuk memperoleh keturunan, memelihara tabi’at yang ada pada manusia dan meraih ketenteraman serta kebahagiaan dalam dua kehidupan; dunia dan akhirat.

Akan tetapi, seringkali terjadi masalah-masalah rumah tangga yang membuat hubungan pernikahan menjadi tidak harmonis. Problematika dalam rumah tangga tersebut tidak semuanya harus berujung pada perceraian, perceraian adalah solusi ketika tetap dalam akad pernikahan akan menimbulkan mudharat jauh lebih besar ketimbang maslahatnya. Berbicara solusi permasalahan rumah tangga, maka sebenarnya berpoligami adalah salah satunya.

 

BACA JUGA: Menikahi Lima Wanita Atau Lebih Dalam Waktu Bersamaan

 

Di bawah ini gambaran bahwa tujuan syariat poligami adalah solusi terhadap sebagian persoalan dalam rumah tangga serta upaya untuk memelihara kemaslahatannya.

Pertama, berpoligami adalah solusi ketika istri mandul atau menderita suatu penyakit sehingga tidak mampu melayani suaminya, padahal di sisi lain suami mengharapkan lahirnya keturunan yang itu merupakan tujuan asal pernikahan.

Kedua, poligami menjadi solusi ketika istri menderita penyakit yang tak kunjung sembuh yang akibatnya istri tidak mampu menunaikan kewajiban-kewajibannya terhadap suami.

Kondisi seperti ini, adakalanya suami akan memilih jalan perceraian, namun hal itu tidak mencerminkan sikap tanggung jawab seorang Muslim. Adakalanya pula, suami akan memilih jalan berpoligami dan istri pertama tetap berada di bawah tanggung jawabnya. Dari dua solusi ini maka tidak diragukan lagi bahwa memilih jalan berpoligami lebih mulia dan lebih terhormat serta mencerminkan sebagai seorang Muslim yang memelihara kebahagiaan keluarganya.

Ketiga, ketika suami selalu terpelihara kebugarannya dan istri tidak mampu mengimbanginya, baik karena faktor umur atau karena sedikitnya kesempatan melayani suami; yaitu seperti hari-hari haid, nifas, sakit dan lain sebagainya, maka yang paling utama bagi suami dalam kondisi ini adalah bersabar dan memahami keadaan istrinya. Akan tetapi jika tidak mampu bersabar, solusinya adalah berpoligami, sebab tidak mungkin Islam membiarkan umatnya untuk mencari pelampiasan yang diharamkan oleh Allah.

Keempat, istri yang memiliki perangai buruk yang tidak disukai oleh suaminya, baik dari cara dia melayani keluarga maupun dalam hal lain, sementara itu istri tetap merasa membutuhkan peran suami, maka solusinya adalah berpoligami. Allah telah memerintahkan kepada para suami untuk berbuat makruf terhadap istri-istrinya, maka salah satu bentuk kemakrufan yang dapat dilakukan oleh suami adalah dengan berpoligami.

Kelima, terkadang perceraian antara suami istri bukanlah hasil dari keputusan yang matang, dan seorang suami seketika itu juga boleh menikah dengan wanita lain. Jika setelah menikah dengan wanita lain ternyata suami ingin merujuk kembali istrinya maka Islam masih memberi kesempatan untuk itu, yaitu berpoligami. Dengan berpoligami suami tidak perlu menceraikan istri yang kedua.

Keenam, jumlah wanita yang makin hari semakin banyak melebihi jumlah kaum laki-laki. Sebagaimana sabda Rasulullah, “(Di antara tanda-tanda akhir zaman adalah) dan sedikitnya kaum laki-laki, sehingga lima puluh orang wanita hanya terdapat satu orang pengurus (laki-laki) saja.” (HR. Al-Bukhari) Dengan demikian, untuk mendapatkan maslahat dan memenuhi kebutuhan tabiat manusia adalah disyariatkan poligami.

Beberapa hal di atas adalah gambaran bagaimana poligami menjadi solusi kebahagiaan dalam rumah tangga, yang pada intinya syariat poligami adalah untuk menjaga maslahat dan tujuan pernikahan itu sendiri.

Dalam kondisi di atas, menjadi hak seorang suami menikah lagi selama dia memiliki kemampuan untuk mengatur kedua rumah tangga dan menjadi kewajiban seorang istri jika suaminya berpoligami adalah menjaga pergaulan baiknya dengan suaminya.

 

BACA JUGA: Keadilan Dalam Berpoligami

 

Bukan bentuk diskriminasi kaum perempuan, justru sebaliknya, begitu gigihnya Islam mengangkat kehormatan kaum perempuan. Ketika seorang istri merasa lemah dan tidak mampu menjalankan kewajibannya dan ia pun juga tidak sanggup jika harus diceraikan atau hidup menjanda, maka poligami adalah solusi yang sangat tepat. Dengan berpoligami, kekurangan dirinya akan terlengkapi dengan hadirnya istri yang lain dan ia akan tetap menjadi tanggung jawab suaminya, mendapatkan nafkah, jaminan kehidupan, jaminan kesehatan dan lain sebagainya.

Namun demikian, hidup berpoligami tidak semudah yang dibayangkan, secara umum para ulama menyebutkan syarat-syarat berpoligami yaitu: mampu berbuat adil, memiliki kemampuan, tidak melanggar jumlah, dan tidak melanggar wanita-wanita yang haram dinikahi secara bersamaan. Sehingga berpoligami adalah wujud dari rasa ingin membatu, kuat dalam kesabaran dan bertanggung jawab. Wallahu a’lam. [-]

 

Daftar Pustaka:

Jamaluddin Muhammad ‘Attiyah, Nahwa Taf’ili Maqashidi asy-Syari’ah, (4/13).

Nashirah Manshur, Ta’adudu Az-Zaujat Dirasatan Fiqhiyyatan Maqashidiyyatan, hal. 68-71.

https://islamqa.info/ar/10009

 


Baca artikel menarik lainnya disini

 

 

dibuka peluang menjadi agen dikota anda,
info dan pemesanan majalah fikih hujjah
hubungi:

Tlp: 0821-4039-5077 (klik untuk chat)

facebook: @majalah.hujjah

Instagram: majalah_hujjah

%d bloggers like this: