Perbedaan Tata Cara Shalat Wanita

perbedaan tata cara shalat wanita

Pada dasarnya, tidak ada perbedaan cara shalat laki-laki dan perempuan. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits yang masyhur:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّيْ

“Shalatlah kalian, sebagaimana kalian melihat aku mengerjakan shalat.” (HR. Al-Bukhari)

Sabda Nabi di atas belaku secara umum, baik bagi laki-laki maupun wanita kecuali ada dalil yang mengkhususkannya. Oleh karena itu, hendaknya kaum wanita melaksanakan shalat sebagaimana kaum laki-laki melaksanakannya.

Syaikh al-Albani memberi penjelasan terkait hadits di atas, bahwa cara shalat yang telah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ berlaku sama bagi kaum laki-laki dan wanita, kecuali ada dalil yang mengkhususkan gerakan atau cara tertentu bagi kaum wanita. (Al-Albani, Shifatu ash-Shalah, 189)

 

BACA JUGA: Hukum, Bergerak Selain Gerakan Shalat

 

Dalam persoalan ini para ulama fikih menyebutkan beberapa tata cara shalat yang dikecualikan (hanya dilakukan oleh wanita) berdasarkan dalil-dalil seputar shalat. Di antara tata cara tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, bagi kaum wanita tidak disyariatkan mengumandangkan adzan dan iqamah sebelum mendirikan shalat, sehingga kaum wanita tidak perlu mengumandangkannya. Imam Ibnu Qudamah menegaskan bahwa tidak ada perbedaan pendapat para ulama dalam hal ini.

Namun demikian, kaum wanita juga tidak dilarang mengumandangkan adzan serta iqamah selama tidak meninggikan suaranya serta tidak khawatir didengar oleh kaum laki-laki yang akan mengakibatkan timbulnya fitnah. (Ibnu Qudamah, al-Mughni, 1/438. Fatwa Lajnah ad-Daimah, 6/84)

Kedua, aurat wanita yang harus tertutupi adalah seluruh tubuh kecuali wajah, sehingga apabila sebagian auratnya tampak terlihat maka shalatnya tidak dianggap sah, demikian ini adalah pendapat mazhab Hambali seperti yang ditegaskan oleh Ibnu Qudamah dalam kitabnya.

Pada dasarnya, para ulama berbeda pendapat terhadap batasan aurat seorang wanita. Ada yang berpendapat kedua kaki, tumit, dan kedua telapak tangan adalah batasan aurat yang diperselisihkan. Karena alasan perbedaan pendapat inilah para ulama juga berbeda pendapat terhadap anggota tubuh mana saja yang boleh ditampakkan dalam shalat. (Ibnu Qudamah, al-Mughni, 2/328. Al-Utsaimin, asy-Syarhu al-Mumti’, 2/160)

Ketiga, bagi wanita hendaknya merapatkan kedua tangan ke arah tubuh ketika posisi rukuk dan sujud, sebab dengan demikian akan lebih terlindungi. Tidak seperti halnya laki-laki yang dianjurkan untuk merenggangkan jarak antara kedua tangan dengan tubuh ketika rukuk dan sujud. (Ibnu Qudamah, al-Mughni, 2/258)

Imam an-Nawawi menukil sebuah perkataan Imam asy-Syafi’i yang menyatakan bahwa pada dasarnya tidak ada perbedaan antara shalat laki-laki dengan shalat wanita kecuali (bagi wanita) hendaknya merapatkan setiap anggota tubuhnya, yaitu menempelkan kedua tangan dengan perut ketika sujud dan rukuk. (An-Nawawi, al-Majmu’, 3/429)

Keempat, disunahkan berjamaah dengan sesama kaum wanita yang ada di rumahnya, berdasarkan perintah Rasulullah kepada Ummu Waraqah untuk mendirikan shalat berjamaah bersama wanita yang ada di rumahnya. (Ibnu Qudamah, al-Mughi, 2/202)

Jika shalat didirikan secara berjamaah di sekumpulan kaum wanita maka posisi imam berbeda dengan biasa yang dilakukan oleh kaum laki-laki. Posisi imam wanita adalah di tengah shaf pertama. Tujuannya agar lebih tertutup dibandingkan berada di depan shaf jamaah. (Al-Utsaimin, asy-Syarhu al-Mumti’, 4/387)

 

BACA JUGA: Shalat Isbal, Dosa Tapi Tidak Batal?

 

Kaum wanita juga tidak leluasa mengeraskan suara dalam shalat sebagaimana kaum laki-laki. Apabila ia mendirikan shalat di tempat yang jauh dari kaum laki-laki, diperbolehkan mengeraskan suara sekedarnya saja. Dan sebaliknya, jika mengerjakan shalat di tempat yang suaranya akan terdengar oleh kaum laki-laki maka hendaknya memelankan suaranya sebatas apa yang ia dengar untuk dirinya. (An-Nawawi, al-Majmu’, 4/84-85)

Imam an-Nawawi juga menyebutkan bahwa posisi berdiri wanita ketika menjadi makmum tunggal bagi laki-laki adalah di belakangnya, tidak seperti laki-laki yang berdiri di samping imam. (An-Nawawi, al-Majmu’, 4/553)

Kelima, kaum wanita lebih utama mengerjakan shalat di rumah meskipun tidak ada larangan untuk mengerjakannya di masjid selama dalam keadaan aman dari fitnah. Dengan jelas Rasulullah ﷺ bersabda:

صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا

“Shalat seorang wanita di kamar khusus untuknya lebih afdhal daripada shalatnya di ruang tengah rumahnya. Shalat wanita di kamar kecilnya (tempat simpanan barang berharganya, pent.) lebih utama dari shalatnya di kamarnya.” (HR. Abu Dawud).

Beberapa hal di atas adalah perbedaan tata cara shalat wanita dengan tatacara shalat laki-laki, selain beberapa point di atas maka secara umum tidak ada perbedaan antara kaum wanita dengan kaum laki-laki dalam shalat mereka. Wallahu a’lam. [-]

%d bloggers like this: