Peran Akal Dalam Syariat

peran akal dalam syariat

Dalam Islam, akal memiliki posisi yang sangat mulia. Akal dapat digunakan untuk memahami nash-nash syar’i dan istimbat al-ahkam (mengambil kesimpulan hukum). Meski demikian, bukan berarti akal diberi kebebasan tanpa batas dalam memahami syariat. Islam menempatkannya sebagaimana mestinya. Kendati demikian, akal yang sehat akan selalu cocok dengan syariat Islam dalam permasalahan apa pun. Meskipun, dalam beberapa madzhab terdapat perselisihan tentang peran akal terhadap hukum syar’i.

Madzhab Mu’tazilah berpendapat bahwa hukum syar’i ditetapkan berdasarkan nalar akal, baik dan buruknya. Menurut mereka, setelah akal menalar mana perbuatan baik dan mana perbuatan buruk, maka akal dapat (menetapkan) menghalalkan perbuatan itu atau mengharamkannya. Wahyu yang Allah turunkan hanya sebagai penjelas, bukan sebagai ukuran baik atau buruknya perbuatan hamba. Konsekuensi logis pendapt ini, hukuman dan pahala bagi manusia telah berlaku meskipun belum diutus seorang Rasul kepada mereka. [Abdul Aziz bin Abdurrahman, Ilmu Maqashidu asy-Syari’, 94-96].

Sebaliknya, ada sebagian yang berkeyakinan bahwa akal tidak berhak menalar dan menetapkan perbuatan baik dan buruk. Kebaikan adalah mutlak perintah syariat, begitu juga keburukan adalah mutlak larangan syariat, akal tidak mempunyai peran sama sekali dalam hal ini.

Ibnu Taimiyyah berkomentar tentang dua madzhab ini, “Sejatinya kebaikan (menurut syar’i) bukan seperti kebaikan yang mereka maksud, kemungkaran (menurut syar’i) bukanlah seperti kemungkaran yang mereka maksud. Jika Allah berfirman (dalam surat al-A’raf ayat 157), ‘Yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk,’ maka menurut mereka, Allah memerintahkan perbuatan yang mereka (anggap) perintah, dan Allah melarang perbuatan yang mereka (anggap) larangan, Allah menghalalkan apa yang menurut mereka halal dan Allah mengharamkan apa yang menurut mereka haram.” [Ibnu Taimiyyah, Majmu’ Fatawa, 8/433]

Bagi mereka, perintah Allah hanya murni iradah (keinginan), bukan untuk sebuah hikmah atau kemaslahatan hamba-Nya. Ini adalah pendapat madzhab Asy’ari.

Adapun Ahlu Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa dalam perbuatan hamba ada sifat yang mampu dinalar kebaikan dan keburukannya. Namun, nalar kebaikan dan keburukan itu tidak dapat menetapkan sebuah hukum syar’i; ia hanya ditetapkan karena adanya wahyu yang Allah turunkan. [Abdul Aziz bin Abdurrahman, Ilmu Maqashidu asy-Syari’, 96-97].

Ahlu Sunnah sependapat dengan madzhab Asy’ari dalam hal penetapan hukum syar’i setelah turunnya wahyu, namun tidak sependapat dalam penghilangan peran akal untuk menalar kebaikan dan keburukan. Bagaimanapun juga, nalar yang baik dapat melahirkan keseimbangan dalam memahami syariat sesuai maksud Allah dan Rasul-Nya.

Ahlu Sunnah juga sependapat dengan madzhab Mu’tazilah soal perbuatan hamba yang mampu dinalar kebaikan dan keburukannya, akan tetapi tidak sependapat bahwa penetapan hukum syar’i hanya melalui nalar tersebut dan menghilangkan fungsi wahyu Allah.

Semua nash al-Qur’an yang Allah turunkan pasti memiliki tujuan dan hikmah. Nash yang bentuknya perintah adalah al-hasan (kebaikan) dan nash yang bentuknya larangan adalah al-qabhu (keburukan). Seperti perintah shalat, di dalamnya banyak manfaat dan kemaslahatan untuk hamba, di antaranya dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Demikian juga dengan larangan mendekati zina, karena zina adalah sumber kerusakan dan kekejian, dan Allah mengharamkan semua bentuk kekejian.

baca juga: Menjunjung Tinggi Syariat Menegaskan Masyaqqah

Banyak sekali firman Allah yang menyebutkan udzur (alasan syar’i) bagi orang yang belum mendapatkan seruan Allah. Di antaranya firman Allah dalam surat al-Isra’ ayat 15, “Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” Maknanya, seorang hamba tidak memiliki beban kewajiban untuk melaksanakan syariat sebelum wahyu sampai kepadanya, serta menunjukkan bahwa hukum syar’i ditetapkan dengan wahyu bukan dengan penalaran akal semata.

Rasulullah bersabda, Tidak ada yang lebih disukai oleh seorang hamba dari Allah melainkan udzur, oleh karenanya Allah mengutus kabar gembira dan peringatan.” Rasulullah menjelaskan bahwa Allah mengutus kabar gembira dan peringatan agar tidak ada udzur bagi manusia untuk menyelisihi perintah-Nya. Sekali lagi, ini menunjukkan bahwa hukum syar’i ditetapkan dengan wahyu, peran akal adalah untuk meraih hikmah dan menjaga keseimbangan dalam memahami nash agar tidak menyelisihi maksud syar’i. Wallahu a’lam.

%d bloggers like this: