Peran Niat Dalam Sumpah

Peran Niat dalam sumpah

 النِّيَّةُ  فِي الْيَمِيْنِ تُخَصِّصُ اللَّفْظَ الْعَامَّ وَتُعَمِّمُ اللَّفْظَ الْخَاصَّ

“Niat dalam suatu sumpah dapat mengkhususkan lafal yang umum dan memperumum lafal yang khusus.”

Kedudukan Kaidah

Kaidah ini masih merupakan derivasi (turunan) dari kaidah sebelumnya, yaitu kaidah al-umuru bi maqashidiha  (setiap sesuatu ditentukan oleh niat/tujuannya). Ini karena sumpah merupakan bagian dari perkataan. Sedangkan perkataan merupakan cakupan dari makna al-umur.

Penerapan Kaidah Menurut Empat Madzhab

Fuqaha empat madzhab berbeda pendapat mengenai penerapan kaidah ini. Menurut pendapat fuqaha Hanafiyah yang mu’tabar, niat dapat mengkhususkan lafal yang umum dalam konteks diyanah (urusan yang berkaitan antara seorang hamba dan Rabbnya); namun tidak dalam konteks qadha’ (persoalan hukum peradilan di dunia). Artinya, jika seorang yang melakukan sumpah tadi diadili di pengadilan Islam, maka pengakuan atas niatnya yang mengkhususkan lafal umum sumpah yang dia ucapkan, tidak bisa diterima. (al-Asybah wan Nazha`ir, Ibnu Najim, hlm. 56).

Adapun dalam persoalan memperumum lafal yang khusus dengan niat, terjadi perbedaan pendapat di antara fuqaha mereka. Ada yang menyetujuinya, dan ada juga yang tidak menyetujuinya. Adapun yang rajih menurut fuqaha mereka adalah niat tidak dapat memperumum lafal yang khusus. (al- Wajiz fil Idhahi Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah, Muhammad Shidqi bin Ahmad al-Burnu, hlm. 71-73 )

Menurut fuqaha Malikiyah, niat dalam sumpah dapat mengkhususkan lafal yang umum, dan dapat juga memperumum lafal yang khusus. (al- Wajiz fil Idhahi Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah, hlm. 71; dinukil dari Qawaninul Ahkam asy-Syar’iyyah, hlm. 182-183)

Sementara menurut fuqaha Syafi’iyah, niat dalam sumpah dapat mengkhususkan lafal yang umum, namun tidak bisa memperumum lafal yang khusus. (al-Asybah wan Nazha`ir, as-Suyuthi, hlm. 44). Menurut fuqaha Syafi’iyah, dasar dalam suatu ucapan atau perkataan adalah pada lafalnya, bukan pada niatnya. Niat dapat memberikan pengaruh pada suatu lafal jika memang makna dari niat tersebut menjadi cakupan makna dari lafal tersebut.( al-‘Aziz Syarhul Wajiz, ar-Rafi’i, 12/346 dan Raudhatuth Thalibin wa ‘Umdatul Muftin, an-Nawawi, 11/82).

Adapun fuqaha Hanabilah, mereka sependapat dengan fuqaha Malikiyah. Menurut mereka, niat pada sumpah dapat mengkhusukan lafal yang umum dan dapat memperumum lafal yang khusus. (Taqrirul Qawa’id wa Tahrirul Fawa`id, Ibnu Rajab, 2/579).

baca juga: Peran Niat Dalam Mu’amalah

Ringkasnya, jumhur fuqaha (selain Hanafi) berpendapat bahwa niat pada sumpah dapat mengkhususkan lafal yang umum. Adapun berkaitan dengan persoalan memperumum lafal  yang khusus dengan niat, ada dua pendapat fuqaha: (1) fuqaha Malikiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa niat dapat memperumum lafal yang khusus; (2) sedangkan pendapat rajih (kuat) menurut fuqaha Hanafiyah dan Syafi’iyah bahwa niat tidak bisa memperumum lafal yang khusus. (al- Wajiz fil Idhahi Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah, hlm. 71)

Makna Kaidah

Lafal umum yang dimaksud dalam kaidah ini adalah setiap lafal yang maknanya mencakup seluruh unsur atau elemen dari kata tersebut. Cakupan makna unsur atau elemen tersebut tanpa dibatasi oleh apa pun, dan juga dalam satu konteks penggunaan lafal tersebut.

Contohnya adalah kata ‘seseorang’ yang merupakan terjemahan ‘ahadun’ dalam bahasa Arab. ‘Seseorang’ adalah lafal yang umum karena maknanya bisa mencakup unsur atau elemen yang bisa masuk pada kata ‘seseorang’. Unsur atau elemen tersebut mencakup: laki-laki dan wanita, anak-anak dan dewasa, miskin dan kaya, dan dari manapun asalnya, dll.

Selain berupa kata benda (isim), lafal ‘am dapat juga berupa kata kerja (fi’il). Seperti kata kerja ‘memanfaatkan’ pada kalimat ‘Saya tidak akan memanfaatkan apapun harta miliknya.’ Kata ’memanfaatkan’ di sini mencakup makan, minum, meminjam, dll, dari harta miliknya.

Sedangkan yang dimaksud dengan lafal khash adalah antonim dari makna lafal ‘am, yaitu lafal yang menunjukkan dan terbatas pada satu makna tertentu, atau dibatasi oleh jumlah tertentu.

Contoh lafal khash adalah ‘Muhammad’, ‘orang ini’, dan ‘sepuluh orang’. Kata ‘Muhammad’ dan ‘orang ini’ termasuk khash lantaran hanya menunjukkan dan terbatas pada orang tertentu saja, tidak setiap orang. Sedangkan ‘sepuluh orang’ dibatasi oleh jumlah tertentu.

Jadi yang dimaksud dengan ‘mengkhususkan lafal yang umum’ pada kaidah di atas adalah mengkhususkan atau membatasi lafal ‘am menjadi lafal khash. Seperti menggunakan lafal ‘seseorang’ sementara yang dimaksud adalah “Muhammad.”

Sebaliknya, yang dimaksud dengan ‘memperumum lafal khusus’ adalah memperluas cakupun unsur atau elemen makna suatu lafal. Seperti menggunakan lafal ‘Muhammad’ sedangkan yang dimaksudkan adalah ‘semua orang’.

Kaidah ini lebih sering diterapkan dalam peradilan, yaitu ketika seorang qadhi (hakim) memutuskan apakah seseorang telah melanggar sumpahnya atau tidak, jika lafal sumpah yang terucap dari lisannya berbeda dengan apa yang dia niatkan.

Contoh Kaidah ‘Niat dapat mengkhususkan lafal yang umum’

  • Jika seseorang bersumpah untuk tidak memberikan salam kepada Zaid, misalnya, kemudian orang tadi memberikan salam kepada sekelompok orang yang di dalamnya terdapat Zaid dan mengecualikan salam yang dia berikan tersebut untuk Zaid, maka dia tidak dihukumi telah melanggar sumpahnya. (Taqrirul Qawa’id wa Tahrirul Fawa`id, hlm. 581-2582).
  • Barang siapa yang bersumpah tidak akan berbicara pada seseorang pun, kemudian yang dia maksudkan seseorang tersebut adalah Ahmad, misalnya, maka dia tidak dihukumi melanggar sumpah ketika berbicara dengan orang lain. Dia baru dihukumi melanggar sumpahnya jika dia berbicara dengan Ahmad. Lafal ‘seseorang’ merupakan lafal ‘am yang maknanya bisa mencakup siapa pun. Namun ketika yang dimaksudkan ‘seseorang’ oleh orang yang bersumpah tadi adalah Ahmad, maka niatnya tersebut dapat mengkhususkan lafal ‘am (al-Asybah wan Nazha`ir, as-Suyuthi, hlm. 44).
  • Seseorang yang mempunyai satu orang istri atau lebih yang berkata, “Setiap wanita yang saya nikahi maka dia saya talak”, kemudian yang dia maksudkan pada lafal ‘wanita’ adalah wanita hanya dari daerah tertentu saja, maka pernikahannya tetap berlangsung dengan wanita yang bukan dari daerah yang dia maksudkan. (al- Wajiz fil Idhahi Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah, hlm. 71-72).

Contoh Kaidah ‘Niat dapat memperumum lafal yang khusus’

  • Jika seseorang bersumpah untuk tidak akan minum air dari Mahmud, misalnya, meski saat dia kehausan, sementara yang dia maksudkan adalah menghindar dari seluruh harta Mahmud, maka dia dihukumi telah melanggar sumpahnya jika memakan atau meminum apapun dari milik Mahmud. (Taqrirul Qawa’id wa Tahrirul Fawa`id, hlm. 580).
  • Jika seseorang bersumpah bahwa dia tidak akan pernah masuk ke suatu rumah, sementara yang dia maksudkan adalah meng-hijr (mengisolasi) anggota keluarga penghuni rumah tersebut, maka dia tetap dihukumi telah melanggar sumpahnya jika dia masuk ke rumah lainnya yang juga milik anggota keluarga rumah itu. (Taqrirul Qawa’id wa Tahrirul Fawa`id, hlm. 72).
  • Jika seorang suami bersumpah untuk tidak berbicara dengan istrinya, sedangkan yang dia maksudkan adalah meng-hijr (mengisolasi) istrinya, maka dia dihukumi telah melanggar sumpahnya jika dia berhubungan badan (wath`u) dengan istrinya. (Taqrirul Qawa’id wa Tahrirul Fawa`id, hlm. 580). Wallahu A’lam. [Ali Shodiqin]

 

%d bloggers like this: